BLITAR KAWENTAR - Hobi naik gunung menjadi cara M. Saiful Munib untuk melepaskan penat dari rutinitas mengelola sekolah sekaligus menemukan inspirasi baru. Kepala SDI Ma’arif Plosokerep Kota Blitar itu memanfaatkan waktu liburan sekolah untuk menikmati perjalanan di alam.
Bagi Saiful Munib, hobi naik gunung bukan sekadar aktivitas untuk mencapai puncak. Ada banyak hal yang dia dapatkan selama berada di alam, mulai dari suasana tenang, udara segar, olahraga, hingga kesempatan bertemu orang-orang baru yang memiliki kegemaran serupa.
Kesibukan sebagai kepala sekolah membuat Munib sehari-hari akrab dengan rutinitas, target, dan berbagai urusan pendidikan. Karena itu, ketika aktivitas sekolah berhenti sejenak, mendaki gunung menjadi salah satu cara yang dipilihnya untuk mengisi kembali energi.
“Tempatnya nyaman untuk refreshing. Bisa untuk mencari inspirasi, hiburan, olahraga, mencari teman yang punya hobi sama, atau sekadar ngopi,” tuturnya.
Gunung Jadi Tempat Mencari Inspirasi
Hobi naik gunung memberi pengalaman yang berbeda bagi Munib. Ketika berada di tengah alam, dia bisa menikmati suasana yang sulit ditemukan di tengah rutinitas perkotaan.
Suasana tenang, udara segar, serta pemandangan hijau menjadi bagian dari pengalaman yang membuat pikirannya terasa lebih ringan. Perjalanan mendaki pun menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan menikmati suasana alam.
Bagi Munib, aktivitas tersebut juga menjadi ruang untuk menemukan inspirasi. Ketenangan yang diperoleh selama berada di gunung memberikan kesempatan untuk kembali menyegarkan pikiran.
Dari ketinggian, dia bisa mendapatkan sesuatu yang tidak selalu tersedia di ruang kerja. Bukan sekadar pemandangan alam, tetapi juga ketenangan yang dapat memunculkan ide-ide baru untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.
Dengan begitu, mendaki bukan hanya menjadi kegiatan mengisi waktu luang. Hobi tersebut memiliki arti tersendiri sebagai cara untuk menjaga keseimbangan di tengah tanggung jawab pekerjaan yang padat.
Mengenalkan Alam kepada Anak Sejak Dini
Ada pengalaman lain yang membuat hobi mendaki semakin bermakna bagi Munib. Dia tidak hanya menikmati alam seorang diri, tetapi juga kerap mengajak anak-anaknya ketika sedang libur sekolah.
Baginya, mengenalkan alam sejak dini bukan sekadar mengajak anak berjalan-jalan atau menikmati pemandangan. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana belajar secara langsung.
“Alam itu tempat belajar yang luar biasa. Anak-anak bisa melihat langsung bagaimana menjaga lingkungan, menghargai alam, dan memahami bahwa apa yang ada di sekitar kita juga harus dirawat,” ujarnya.
Melalui pengalaman tersebut, Munib ingin menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan. Anak-anak dapat melihat langsung alam yang harus dijaga dan dirawat bersama.
Kegiatan di luar ruangan pun menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Alam tidak hanya menjadi tempat berlibur, tetapi juga ruang untuk memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.
Bertemu Teman Baru hingga Menikmati Kopi
Di balik perjalanan mendaki, Munib juga menemukan sisi sosial yang membuat aktivitas tersebut semakin menarik. Saat berada di jalur pendakian, dia dapat bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki kegemaran serupa.
Obrolan sederhana selama perjalanan, perjalanan bersama, hingga menikmati secangkir kopi di tengah suasana alam menjadi bagian dari pengalaman yang menurutnya menyenangkan.
Pertemuan dengan sesama pencinta alam tersebut membuat perjalanan terasa lebih berkesan. Ada relasi baru yang terbangun dari kegemaran yang sama dan pengalaman menikmati perjalanan.
Meski demikian, Munib tetap menempatkan tanggung jawab utama sebagai kepala sekolah di atas hobinya. Waktu untuk mendaki biasanya dipilih ketika aktivitas sekolah sedang libur.
Dengan cara tersebut, hobi naik gunung tidak mengganggu kewajibannya dalam mengelola sekolah dan menjalankan tugas sebagai pendidik.
Bagi Munib, mendaki pada akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Ada proses menikmati perjalanan, belajar mengenali diri, membangun relasi, serta melihat alam dengan cara yang berbeda.
Yang terpenting, menurut dia, setiap orang yang menikmati alam juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Kepedulian tersebut pun perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak dini.
“Yang penting kita bisa menikmati alam, menjaga alam, dan mengajak anak-anak supaya sejak kecil punya rasa peduli terhadap alam,” jelasnya.
Editor : Regina Gavin Agata