JAKARTA - Gerhana matahari total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari hingga menghalangi cahaya Matahari ke permukaan Bumi. Fenomena ini tidak berlangsung setiap bulan baru karena orbit Bulan dan orbit Bumi mengelilingi Matahari tidak berada pada bidang yang sama.
Gerhana matahari total menjadi salah satu fenomena astronomi yang menarik perhatian ilmuwan dan masyarakat. Peristiwa ini terjadi ketika posisi Bulan, Bumi, dan Matahari berada dalam satu garis lurus.
Saat konfigurasi tersebut terbentuk, Bulan akan menghalangi cahaya Matahari menuju Bumi. Namun, tidak seluruh wilayah Bumi dapat mengalami fase total karena bayangan Bulan yang jatuh ke permukaan Bumi memiliki area yang sangat terbatas.
Baca Juga: Tayo Café Blitar Jadi Pilihan Nongkrong Nyaman, Ada Kopi Kekinian hingga Jus Segar Mulai Rp7 Ribu
Mengapa Gerhana Matahari Tidak Terjadi Setiap Bulan?
Gerhana matahari berkaitan dengan fase Bulan baru yang biasanya terjadi pada akhir atau awal bulan dalam kalender Hijriah. Pada fase ini, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.
Meski demikian, setiap bulan baru tidak otomatis menghasilkan gerhana matahari. Penyebabnya adalah bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi tidak berimpit dengan bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari.
Karena terdapat kemiringan orbit tersebut, posisi Bulan biasanya berada sedikit di atas atau di bawah garis yang menghubungkan Bumi dan Matahari. Gerhana baru terjadi ketika ketiganya berada dalam posisi yang cukup tepat sehingga bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi.
Dalam satu tahun, biasanya terdapat sekitar dua kejadian gerhana Matahari. Namun, sebagian besar merupakan gerhana matahari sebagian dan bukan gerhana matahari total.
Baca Juga: 30 Anak di Kabupaten Blitar Jadi Korban Kekerasan, Kasus Seksual Masih Mendominasi
Diameter Bulan Terlihat Hampir Sama dengan Matahari
Salah satu hal menarik dalam proses gerhana matahari total adalah ukuran tampak Bulan dan Matahari dari Bumi. Diameter Matahari sekitar 400 kali lebih besar dibandingkan diameter Bulan.
Namun, jarak Bumi ke Matahari juga sekitar 400 kali lebih jauh dibandingkan jarak Bumi ke Bulan. Perbandingan tersebut membuat ukuran tampak piringan Bulan dari Bumi dapat terlihat hampir sama dengan piringan Matahari.
Kondisi inilah yang memungkinkan Bulan menutupi piringan Matahari secara penuh ketika terjadi gerhana total.
Meski demikian, bayangan Bulan yang mencapai permukaan Bumi sangat sempit. Dalam transkrip disebutkan, diameter maksimum wilayah totalitas dapat mencapai sekitar 267 kilometer.
Durasi fase total juga terbatas. Gerhana matahari total disebut dapat berlangsung paling lama sekitar tujuh menit di suatu lokasi, meskipun durasinya dapat berbeda bergantung pada posisi pengamat terhadap jalur bayangan Bulan.
Gerhana Matahari Bisa Terjadi Lima Kali dalam Setahun
Jumlah gerhana matahari dalam satu tahun tidak selalu sama. Dalam catatan sejarah sejak kalender Gregorian diperkenalkan, terdapat sejumlah tahun yang mengalami hingga lima kali gerhana matahari.
Transkrip menyebut tahun 1693, 1785, 1805, 1823, 1870, dan 1935 sebagai beberapa contoh. Peristiwa serupa disebut diperkirakan kembali terjadi pada 2206.
Secara umum, terdapat sekitar 240 gerhana matahari dalam kurun satu abad. Namun, angka tersebut mencakup berbagai jenis gerhana, sehingga tidak semuanya merupakan gerhana matahari total.
Gerhana juga tidak terus-menerus kembali ke lokasi yang sama dalam waktu singkat. Berdasarkan materi video, posisi gerhana matahari dapat berulang di wilayah permukaan Bumi yang sama dalam siklus sekitar 375 tahun.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemunculan gerhana matahari total di suatu daerah dipengaruhi oleh kombinasi pergerakan Bumi, Bulan, dan Matahari. Posisi ketiganya harus kembali berada pada konfigurasi tertentu agar jalur bayangan Bulan melewati lokasi yang sama.
Dengan demikian, gerhana matahari total bukan sekadar fenomena ketika Matahari tertutup Bulan. Peristiwa tersebut merupakan hasil dari konfigurasi astronomi yang sangat spesifik, mulai dari fase Bulan baru, kemiringan orbit, hingga posisi Bumi dan Bulan terhadap Matahari.
Source: Youtube/@catatancalondosen88
Editor : Arsya Aulia Velinka Putri