Reog Bulkiyo Hadapi Tantangan Regenerasi, Pelestarian Didukung BRIN Jatim

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:15 WIB

LINCAH: Pemain Reog Bulkiyo yang sudah sepuh beratraksi menampilkan gerakan saat kirab Pisowanan Ageng Hari Jadi Ke-702 Blitar, Rabu (5/8).
LINCAH: Pemain Reog Bulkiyo yang sudah sepuh beratraksi menampilkan gerakan saat kirab Pisowanan Ageng Hari Jadi Ke-702 Blitar, Rabu (5/8).

BLITAR KAWENTAR – Kesenian Reog Bulkiyo dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, terus didorong untuk tetap lestari setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Salah satu tantangan yang kini dihadapi adalah regenerasi pemain yang mayoritas sudah berusia sepuh.

Reog Bulkiyo turut ditampilkan dalam kirab Pisowanan Ageng dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-702 Blitar, Rabu (5/8). Penampilan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan kesenian tradisional khas Desa Kemloko kepada masyarakat sekaligus menunjukkan keberadaannya di hadapan Bupati Blitar.

Camat Nglegok Agus Muntalip mengatakan, penampilan Reog Bulkiyo dalam Pisowanan Ageng merupakan kesepakatan para kepala desa dan lurah di Kecamatan Nglegok. Kesenian tersebut dipilih karena telah menjadi ikon Kecamatan Nglegok dan memiliki status sebagai warisan budaya takbenda.

Baca Juga: Jelang POPDA Jatim 2026, Cabor Panahan Kota Blitar Genjot Latihan Tembak Jarak Jauh dan Pendek

Agus menjelaskan, upaya mengenalkan Reog Bulkiyo kini mendapat dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jawa Timur. Dukungan tersebut diarahkan untuk mempromosikan serta mengenalkan kesenian tradisional tersebut ke sekolah-sekolah di Kecamatan Nglegok, terutama di Desa Kemloko.

Pengenalan kepada pelajar dinilai penting sebagai langkah awal regenerasi. Anak-anak tidak hanya dikenalkan dengan pertunjukan Reog Bulkiyo, tetapi juga diharapkan tertarik untuk mempelajari dan melestarikan kesenian tersebut.

"Harapannya tentu agar anak-anak ini tertarik dengan kesenian dan juga untuk regenerasi agar Reog Bulkiyo tetap lestari," tuturnya.

Baca Juga: Lebih Tahu Tentang Komunitas Balap Tamiya di Kota Blitar usai Masuk Naungan IMI-KONI Jadi Cabor Anyar

Perkembangan teknologi dan informasi menjadi salah satu tantangan dalam menjaga minat generasi muda terhadap kesenian tradisional. Agus tidak menampik, saat ini mayoritas pelestari Reog Bulkiyo sudah berusia sepuh sehingga regenerasi menjadi kebutuhan yang harus segera dilakukan.

Karena itu, promosi dan pengenalan kesenian terus dilakukan mulai dari lingkungan desa yang menjadi tempat berkembangnya Reog Bulkiyo. Pemerintah Kecamatan Nglegok bersama pihak terkait berencana mengenalkannya kepada siswa sekolah dasar di Desa Kemloko sebelum diperluas ke lingkup kecamatan.

Baca Juga: Bawa Program POJOK Berdaya, Finalis Raki Jatim 2026 asal Kota Blitar Ini Ingin Dorong Wisata Inklusif

Agus menilai kesenian merupakan bagian dari identitas sebuah bangsa. Reog Bulkiyo sendiri telah menjadi salah satu identitas masyarakat Desa Kemloko sehingga pelestariannya dinilai menjadi tanggung jawab bersama.

Ia berharap generasi muda segera mengambil peran menggantikan para pelestari yang sudah sepuh. Dengan dukungan pemerintah daerah, seniman Reog Bulkiyo juga terus berlatih, membuat perlengkapan dan busana secara swadaya, serta tampil dalam berbagai kegiatan.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga Reog Bulkiyo tetap hidup dan mencegah kesenian yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tersebut mengalami kepunahan.

Editor : Azahra Meilisani Salma
Desa Kemloko Warisan Budaya Takbenda BRIN Jatim Kecamatan Nglegok Reog Bulkiyo