JAKARTA – Asal usul nama Blitar dalam salah satu kisah tutur masyarakat dikaitkan dengan masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Cerita tersebut mengisahkan peran Nila Swarna, pengikut setia Raden Wijaya, yang mendapat tugas membuka hutan di selatan Sungai Brantas sekaligus mengamankan wilayah dari sisa-sisa pasukan Tartar setelah berdirinya Majapahit.
Dalam narasi yang berkembang secara turun-temurun, keberhasilan misi itu dipercaya menjadi awal munculnya nama Blitar. Meski demikian, kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan belum dapat dipastikan sebagai fakta sejarah yang telah diverifikasi.
Kisah bermula pada penghujung abad ke-13 ketika Kerajaan Singhasari runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri. Di tengah kekacauan itu, Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan mulai membangun kekuatan baru.
Baca Juga: Bung Karno Muda Meniti Jalan Perjuangan dari Tulungagung hingga Menjadi Tokoh Bangsa Indonesia
Pada saat yang sama, armada Mongol dari Dinasti Yuan tiba di Jawa atas perintah Kubilai Khan. Awalnya mereka datang untuk menghukum Kertanegara, tetapi situasi politik yang berubah membuat Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan tersebut untuk mengalahkan Jayakatwang.
Setelah Kediri berhasil ditaklukkan, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol. Melalui strategi gerilya, pasukan asing itu berhasil dipukul mundur. Peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak berdirinya Kerajaan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Setelah Majapahit berdiri, Raden Wijaya berupaya mengamankan wilayah kekuasaannya, termasuk kawasan hutan lebat di selatan Gunung Kelud dan Sungai Brantas yang dianggap strategis sekaligus berpotensi menjadi tempat persembunyian musuh.
Baca Juga: Rambut Monte Blitar Jadi Wisata Alam Favorit, Telaga Biru Tosca dan Ikan Dewa Jadi Daya Tarik Utama
Tugas itu diberikan kepada Nila Swarna, seorang pengikut yang dikenal setia, berani, dan memiliki pengalaman dalam peperangan. Ia dipercaya memimpin rombongan untuk membabat hutan, membuka permukiman baru, serta memastikan tidak ada lagi ancaman dari kelompok musuh yang tersisa.
Perjalanan tersebut tidak mudah. Rombongan Nila Swarna harus menghadapi hutan lebat, binatang buas, penyakit, hingga ancaman kelompok yang diduga masih bersembunyi di kawasan tersebut. Berkat kerja keras dan semangat gotong royong, kawasan yang semula berupa belantara perlahan berubah menjadi lahan yang layak dihuni.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, setelah wilayah itu berhasil diamankan, sisa-sisa pasukan Tartar disebut telah "bali" atau kembali meninggalkan kawasan tersebut. Frasa "Bali Tartar" kemudian diyakini berubah pengucapannya menjadi Balitar, sebelum akhirnya menjadi Blitar seperti yang dikenal sekarang.
Atas keberhasilannya, Raden Wijaya menganugerahkan jabatan Adipati kepada Nila Swarna yang kemudian dikenal sebagai Adipati Ario Blitar I. Wilayah yang dibukanya ditetapkan sebagai sebuah kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit.
Dalam narasi tersebut juga disebutkan bahwa sebagian kalangan mengaitkan tanggal 5 Agustus 1324 sebagai hari jadi Blitar, meski keberadaan piagam atau prasasti yang menjadi dasar penetapan itu masih menjadi bagian dari tradisi yang diperdebatkan.
Seiring perjalanan sejarah, Blitar tetap eksis melewati masa Demak, Mataram Islam, Hindia Belanda hingga menjadi bagian dari Republik Indonesia. Kisah mengenai Nila Swarna, Raden Wijaya, serta asal usul nama Blitar terus diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat, meskipun banyak unsurnya berasal dari cerita tutur yang belum sepenuhnya terverifikasi secara historis.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha