BLITAR KAWENTAR – Hamparan tanaman melon di Laboratorium Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Kademangan mulai memasuki masa panen. Budidaya tersebut tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk memahami proses produksi pertanian mulai dari penanaman hingga pemasaran hasil panen.
Panen perdana dimulai Kamis (7/8), setelah tanaman memasuki usia sekitar 65 hingga 75 hari. Sebanyak kurang lebih 400 pohon melon dibudidayakan langsung oleh siswa dengan pendampingan guru selama proses perawatan.
Salah satu siswa yang terlibat, Rita Wulansari, mengatakan seluruh tahapan budidaya dikerjakan oleh siswa. Mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga persiapan panen dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran praktik di sekolah.
"Semua dikerjakan oleh siswa dengan pendampingan guru. Alhamdulillah hasilnya cukup bagus dan mulai dipanen hari ini," ujarnya.
Baca Juga: Lelang Aset Pemkot Blitar Capai Rp52,5 Juta, Besi Bongkaran Pagar hingga Tiang Reklame Ikut Dijual
Setelah dipanen, melon hasil budidaya siswa dipasarkan di lingkungan sekolah. Pembelinya berasal dari guru, alumni, hingga masyarakat sekitar. Melon tersebut dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada siswa tidak hanya dalam bidang pertanian, tetapi juga pemasaran dan perhitungan nilai jual produk. Pengalaman itu diharapkan menjadi bekal bagi siswa ketika memasuki dunia kerja maupun berwirausaha.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat/Hubungan Industrial SMKN 1 Kademangan, Mohammad Taufik Hidayat, menjelaskan budidaya melon merupakan bagian dari program teaching factory yang dikembangkan sekolah.
Program tersebut dirancang agar siswa mendapatkan pengalaman kerja yang mendekati kondisi nyata di lapangan. Selain melon, sekolah juga mengembangkan praktik produksi lain seperti budidaya ayam petelur dan pembesaran ikan nila. Kegiatan tersebut memanfaatkan anggaran Bantuan Presiden (Banpres) Tefa Kolaborasi.
"Anak-anak SMK tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar langsung di kolam, kandang, maupun lahan praktik. Dengan begitu mereka memiliki pengalaman nyata sebelum terjun ke dunia kerja," katanya.
Hasil budidaya melon pada musim tanam pertama dinilai sangat baik. Kualitas buah yang dihasilkan mampu memenuhi harapan sekolah, meskipun biaya produksi masih tergolong tinggi. Berdasarkan perhitungan sekolah, biaya produksi mencapai sekitar Rp22.500 per kilogram.
Meski demikian, sekolah tidak menjadikan keuntungan finansial sebagai tujuan utama. Program tersebut lebih diarahkan untuk memberikan pengalaman lapangan, keterampilan praktik, serta penerapan ilmu pengetahuan kepada siswa.
Baca Juga: Rumah BUMN Blitar Perluas Pasar UMKM di Blitaria Expo 2026, Omzet Jutaan Rupiah per Hari Bikin Kaget
"Kalau dihitung secara bisnis memang biaya produksinya cukup besar. Tetapi output yang kami kejar bukan pendapatan, melainkan pengalaman lapangan, keterampilan praktik, dan penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh siswa selama proses pembelajaran," jelasnya.
Melalui program teaching factory, SMKN 1 Kademangan berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kompetensi praktik dan jiwa kewirausahaan. Pengalaman mengelola budidaya melon sejak penanaman hingga panen diharapkan menjadi bekal bagi siswa menghadapi dunia usaha dan dunia industri. (hai/ady)
Editor : Azahra Meilisani Salma