BLITAR KAWENTAR – Karhutla Kabupaten Blitar kembali menjadi perhatian di tengah puncak musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar mencatat sedikitnya 11 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sepanjang periode Juli hingga pertengahan Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, menyebut jumlah kejadian tersebut terbilang tinggi. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, kebakaran terjadi di sejumlah kawasan lahan dan lereng gunung di wilayah Kabupaten Blitar.
"Memang sudah terjadi beberapa kali kasus karhutla. Terhitung mulai Juli sampai pertengahan Agustus ini sudah ada sekitar 10 atau 11 kejadian. Angka ini termasuk luar biasa banyak," ujar Wahyudi, Minggu (16/8).
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu perhatian utama BPBD. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Sejumlah Kawasan Terdampak Kebakaran
Kebakaran lahan tercatat terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Blitar. Salah satunya berada di kawasan lereng Gunung Pegat pada akhir pekan minggu pertama Agustus. Kejadian kemudian disusul kebakaran di kawasan Gunung Petet serta area lahan di wilayah Kecamatan Gandusari.
Kondisi vegetasi yang mengering akibat teriknya musim kemarau membuat api lebih mudah membesar. Saat kondisi lahan sangat kering, kobaran api juga dapat merembet dengan cepat sehingga proses pengendalian menjadi lebih sulit.
Wahyudi mengatakan tingkat kekeringan yang tinggi menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan karhutla membutuhkan tenaga ekstra. Karena itu, penanganan tidak dapat hanya mengandalkan BPBD Kabupaten Blitar.
"Malam Minggu kemarin terjadi di Gunung Pegat, lalu disusul di Gunung Petet dan wilayah Gandusari. Tingkat kekeringan yang sangat tinggi membuat rembetan api sangat cepat dan relatif sulit dikontrol," terangnya.
BPBD Perkuat Koordinasi Penanganan
Menghadapi meningkatnya kejadian karhutla, BPBD Kabupaten Blitar memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dinilai membutuhkan keterlibatan banyak unsur karena menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Baca Juga: Judol Anggota Keluarga Bisa Bikin Bansos Orang Tua Dibekukan
BPBD membangun sinergi dengan unsur TNI, Polri, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani, dinas pemadam kebakaran, dinas kesehatan, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, hingga forum relawan penanggulangan bencana.
Koordinasi tersebut diperlukan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan secara bersama-sama. Terlebih, kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi menyebar dengan cepat apabila tidak segera ditangani.
Warga Diminta Tak Lalai
Selain faktor kondisi alam saat musim kemarau, BPBD Kabupaten Blitar menyoroti faktor manusia sebagai salah satu pemicu karhutla. Wahyudi menyebut mayoritas pemicu kebakaran berawal dari kelalaian manusia atau human error.
Karena itu, masyarakat diminta menghentikan kebiasaan yang berpotensi menimbulkan titik api, terutama ketika berada di sekitar lahan kering.
BPBD mengingatkan warga agar tidak membakar sampah sembarangan di dekat lahan kering. Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok yang masih menyala.
Kewaspadaan masyarakat menjadi penting untuk mencegah kebakaran kecil berkembang menjadi karhutla yang lebih luas. Dengan kondisi kemarau dan vegetasi yang mudah terbakar, kecerobohan sederhana dapat memicu kobaran api dan menyulitkan proses pemadaman.
BPBD Kabupaten Blitar pun kembali mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berperan dalam pencegahan karhutla. Pelaporan secara cepat ketika menemukan titik api menjadi bagian penting dari upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran. (jar/c1/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan