BLITAR KAWENTAR – Pemanfaatan daun kelor sebagai pangan fungsional menjadi salah satu upaya yang dikembangkan untuk mendukung pencegahan dan pengendalian diabetes melitus.
Tim dosen dan mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan Kediri Poltekkes Kemenkes Malang memberdayakan 50 kader kesehatan di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Program pemberdayaan kader kesehatan melalui pemanfaatan daun kelor tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan kader dalam mengolah daun kelor menjadi makanan dan minuman yang dapat mendukung pola hidup sehat.
Baca Juga: Balita Tenggelam di Kolam Renang Jiwut Nglegok, Sempat Dievakuasi tetapi Nyawanya Tak Tertolong
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada Mei dan Juli 2026.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Dr. Finta Isti Kundarti, S. SiT, M. Keb, menjelaskan bahwa diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Karena itu, diperlukan strategi promotif dan preventif dengan melibatkan masyarakat secara aktif.
Baca Juga: Usai Kebakaran, Polisi Pasang Banner Imbauan di Lereng Gunung Pegat
Salah satu potensi lokal yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah daun kelor atau Moringa oleifera.
Dalam materi pengabdian, daun kelor disebut memiliki kandungan protein, vitamin, mineral, flavonoid, polifenol, dan antioksidan yang berpotensi mendukung metabolisme glukosa dan sensitivitas insulin.
Melalui pelatihan, kader tidak hanya mendapatkan informasi mengenai diabetes melitus, tetapi juga diajak memahami kandungan gizi dan pemanfaatan daun kelor dalam menu sehari-hari.
Baca Juga: Tiba-Tiba Tumbang, Dahan Beringin Timpa Pengendara Motor di Jalan Semeru
Edukasi tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
Kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung dalam dua kali pertemuan, yakni pada Mei dan Juli 2026.
Pertemuan pertama diawali dengan penyuluhan mengenai diabetes melitus, manfaat daun kelor, kandungan gizinya, serta perannya dalam membantu pengendalian kadar gula darah.
Baca Juga: Kijang Grand Extra Bekas Mulai Rp40 Jutaan, Ini Ciri Asli dan Tips Sebelum Membeli
Setelah penyuluhan, para kader mengikuti demonstrasi pengolahan daun kelor menjadi perkedel dan puding.
Olahan tersebut diperkenalkan sebagai inovasi pangan fungsional yang lebih mudah dikonsumsi masyarakat.
Pada pertemuan kedua, pelatihan dilanjutkan dengan pembuatan sejumlah menu berbahan atau pendamping daun kelor.
Di antaranya nasi goreng beras merah, teh daun kelor, milkshake, dan nugget daun kelor.
Beragam menu tersebut dibuat agar pemanfaatan daun kelor tidak terbatas pada satu jenis olahan.
Cita rasa yang lebih menarik juga diharapkan membuat menu berbahan daun kelor lebih mudah diterima oleh berbagai kelompok usia.
Metode yang digunakan dalam kegiatan tidak hanya berupa penyampaian materi.
Peserta juga dilibatkan melalui diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan praktik langsung.
Cara tersebut membuat kader dapat memahami materi sekaligus mempraktikkan pengolahan daun kelor menjadi menu sehat.
Baca Juga: Kacung Motor Pusat Punya Ratusan Mobil Bekas, Harga Mulai Rp15 Jutaan
Keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan di rumah maupun disosialisasikan kembali kepada masyarakat.
Dengan demikian, kader kesehatan diharapkan dapat menjadi penggerak dalam memperkenalkan pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya promotif kesehatan.
Keberhasilan program terlihat dari hasil evaluasi pretest dan posttest.
Hasil akhir menunjukkan mayoritas peserta mengalami peningkatan pengetahuan hingga masuk dalam kategori pengetahuan tinggi.
Tim pengabdian masyarakat berharap para kader terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh.
Pemanfaatan daun kelor sebagai pangan fungsional diharapkan semakin dikenal luas dan dapat menjadi salah satu upaya promotif dalam pengendalian diabetes melitus di Kota Kediri. (*)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari