Barongan Kucingan Ramaikan Alun-Alun Lodoyo, Jadi Identitas Budaya dan Penggerak Ekonomi

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 12:36 WIB
WARISAN BUDAYA: Penari memainkan barongan dengan lincah untuk menghibur warga di Alun-Alun Lodoyo, Sabtu (1/8).
WARISAN BUDAYA: Penari memainkan barongan dengan lincah untuk menghibur warga di Alun-Alun Lodoyo, Sabtu (1/8).

BLITAR KAWENTAR – Dentuman kendang dan gerakan puluhan pembarong menghidupkan kawasan Alun-Alun Lodoyo, Sabtu malam (1/8). Sebanyak 70 pembarong Barongan Kucingan tampil dalam pagelaran kolosal menyambut Hari Jadi ke-702 Blitar.

Ribuan warga memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan kesenian tradisional yang selama ini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Lodoyo. Antusiasme warga membuat suasana kawasan Alun-Alun Lodoyo semakin meriah.

Barongan Kucingan Blitaran memiliki karakter tersendiri. Gerakan para pembarong yang lincah terinspirasi dari tabiat kucing. Karakter tersebut dipadukan dengan topeng kayu khas yang menjadi bagian penting dalam setiap pertunjukan.

Keunikan tersebut membuat Barongan Kucingan tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Kesenian ini juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang di kawasan Blitar selatan.

Baca Juga: Kucurkan Rp 10 Miliar Perbaiki Jalan Blitar Utara, Jalur Blitar-Ngantang Dibuat Lebih Nyaman hingga Akses Wisata

Bupati Blitar Rijanto mengatakan, perkembangan kesenian tradisional di kawasan Lodoyo perlu terus mendapatkan dukungan. Menurutnya, Blitar memiliki potensi budaya yang besar dan telah mendapatkan pengakuan di tingkat nasional melalui sejumlah karya budaya.

"Tradisi dan seni di kawasan Lodoyo ini berkembang sangat pesat. Pemerintah pusat telah memberikan penghargaan WBTB untuk berbagai karya budaya kita, seperti Siraman Gong Kyai Pradah dan Jaranan. Kesenian Barongan Kucingan ini harus terus kita dorong agar terus berkarya dan tidak punah ditelan zaman," ungkapnya.

Menurut Rijanto, pengakuan terhadap sejumlah tradisi Blitar melalui Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) menunjukkan bahwa kebudayaan lokal memiliki nilai penting yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Tak Cuma Belajar di Kelas, Siswa SMKN 1 Kademangan Panen Melon dari Lahan Praktik

Pagelaran budaya juga memberikan manfaat di luar sektor kesenian. Kehadiran ribuan masyarakat di lokasi pertunjukan turut menggerakkan aktivitas ekonomi warga sekitar.

Pedagang makanan, pelaku UMKM, hingga usaha kecil di sekitar kawasan pertunjukan mendapatkan kesempatan memperoleh tambahan pendapatan seiring meningkatnya jumlah pengunjung.

Rijanto menilai kondisi tersebut menjadi efek berganda dari penyelenggaraan kegiatan budaya. Ketika kesenian lokal dikemas dalam pertunjukan yang menarik, masyarakat tidak hanya datang menikmati hiburan, tetapi juga ikut menghidupkan roda ekonomi di sekitar lokasi.

"Dengan adanya kegiatan budaya yang dikemas apik seperti ini, kebudayaan di Blitar selatan makin maju, dan yang tak kalah penting, mendatangkan berkah ekonomi bagi para pelaku UMKM serta pedagang kecil di sekitarnya," pungkasnya. (jar/sub)

Editor : Azahra Meilisani Salma
Alun-Alun Lodoyo hari jadi blitar UMKM barongan kucingan blitar selatan