Misteri Candi Penataran Blitar, Relief Letusan Gunung Kelud hingga Patung Mirip Suku Maya Jadi Sorotan

Cecilia Dzakira Pasha • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Candi Penataran di Blitar menyimpan jejak kejayaan masa Hindu di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai kompleks percandian terbesar di wilayah ini, candi ini juga menyimpan relief, arca, dan berbagai kisah sejarah yang masih menjadi daya tarik hingga kini.
Candi Penataran di Blitar menyimpan jejak kejayaan masa Hindu di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai kompleks percandian terbesar di wilayah ini, candi ini juga menyimpan relief, arca, dan berbagai kisah sejarah yang masih menjadi daya tarik hingga kini.

BLITAR – Candi Penataran di Kabupaten Blitar menyimpan berbagai keunikan yang masih menjadi perbincangan, mulai dari relief yang ditafsirkan menggambarkan letusan Gunung Kelud hingga patung dan ukiran yang disebut-sebut memiliki kemiripan dengan kebudayaan suku Maya di Amerika. Kompleks percandian terbesar di Jawa Timur ini juga diyakini memiliki fungsi sebagai sarana mitigasi bencana pada masa lampau.

Terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, sekitar 12 kilometer di utara Kota Blitar, Candi Penataran masih mempertahankan banyak bangunan dan relief yang kondisinya relatif baik. Kompleks candi ini menjadi salah satu peninggalan penting dari masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit.

Selain nilai sejarahnya, sejumlah relief dan ornamen di kawasan candi juga memunculkan berbagai tafsir yang menghubungkan situs tersebut dengan sejarah kebencanaan di Jawa Timur.

Baca Juga: Sejarah Tulungagung Ternyata Lebih Tua dari Majapahit, Jejak Airlangga hingga Prasasti Lawadan 1205 Jadi Kunci Hari Jadi

Candi Penataran memiliki sejumlah bangunan utama yang masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya Pendopo Teras, Candi Angka Tahun, Candi Naga, serta Candi Induk.

Kompleks percandian ini dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan penting pada masa kerajaan Hindu di Jawa Timur. Dalam Kakawin Negarakertagama disebutkan Raja Hayam Wuruk pernah berkunjung ke kawasan ini untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Acalapati, dewa gunung yang dipercaya bersemayam di Gunung Kelud.

Kunjungan tersebut menunjukkan pentingnya Candi Penataran sebagai pusat spiritual sekaligus tempat pelaksanaan ritual keagamaan pada masa Majapahit.

Baca Juga: Pantai Tambakrejo Blitar Terbaru, Ada Ikon Baru, Ikan Bakar Mulai Rp5 Ribu

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah keberadaan Arca Dwarapala di pintu masuk yang disebut memiliki kemiripan dengan ikonografi kebudayaan suku Maya di Amerika.

Selain itu, terdapat ukiran batu yang disebut menyerupai tanaman kaktus, meski tanaman tersebut dikenal berasal dari kawasan Amerika. Beberapa relief juga memperlihatkan sosok prajurit dengan busana yang dinilai mirip kebudayaan Astek atau Maya.

Berbagai kemiripan tersebut memunculkan beragam spekulasi dan menjadi bagian dari misteri yang sering dibahas oleh para pengunjung maupun pemerhati sejarah. Namun, dalam sumber yang menjadi dasar pembahasan, tidak disertakan bukti ilmiah yang memastikan adanya hubungan langsung antara Candi Penataran dengan peradaban di benua Amerika.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dahy, dalam penjelasan yang dikutip pada video menyebut Candi Penataran dibangun sebagai sarana untuk meredakan ancaman letusan Gunung Kelud.

Menurut penafsiran tersebut, masyarakat kuno telah menyadari bahwa mereka hidup di kawasan rawan bencana sehingga membangun tempat suci sebagai bagian dari upaya spiritual menghadapi ancaman alam.

Penafsiran itu didasarkan pada salah satu fragmen relief di teras pertama Candi Induk yang memuat kisah Ramayana dan Kresnayana. Tokoh Rama maupun Kresna digambarkan sebagai penyelamat atau pembebas manusia dari rasa takut dan ancaman bencana.

Baca Juga: Pantai Serang Blitar Makin Mudah Diakses Lewat JLS, Rute Menuju Peh Pulo Tawarkan Panorama Memukau

Dalam relief Kresnayana terdapat adegan api yang menjilat-jilat saat Pertapa membakar Kalayawana beserta pengikutnya. Adegan tersebut ditafsirkan sebagai simbol letusan Gunung Kelud yang pernah mengancam wilayah di sekitarnya.

Keberadaan relief itu memperlihatkan bagaimana karya seni pada masa lampau tidak hanya memiliki fungsi religius, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan mengenai kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan potensi bencana alam.

 

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
Misteri Candi Penataran Relief Candi Penataran candi penataran sejarah blitar gunung kelud