BLITAR – Candi Penataran di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, merupakan candi Hindu terbesar di Jawa Timur yang telah berdiri sejak abad ke-13 Masehi. Kompleks candi ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Singhasari hingga Majapahit sekaligus berfungsi sebagai pusat keagamaan, simbol politik, dan mahakarya arsitektur Jawa kuno.
Keberadaan Candi Penataran tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga mencerminkan perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa Timur. Relief-relief yang menghiasi bangunannya menggambarkan kisah epik, ajaran spiritual, hingga simbol-simbol keagamaan yang masih menjadi daya tarik bagi wisatawan dan peneliti.
Hingga kini, kompleks candi tersebut tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling penting di Kabupaten Blitar sekaligus warisan budaya yang terus dilestarikan.
Baca Juga: Kampung Coklat Blitar Bikin Penasaran, Tiket Rp20 Ribu Bisa Lihat Kakao hingga Kolam Koi
Candi Penataran berdiri di kaki Gunung Kelud dengan suasana alam yang masih asri. Lokasinya yang strategis menjadikan kawasan ini sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus bagian penting dari perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Pembangunan candi dimulai pada masa Kerajaan Singhasari sekitar abad ke-13 Masehi dan terus mengalami penyempurnaan hingga masa Kerajaan Majapahit. Proses pembangunan yang berlangsung lintas pemerintahan menunjukkan pentingnya Candi Penataran bagi para penguasa saat itu.
Selain menjadi tempat pemujaan kepada Dewa Siwa, kompleks candi juga digunakan sebagai lokasi pelaksanaan upacara keagamaan dan ritual kerajaan untuk memohon perlindungan serta menjaga keseimbangan alam.
Baca Juga: Etika Kerja Gen Z Jadi Sorotan, Pelaku Usaha Ungkap Tantangan Terbesar Generasi Muda di Dunia Kerja
Keberadaan prasasti di sekitar kawasan candi turut memperkuat bahwa Penataran dibangun sebagai tempat suci yang memiliki fungsi religius sekaligus strategis bagi kerajaan.
Kompleks Candi Penataran terdiri atas sejumlah bangunan utama dan pelengkap yang disusun mengikuti konsep kosmologi Hindu. Tata ruangnya mencerminkan filosofi hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Dinding candi dihiasi relief yang menceritakan kisah-kisah dari epos Ramayana dan Mahabharata, serta berbagai legenda lokal yang mengandung pesan moral dan spiritual. Relief tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi juga menjadi media penyebaran ajaran agama Hindu pada masa itu.
Berbagai simbol Hindu seperti Lingga-Yoni, Makara, dan Kala-Makara juga menghiasi sejumlah bagian bangunan. Simbol-simbol tersebut melambangkan kesuburan, perlindungan, dan kekuatan ilahi yang dipercaya menjaga keseimbangan kehidupan.
Kemegahan arsitektur Candi Penataran menjadi bukti tingginya kemampuan seni pahat masyarakat Jawa Timur pada abad ke-13 Masehi. Detail pahatan yang masih bertahan hingga sekarang menunjukkan kualitas karya yang luar biasa pada zamannya.
Setelah Kerajaan Singhasari berakhir, Kerajaan Majapahit melanjutkan pemeliharaan dan pengembangan Candi Penataran. Kompleks ini menjadi lokasi penting bagi pelaksanaan ritual kerajaan serta simbol legitimasi kekuasaan para raja Majapahit.
Baca Juga: Istana Gebang Blitar, Rumah Masa Remaja Bung Karno yang Menyimpan Jejak Sejarah Sang Proklamator
Dalam perkembangannya, masyarakat juga mengenal berbagai legenda yang mengelilingi kawasan candi, mulai dari kisah roh penjaga, pendeta sakti, hingga cerita mengenai dunia spiritual. Meski demikian, kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat dan berbeda dengan fakta sejarah yang didukung penelitian arkeologi.
Sejak abad ke-19, Candi Penataran mulai diteliti secara serius melalui penggalian arkeologi yang mengungkap berbagai struktur bangunan, prasasti, serta artefak penting. Penelitian modern terus dilakukan untuk memahami teknik pembangunan sekaligus menjaga kelestarian situs bersejarah tersebut.
Saat ini, Candi Penataran menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Jawa Timur. Upaya konservasi terus dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya bersama pemerintah daerah dan masyarakat untuk melindungi bangunan dari ancaman cuaca, lumut, erosi, serta aktivitas wisata yang berpotensi merusak struktur candi.
Pelestarian tersebut diharapkan mampu menjaga Candi Penataran sebagai warisan budaya Nusantara yang tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha