JAKARTA – Cara menghitung hari baik pindah rumah menurut Primbon Jawa masih menjadi tradisi yang dipraktikkan sebagian masyarakat sebelum melakukan boyongan ke rumah baru. Melalui perhitungan neptu hari dan pasaran, dipercaya seseorang dapat memilih waktu yang lebih baik untuk memulai kehidupan di tempat tinggal baru.
Dalam sebuah tayangan yang membahas cara menghitung hari baik pindah rumah menurut Primbon Jawa, dijelaskan bahwa perhitungan untuk boyongan berbeda dengan neptu yang umum digunakan dalam penanggalan Jawa. Baik nilai hari maupun nilai pasaran memiliki hitungan tersendiri yang khusus dipakai untuk menentukan hari pindah rumah.
Metode tersebut diawali dengan mengetahui nilai neptu hari, kemudian dijumlahkan dengan nilai neptu pasaran. Hasil penjumlahan itu selanjutnya dicocokkan dengan enam kategori yang dipercaya menggambarkan keberuntungan atau kesulitan setelah menempati rumah baru.
Baca Juga: Cara Menghitung Nogo Dino Lengkap Menurut Primbon Jawa, Cek Rumus Naga dan Patine Dina
Neptu Hari dan Pasaran Khusus Boyongan
Dalam perhitungan boyongan rumah, nilai neptu hari dimulai dari Jumat hingga Kamis. Rinciannya yaitu Jumat bernilai 1, Sabtu 2, Minggu 3, Senin 4, Selasa 5, Rabu 6, dan Kamis 7.
Sementara itu, nilai pasaran juga berbeda dari hitungan Primbon Jawa pada umumnya. Kliwon diberi nilai 1, Legi 2, Pahing 3, Pon 4, dan Wage 5.
Setelah kedua nilai diketahui, keduanya dijumlahkan untuk memperoleh hasil akhir yang menjadi dasar penentuan baik atau buruknya hari pindah rumah.
Enam Kategori Hasil Perhitungan
Menurut penjelasan dalam tayangan tersebut, hasil penjumlahan neptu hari dan pasaran akan masuk ke dalam enam kategori.
Kategori pertama adalah Pitutur, yang diartikan akan menemui banyak perkara atau persoalan sehingga dinilai kurang baik.
Kategori kedua adalah Demang Kanduwuran, yang dipercaya berkaitan dengan kondisi kesehatan atau sering mengalami sakit-sakitan sehingga tidak disarankan.
Kategori ketiga adalah Satria Pinayungan, yang dianggap sebagai hasil terbaik. Orang yang pindah rumah pada kategori ini dipercaya memperoleh keselamatan, perlindungan, serta dihormati oleh banyak orang.
Kategori keempat yaitu Mantri Sinaroja, yang juga termasuk baik karena diyakini membuat seseorang lebih disukai dan dicintai lingkungan sekitar.
Kategori kelima adalah Macan Ketawang, yang dipercaya dapat memicu perselisihan, cekcok, atau berbagai persoalan dalam kehidupan rumah tangga.
Sedangkan kategori keenam adalah Nujupati, yang dinilai paling tidak baik karena dikaitkan dengan kesedihan, kesengsaraan, dan berbagai cobaan.
Apabila hasil penjumlahan melebihi angka enam, maka perhitungan diulang kembali mulai dari kategori pertama hingga keenam secara berurutan.
Contoh Perhitungan Hari Boyongan
Sebagai contoh, apabila seseorang berencana pindah rumah pada Jumat Kliwon, maka nilai Jumat adalah 1 dan Kliwon juga bernilai 1 sehingga totalnya menjadi 2.
Angka 2 masuk ke kategori Demang Kanduwuran, yang dalam Primbon Jawa diartikan sebagai pertanda kurang baik karena dipercaya berhubungan dengan gangguan kesehatan.
Sebaliknya, apabila hasil penjumlahan jatuh pada angka yang menghasilkan kategori Satria Pinayungan atau Mantri Sinaroja, maka hari tersebut dianggap lebih baik untuk melakukan boyongan.
Daftar Hari yang Dinilai Baik
Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan beberapa kombinasi hari dan pasaran yang termasuk kategori baik, di antaranya Sabtu Legi, Jumat Pahing, Kamis Legi, Sabtu Kliwon, Selasa Pon, Senin Wage, Kamis Pahing, Minggu Kliwon, serta Rabu Pon.
Sementara beberapa kombinasi lain seperti Jumat Kliwon, Minggu Pahing, Sabtu Pon, Jumat Wage, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage disebut masuk kategori kurang baik atau tidak dianjurkan menurut perhitungan Primbon Jawa.
Meski demikian, metode ini merupakan bagian dari tradisi budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Perhitungan tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar yang masih dipercaya sebagian masyarakat dalam menentukan waktu terbaik untuk menempati rumah baru, tanpa mengesampingkan keyakinan dan pertimbangan pribadi masing-masing.