Mbah Sumarmi, Nenek 93 Tahun Jadi Tulang Punggung Keluarga, Rawat Anak Lumpuh dan Adik Sakit dengan Beternak Kambing

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:15 WIB
FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Kesamben, Radar Blitar 
Di usianya yang telah menginjak 93 tahun, Sumarmi, warga Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, masih menjadi pelindung utama bagi keluarganya. Langkah kakinya mungkin tak lagi secepat dulu, tetapi dia semangat merawat anak sulungnya bernama Heri Eko Supoyo, 53, yang lumpuh, serta sang adiknya, Suprihatin, 74, yang memiliki riwayat sakit kejang.
FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Kesamben, Radar Blitar
Di usianya yang telah menginjak 93 tahun, Sumarmi, warga Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, masih menjadi pelindung utama bagi keluarganya.

BLITAR KAWENTAR - Mbah Sumarmi, nenek berusia 93 tahun asal Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, masih menjalani rutinitas berat demi keluarganya.

Di usia yang hampir mencapai satu abad, Mbah Sumarmi tetap menjadi sosok utama yang merawat anak sulungnya yang lumpuh dan adik perempuannya yang sakit.

Kisah Mbah Sumarmi beberapa hari terakhir mendapat perhatian netizen setelah konten Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur memperlihatkan ketangguhan perempuan lanjut usia tersebut.

Baca Juga: Bantuan Kemensos Tahap 3 Cair Mulai Juli 2026 Ini Cara Cek Status Penerima PKH Dan BPNT Pakai NIK KTP

Di tengah keterbatasan fisik, Mbah Sumarmi tetap menjalankan pekerjaan rumah sekaligus mencari rumput untuk beberapa ekor kambing yang dipeliharanya.

Rutinitas Mbah Sumarmi dimulai sejak pagi. Setelah membersihkan diri, dia memasak dan melayani kebutuhan keluarganya. Setelah semua urusan selesai, barulah dia berangkat mencari rumput di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Merawat Anak yang Lumpuh Lebih dari 10 Tahun

Anak sulung Mbah Sumarmi, Heri Eko Supoyo, 53, telah mengalami kelumpuhan selama lebih dari 10 tahun. Kondisi tersebut terjadi setelah Supoyo terjatuh dari pohon ketika hendak memetik buah.

Baca Juga: Ribuan Perempuan di Blitar Sandang Status Kepala Keluarga, Istri Jadi Tulang Punggung Karena Berbagai Faktor Ini  

Sejak saat itu, Supoyo tidak bisa beraktivitas secara normal dan lebih banyak terbaring. Kondisi tersebut membuat Mbah Sumarmi harus memberikan perhatian dan merawat kebutuhan anaknya setiap hari.

Tidak hanya Supoyo, Mbah Sumarmi juga merawat adik perempuannya, Suprihatin, 74. Sang adik memiliki riwayat sakit kejang serta mengalami gangguan penglihatan sejak lama.

“Saban pagi, setelah dari kamar mandi, saya masak lalu melayani anak-anak. Setelah semuanya selesai, baru saya berangkat mencari rumput. Lalu usai itu, saya mandi dan merawat anak dan adik,” tutur Mbah Sumarmi saat ditemui di rumahnya, Senin (11/8).

Pernah Menjadi Buruh Panggul Sayur

Perjuangan Mbah Sumarmi menjadi tulang punggung keluarga bukan baru terjadi ketika usianya memasuki 90-an. Puluhan tahun lalu, dia harus membesarkan empat anak seorang diri setelah suaminya pergi dan menikah lagi.

Baca Juga: Kijang LGX Bekas 2003 KM 136 Ribu, Kondisi Istimewa Dibanderol Rp74 Juta

Tanpa banyak pilihan, Mbah Sumarmi bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil. Salah satu pekerjaan yang pernah dilakoninya adalah menjadi buruh panggul sayur di pasar.

Pekerjaan tersebut dijalani bertahun-tahun. Bahkan, demi menyambung hidup, Mbah Sumarmi sempat menyewa pondok kecil di desa tetangga.

Kini, meski usia sudah 93 tahun, rutinitas mencari rumput masih dilakukan setiap hari. Rumput tersebut digunakan untuk memberi makan kambing peliharaannya sekaligus membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga: Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Makin Dekat SIK-NG Update SPM KPM Kebanjiran Saldo Susulan Rp600 Ribu

“Saya cari rumputnya tidak berani jauh-jauh, cuma di ladang tetangga sekitar sini. Takut kalau ada apa-apa atau nanti merepotkan orang lain,” ungkapnya.

Mengandalkan Bantuan PKH

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga Mbah Sumarmi juga mengandalkan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah diterima selama beberapa tahun.

Selain bantuan tersebut, anak perempuannya, Poninten, sesekali membantu ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai buruh tebang tebu ketika musim panen tiba.

Mbah Sumarmi tinggal bersama Poninten, menantunya Asmani, serta cucunya Widya Wahyu Mukti Sasongko. Kehadiran mereka menjadi dukungan bagi Mbah Sumarmi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Di tengah kondisi keluarga yang penuh keterbatasan, Mbah Sumarmi masih terlihat relatif bugar. Ketika ditanya mengenai rahasia menjaga kesehatan di usia 93 tahun, dia justru tertawa.

Baca Juga: Kijang LGX Bekas Makin Murah, Ada Unit Tahun 2000 Dijual Rp55 Juta

Dia mengaku tidak memiliki kebiasaan mengonsumsi jamu khusus maupun menjalani suntikan medis. Baginya, menjaga hati tetap senang menjadi salah satu hal penting dalam menjalani kehidupan.

“Tidak ada jamunya sama sekali. Saya tidak pernah suntik atau minum jamu. Jamunya ya hanya senang kalau ada anak-anak dan cucu main ke sini, ajak bercanda dan ngobrol bersama. Yang penting hatinya senang (seneng atine),” pungkasnya. 

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
Desa Pagerwojo Nenek 93 tahun Mbah Sumarmi Kesamben pkh