Pengobatan Herbal Berbasis Sains, dr Nanditya Perluas Terapi Tanpa Tinggalkan Kedokteran Konvensiona

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 15:15 WIB
dr Nanditya Ika Faramita menunjukkan sejumlah tanaman obat yang menjadi bagian dari pengembangan pengobatan herbal berbasis sains di Klinik Integrasi RS WAVA Kesamben. (Foto: Dok. Pribadi)
dr Nanditya Ika Faramita menunjukkan sejumlah tanaman obat yang menjadi bagian dari pengembangan pengobatan herbal berbasis sains di Klinik Integrasi RS WAVA Kesamben. (Foto: Dok. Pribadi)

BLITAR KAWENTAR – Kekayaan tanaman obat Indonesia membuka peluang besar bagi pengembangan pengobatan herbal berbasis sains sebagai bagian dari pelayanan kesehatan modern. Peluang tersebut menjadi salah satu alasan dr Nanditya Ika Faramita, MMRS, FISQUA, AIFO-K, mendalami kedokteran integratif, khususnya pemanfaatan herbal.

Namun, pilihannya menekuni pengobatan herbal berbasis sains bukan berarti meninggalkan kedokteran konvensional. Justru sebaliknya, dokter asal Kota Malang itu ingin memperluas pilihan terapi dengan tetap menjadikan bukti ilmiah dan keamanan pasien sebagai pertimbangan utama.

Ketertarikannya terhadap pendekatan tersebut berangkat dari pandangan bahwa penanganan pasien tidak cukup hanya berfokus pada penyakit yang diderita. Kondisi pasien, menurutnya, perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari pola makan, gaya hidup, aktivitas fisik, kondisi psikologis hingga faktor lingkungan.

Baca Juga: Klinik Integrasi RS Wava Kesamben Hadir di Blitar Raya, Tawarkan Layanan Kesehatan Lengkap hingga Herbal dan Nutrisi

Berangkat dari latar belakang kedokteran konvensional dan evidence-based medicine, dr Nanditya kemudian mempelajari herbal secara lebih mendalam. Ia tidak memandang tanaman obat semata-mata sebagai bahan alami yang otomatis aman digunakan.

“Bagi saya, integratif bukan berarti meninggalkan kedokteran konvensional, tetapi memperluas pilihan terapi yang memiliki dasar ilmiah dan tetap mengutamakan keamanan pasien,” ujarnya.

Bangun Pelayanan Integratif di RS WAVA Kesamben

Baca Juga: Keberhasilan Poltekkes Kemenkes Malang Tingkatkan Kesadaran Warga Karangrejo, Kini Terampil Deteksi Dini Diabetes hingga Meracik Herbal Pencegahan

Pendalaman bidang kedokteran integratif itu kini diterapkan ketika dr Nanditya dipercaya menjadi penanggung jawab Klinik Integrasi di RS WAVA Kesamben. Tanggung jawab tersebut menjadi kesempatan untuk membangun pelayanan yang menggabungkan kedokteran konvensional dengan pendekatan komplementer secara rasional.

Menurutnya, pelayanan kesehatan integratif tetap harus memiliki standar medis yang kuat. Pasien harus mendapatkan diagnosis yang tepat, terapi yang rasional, pemantauan kondisi secara berkala serta edukasi mengenai pola hidup sehat.

Proses pendidikan dan sertifikasi keahlian herbal yang dijalaninya juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satunya adalah mengubah pemahaman masyarakat bahwa sesuatu yang berasal dari alam pasti aman digunakan.

“Dalam praktiknya, penggunaan herbal tetap membutuhkan pemahaman mengenai farmakologi, dosis, indikasi, kontraindikasi, efek samping hingga kemungkinan interaksi dengan obat lain,” jelas perempuan 42 tahun itu.

Karena itu, sertifikasi bukan sekadar tambahan kompetensi. Bagi dr Nanditya, kompetensi tersebut sekaligus memperbesar tanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang aman kepada pasien.

Herbal Tidak Bisa Dipilih Sembarangan

Di Klinik Integrasi RS WAVA Kesamben, penanganan pasien diawali dengan assessment secara menyeluruh. Selain melakukan diagnosis medis dan pemeriksaan yang diperlukan, dokter juga menilai obat yang dikonsumsi pasien, pola makan, aktivitas fisik hingga gaya hidupnya.

Baca Juga: ⁠Ramuan Herbal Jadi Alternatif Peternak di Blitar untuk Tangani Wabah PMK, Hasilnya Tak Mengecewakan

Pendekatan ini dinilai relevan terutama untuk kondisi kronis dan berbagai persoalan kesehatan yang membutuhkan perubahan gaya hidup dalam jangka panjang. Beberapa di antaranya masalah metabolik, obesitas, diabetes atau prediabetes, hipertensi, gangguan muskuloskeletal atau nyeri kronis hingga pemulihan pascastroke.

Namun, dr Nanditya menegaskan bahwa tidak semua pasien dapat memperoleh pendekatan yang sama. Seleksi pasien dan evaluasi medis tetap menjadi dasar utama dalam menentukan terapi.

Dalam menggabungkan herbal dengan obat konvensional, koordinasi menjadi bagian yang sangat penting. Seluruh obat, suplemen maupun herbal yang dikonsumsi pasien perlu diketahui agar dokter dapat melihat kemungkinan interaksi serta menyesuaikannya dengan kondisi klinis pasien.

Baca Juga: Cara Mudah Membuat Ayam Sehat Musim Hujan, Peternak Wajib Tahu Resep Herbalnya

“Herbal tidak otomatis ditambahkan hanya karena pasien menginginkannya. Harus ada alasan klinis dan pertimbangan keamanan,” tegas ibu dua anak itu.

Potensi Besar Pengobatan Integratif di Indonesia

Bagi dr Nanditya, keberhasilan pengobatan integratif tidak selalu harus diukur dari kesembuhan secara instan. Perubahan perilaku pasien juga menjadi bagian dari indikator keberhasilan pelayanan.

Pasien yang mulai memahami kondisi tubuhnya, memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, lebih patuh menjalani terapi dan menunjukkan perbaikan parameter kesehatan merupakan perkembangan yang penting.

Ke depan, ia melihat perkembangan pengobatan integratif di Indonesia memiliki potensi besar. Kekayaan sumber daya tanaman obat menjadi modal yang dapat dikembangkan. Namun, perkembangannya harus diiringi penelitian, standardisasi bahan herbal, ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten, sistem pelayanan yang jelas serta edukasi masyarakat.

Dr Nanditya berharap Klinik Integrasi RS WAVA Kesamben dapat menjadi contoh bahwa pendekatan herbal dan kedokteran konvensional mampu berjalan berdampingan secara ilmiah, aman dan bertanggung jawab.

“Tujuan kita bukan membuat pasien memilih antara herbal atau dokter, tetapi memberikan pasien pelayanan terbaik berdasarkan bukti ilmiah, kebutuhan individual, dan keamanan pasien,” pungkasnya. (arm/sub)

Editor : Regina Gavin Agata
RS Wava Kesamben Blitar Pengobatan Herbal Berbasis Sains dr Nanditya Ika Faramita Kedokteran Integratif pengobatan herbal