10 Siswa Diawasi 1 Wali Asuh di Sekolah Rakyat Kota Blitar, Cara Pemkot Cegah Bullying di Kelas dan

Noormalady Usman • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 15:04 WIB
CEGAH ANAK PUTUS SEKOLAH : Para orang tua ketika diajak berkunjung ke Sekolah Rakyat Kota Blitar beberapa waktu itu
CEGAH ANAK PUTUS SEKOLAH : Para orang tua ketika diajak berkunjung ke Sekolah Rakyat Kota Blitar beberapa waktu itu

 

BLITAR KAWENTAR - Pemerintah Kota Blitar memperketat pengawasan terhadap aktivitas dan lingkungan belajar di Sekolah Rakyat (SR) Kota Blitar.

 Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bullying di Sekolah Rakyat Kota Blitar, baik di lingkungan kelas maupun asrama.

Salah satu upaya yang diterapkan yakni menyiapkan satu wali asuh untuk mendampingi setiap 10 siswa.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Dinilai Belum Mampu Tekan 4 Juta Anak Tidak Sekolah

Pola pendampingan tersebut diharapkan dapat mempersempit ruang terjadinya bullying di Sekolah Rakyat Kota Blitar, sekaligus memastikan perkembangan siswa dapat dipantau secara lebih dekat.

Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menjelaskan, keberadaan wali asuh menjadi bagian dari pengawasan terhadap kehidupan siswa selama berada di sekolah maupun asrama.

 Setiap wali asuh akan mengikuti perkembangan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk memperhatikan perubahan perilaku dan hubungan mereka dengan siswa lainnya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Siap Gelar MPLS, 19 Sekolah Permanen Mulai Tahun Ajaran 2026-2027

Menurut Syauqul Muhibbin, pola satu wali asuh untuk 10 siswa memungkinkan pendampingan dilakukan secara lebih dekat.

 Wali asuh tidak hanya berperan dalam kegiatan belajar, tetapi juga diharapkan mampu mengenali persoalan yang mungkin muncul dalam hubungan antarsiswa.

“Jadi, setiap 10 siswa ada satu wali asuh, sehingga perkembangan anak-anak bisa dipantau, termasuk bagaimana mereka bergaul dengan teman-temannya baik di sekolah maupun asrama,” jelas wali kota yang akrab disapa Mas Ibin tersebut.

Pengawasan ini dinilai penting karena aktivitas siswa tidak hanya berlangsung selama pembelajaran di dalam kelas. Setelah kegiatan belajar selesai, para siswa masih berinteraksi dalam lingkungan asrama.

Kondisi tersebut membuat pola pengawasan perlu dilakukan secara menyeluruh. Interaksi yang berlangsung lebih lama di asrama menjadi salah satu perhatian Pemkot Blitar dalam mencegah munculnya tindakan yang dapat merugikan siswa.

Mas Ibin mengatakan, kehidupan siswa di Sekolah Rakyat tidak hanya berpusat di ruang kelas. Sebagian besar waktu mereka juga dihabiskan bersama di lingkungan asrama.

Baca Juga: SDI Ma’arif Plosokerep Tanamkan Ilmu dan Bangun Karakter Siswa, Padukan Pendidikan Internasional dan

Karena itu, pengawasan terhadap hubungan sosial antarsiswa perlu dilakukan secara konsisten. Wali asuh diharapkan dapat mengetahui perkembangan anak sekaligus mengenali perubahan perilaku yang terjadi dalam keseharian.

“Ruang interaksi anak-anak ini bukan hanya di lingkungan kelas saat belajar, bahkan lebih banyak waktunya di lingkungan asrama. Jadi pengawasan seperti itu harus dilakukan,” ungkapnya.

Dengan pendampingan tersebut, persoalan yang berkaitan dengan hubungan antarsiswa diharapkan bisa diketahui lebih awal. Sistem ini juga menjadi salah satu langkah untuk menciptakan lingkungan sekolah dan asrama yang aman serta nyaman bagi seluruh siswa.

Baca Juga: Target Kunjungan Makam Bung Karno Diprediksi Naik Jadi 250 Ribu Setelah Dibuka 24 Jam, Peziarah Kini

Pencegahan bullying, menurut Mas Ibin, tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan.

 Para siswa juga perlu mendapatkan pembiasaan untuk menghargai perbedaan dan membangun hubungan yang setara dengan teman-temannya.

Nilai saling menghargai menjadi penting karena para siswa tinggal dan beraktivitas bersama dalam lingkungan sekolah sekaligus asrama.

Baca Juga: Akses Dam Kali Semut Rusak, Jalur Anak Sekolah dan Warga Terganggu

Perbedaan karakter dan kebiasaan antarsiswa perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi persoalan dalam pergaulan.

“Jangan sampai ada anak yang merasa lebih kuat kemudian merendahkan atau menyakiti temannya. Mereka harus belajar saling menghargai satu sama lain,” tegasnya.

Pemkot Blitar berharap pengawasan dan pembiasaan tersebut dapat membangun lingkungan pendidikan yang lebih kondusif.

Baca Juga: BEN Carnival 2026 Digelar Malam Hari, 40 Peserta Bawa Ragam Budaya Nusantara

Pendampingan melalui wali asuh juga diharapkan membantu siswa mendapatkan perhatian yang lebih dekat selama menjalani aktivitas di Sekolah Rakyat.

Sebelumnya, ratusan siswa yang terdaftar di Sekolah Rakyat Kota Blitar telah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Dengan dimulainya aktivitas pendidikan, pengawasan terhadap siswa menjadi salah satu perhatian penting. Selain memastikan kegiatan belajar berjalan baik, lingkungan sosial siswa juga perlu mendapat perhatian agar interaksi di sekolah maupun asrama tetap berjalan positif.

Baca Juga: BEN Carnival 2026 Digelar Malam Hari, 40 Peserta Bawa Ragam Budaya Nusantara

Penerapan satu wali asuh untuk setiap 10 siswa menjadi salah satu bentuk pengawasan yang disiapkan Pemkot Blitar. Melalui pola tersebut, perkembangan siswa diharapkan dapat terpantau lebih dekat, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan Sekolah Rakyat yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. (bud/ady)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
sekolah rakyat kota blitar wali susuh Syauqul Muhibbin bullying Pemkot Blitar