Skin Positivity Jadi Jalan Keluar dari Standar Cantik Kulit Putih, Novitasari Bagikan Tips agar Gen Z Tak Lagi Insecure

M. Luki Azhari • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:58 WIB
Novitasari mengajak Gen Z menerapkan skin positivity dan membangun kepercayaan diri tanpa terpaku pada standar kecantikan kulit putih.
Novitasari mengajak Gen Z menerapkan skin positivity dan membangun kepercayaan diri tanpa terpaku pada standar kecantikan kulit putih.

BLITAR KAWENTAR - Skin positivity mulai menjadi gerakan yang banyak disuarakan di tengah tekanan standar kecantikan yang semakin kuat di era digital. Bagi remaja dan Gen Z di Blitar, tren kecantikan di media sosial dengan tampilan kulit putih, mulus, dan tanpa cela tak jarang memunculkan rasa insecure. Kondisi tersebut membuat sebagian perempuan muda merasa harus memenuhi standar visual tertentu agar mendapat pengakuan sosial.

Namun, skin positivity hadir dengan pandangan berbeda. Gerakan ini mengajak masyarakat menerima keberagaman warna dan kondisi kulit sekaligus membangun rasa percaya diri tanpa harus terjebak pada standar kecantikan yang sempit. Perubahan cara pandang tersebut juga berjalan beriringan dengan gerakan self-love yang semakin banyak muncul di ruang digital.

Standar Cantik Terbentuk dari Konstruksi Sosial

Baca Juga: Etika Kerja Gen Z Jadi Sorotan, Pelaku Usaha Ungkap Tantangan Terbesar Generasi Muda di Dunia Kerja

Novitasari, pengamat sosial sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi FISIP salah satu kampus di Kota Blitar, menilai anggapan bahwa kulit putih merupakan simbol kecantikan bukan sekadar preferensi pribadi. Menurutnya, pandangan tersebut terbentuk melalui konstruksi sosial yang telah berlangsung lama.

Ia menjelaskan, standar kecantikan dapat terbentuk melalui media, iklan, hingga lingkungan terdekat. Mengacu pada Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, sesuatu yang dianggap normal oleh masyarakat sebenarnya dapat merupakan hasil bentukan sosial yang terus direproduksi.

Tekanan untuk mengikuti standar tersebut kemudian dapat memicu insecurity. Dalam kondisi tertentu, perempuan muda bahkan bisa tergoda menggunakan produk kecantikan yang tidak jelas demi memperoleh perubahan secara instan.

Baca Juga: Komunikasi Ringkas Gen Z Kerap Dianggap Tak Beretika, Psikolog Jelaskan Penyebab dan Solusinya

Novitasari juga mengenang pengamatannya ketika masih duduk di bangku SMA sekitar 2016. Saat itu, tren menggunakan produk pemutih kerap dilakukan secara ikut-ikutan. Tujuannya bukan hanya mendapatkan kulit yang lebih putih, tetapi juga agar dapat diterima dalam kelompok pergaulan.

Skin Positivity Mulai Mengubah Cara Pandang

Di tengah kuatnya standar kecantikan konvensional, gerakan self-love dan skin positivity mulai memberikan alternatif. Pesan yang dibawa adalah setiap warna kulit memiliki keindahan dan karakter masing-masing.

Novitasari melihat gerakan tersebut telah memberikan pengaruh positif, terutama di ruang digital. Semakin banyak orang menyuarakan keberagaman warna kulit dan mengajak perempuan untuk tidak menjadikan warna kulit sebagai ukuran utama kecantikan.

Meski begitu, perubahan tersebut belum sepenuhnya menghapus standar lama. Industri kecantikan dan media arus utama masih kerap mempromosikan kulit putih sebagai gambaran ideal. Besarnya pengaruh industri membuat standar tersebut masih terus bertahan di tengah masyarakat.

Cara Gen Z Membangun Percaya Diri

Lantas, bagaimana perempuan muda dapat mendefinisikan kecantikan tanpa terjebak pada persoalan warna kulit?

Baca Juga: Bukan Soal Attitude, Perbedaan Gaya Komunikasi Gen Z Kerap Disalahpahami

Novitasari menyarankan agar Gen Z terlebih dahulu menyadari bahwa standar kecantikan merupakan konstruksi sosial. Artinya, standar tersebut bukan sesuatu yang mutlak dan tidak dapat diubah.

Selain itu, membangun kepercayaan diri juga menjadi bagian penting. Menurutnya, kecantikan tidak semestinya hanya dilihat dari aspek fisik. Kepercayaan diri untuk menunjukkan kemampuan dan prestasi juga menjadi bagian dari kecantikan seseorang.

Gen Z juga disarankan tidak menerima begitu saja standar visual yang ditampilkan iklan di media sosial. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengikuti komunitas maupun akun media sosial yang merayakan keberagaman bentuk dan warna kulit.

Pada akhirnya, self-love dan skin positivity dapat menjadi langkah awal untuk membangun cara pandang yang lebih sehat terhadap kecantikan. Dengan memahami bahwa cantik memiliki banyak bentuk, perempuan muda dapat lebih leluasa mengeksplorasi potensi diri tanpa terus terbebani standar kecantikan yang sempit.

Editor : Regina Gavin Agata
skin positivity standar kecantikan self-love Novitasari Gen Z