BLITAR - Sejarah Majapahit di Blitar tidak lepas dari kisah pembukaan wilayah di selatan Sungai Brantas yang dalam cerita tutur dikaitkan dengan sosok Nila Swarna. Tokoh tersebut disebut sebagai pengikut setia Raden Wijaya yang mendapat tugas membuka hutan sekaligus mengamankan kawasan dari kemungkinan sisa pasukan Tartar.
Kisah tersebut bermula pada penghujung abad ke-13, ketika Singhasari mengalami keruntuhan setelah diserang Jaya Katwang, penguasa Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, kemudian membangun kekuatan baru hingga berhasil mendirikan Majapahit.
Dalam proses tersebut, Raden Wijaya sempat memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol dari Dinasti Yuan untuk menghadapi Jaya Katwang. Setelah Kediri berhasil dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol hingga mereka mundur dari Jawa.
Baca Juga: Como 1907 Klub Terkaya di Serie A Punya Strategi Bisnis yang Beda
Nila Swarna dan pembukaan wilayah selatan
Setelah Majapahit berdiri, Raden Wijaya menghadapi pekerjaan besar untuk mengamankan wilayah kekuasaannya. Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah hutan lebat di sebelah selatan Gunung Kelud dan Sungai Brantas.
Dalam cerita yang disampaikan, kawasan tersebut dianggap strategis tetapi belum sepenuhnya dikuasai. Hutan itu juga dikhawatirkan menjadi tempat persembunyian kelompok yang masih menjadi ancaman.
Raden Wijaya kemudian memilih Nila Swarna untuk menjalankan misi tersebut. Nila Swarna digambarkan sebagai tokoh yang gagah berani, memiliki pengalaman dalam peperangan, serta setia kepada sang raja.
Tugasnya adalah memimpin rombongan menuju selatan, membabat hutan belantara, membuka lahan untuk permukiman, sekaligus memastikan kawasan tersebut aman. Sebagai imbalan, Raden Wijaya menjanjikan kekuasaan atas wilayah baru itu apabila tugas berhasil diselesaikan.
Nila Swarna kemudian berangkat bersama para pengikutnya. Mereka menyeberangi Sungai Brantas dan memasuki kawasan hutan yang masih lebat. Proses pembukaan wilayah dilakukan dengan menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari medan berat, binatang liar, penyakit, hingga kemungkinan ancaman manusia.
Secara perlahan, hutan berhasil dibuka. Lahan yang sebelumnya lebat mulai berubah menjadi kawasan yang dapat dihuni dan dikembangkan.
Asal nama Blitar dikaitkan dengan pasukan Tartar
Bagian penting dalam sejarah Majapahit di Blitar adalah cerita mengenai asal-usul nama Blitar. Menurut versi yang disebut paling populer dalam cerita turun-temurun, keberhasilan Nila Swarna mengamankan wilayah selatan berkaitan dengan mundurnya pasukan Tartar.
Dikisahkan, setelah pasukan utama Mongol dipukul mundur Raden Wijaya, sebagian pasukan yang tercerai-berai melarikan diri ke berbagai arah. Kawasan hutan di selatan Brantas disebut menjadi salah satu tempat yang mungkin digunakan untuk bersembunyi.
Misi Nila Swarna kemudian dikaitkan bukan hanya dengan pembukaan hutan, tetapi juga membersihkan wilayah dari sisa ancaman tersebut. Keberhasilan itu melahirkan istilah “Bali Tartar”, yang dimaknai sebagai kembalinya atau mundurnya pasukan Tartar.
Baca Juga: Como 1907 Klub Terkaya di Serie A Punya Strategi Bisnis yang Beda
Dalam perkembangan pelafalan masyarakat, istilah tersebut dipercaya berubah menjadi Balitar dan akhirnya menjadi Blitar. Meski disebut terdapat kemungkinan versi etimologi lain, kisah tersebut tetap menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Blitar.
Atas keberhasilannya, Nila Swarna kemudian disebut mendapat gelar Adipati Ario Blitar I. Wilayah yang berhasil dibuka selanjutnya dikisahkan berkembang menjadi sebuah kadipaten di bawah Majapahit.
Cerita tersebut juga mengaitkan tanggal 5 Agustus 1324 sebagai hari jadi Blitar. Namun, transkrip menegaskan bahwa bukti fisik atau piagam yang dikaitkan dengan penetapan tersebut masih diperdebatkan.
Sejarah Blitar kemudian terus berkembang mengikuti perubahan kekuasaan di Jawa. Setelah pengaruh Majapahit melemah, wilayah ini disebut memasuki pengaruh kerajaan-kerajaan berikutnya, termasuk Demak, Pajang, dan Mataram Islam.
Pada masa kolonial Belanda, struktur pemerintahan wilayah kemudian ditata kembali dalam sistem administrasi Hindia Belanda. Blitar selanjutnya berkembang sebagai kabupaten dan status tersebut tetap dipertahankan setelah Indonesia merdeka.
Dengan demikian, kisah sejarah Majapahit di Blitar tidak hanya berkaitan dengan berdirinya sebuah wilayah. Cerita Nila Swarna, pembukaan hutan, serta legenda mundurnya pasukan Tartar menjadi bagian dari narasi panjang mengenai asal-usul Blitar dan identitas sejarah masyarakatnya.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Top Histori