BLITAR KAWENTAR — Potensi musim kemarau panjang mulai diantisipasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar. Salah satu langkah yang disiapkan adalah menghadapi kemungkinan krisis air bersih yang dapat dialami masyarakat di sejumlah wilayah.
Meski sampai saat ini belum ada laporan mengenai warga yang mengalami kesulitan air bersih, BPBD Kota Blitar telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Sebanyak 15 unit tandon air bersih telah disiagakan untuk mendukung penanganan apabila sewaktu-waktu terjadi krisis air bersih.
Kepala BPBD Kota Blitar Agus Suherli mengatakan, tandon tersebut disiapkan sebagai infrastruktur pendukung untuk dropping air kepada warga terdampak krisis air bersih. Setiap tandon memiliki kapasitas sekitar 1.500 hingga 2.000 liter dan ditempatkan di 15 kelurahan.
Baca Juga: BEN Carnival 2026 Molor hingga Dua Jam, DPRD Kota Blitar Desak Disbudpar Evaluasi Total
15 Tandon Disiapkan untuk Dropping Air
Agus menjelaskan, keberadaan tandon tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan BPBD menghadapi dampak musim kemarau. Tandon akan difungsikan secara optimal apabila terdapat laporan resmi mengenai kondisi kekurangan air bersih di suatu wilayah.
Dengan adanya fasilitas tersebut, proses penyaluran air diharapkan dapat dilakukan lebih cepat ketika kebutuhan masyarakat mulai meningkat. BPBD tidak ingin menunggu kondisi semakin parah sebelum mengambil langkah penanganan.
Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih juga diminta segera menyampaikan laporan. Pelaporan dilakukan secara berjenjang melalui pihak kelurahan agar informasi dapat segera diteruskan kepada BPBD Kota Blitar.
Langkah tersebut dinilai penting karena kecepatan laporan akan memengaruhi proses penanganan di lapangan. Setelah laporan diterima, petugas BPBD akan bergerak menuju lokasi yang terdampak untuk melakukan dropping air.
Tujuh Kelurahan Masuk Zona Rawan
BPBD Kota Blitar juga telah memiliki pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Pemetaan tersebut mengacu pada evaluasi historis kejadian krisis air yang pernah terjadi pada musim kemarau 2023.
Hasil evaluasi menunjukkan terdapat tujuh kelurahan di wilayah Kota Blitar bagian utara yang masuk dalam zona rawan. Ketujuh wilayah tersebut adalah Kelurahan Ngadirejo, Tanggung, Sentul, Rembang, Gedog, Tlumpu, dan Tanjungsari.
Masuknya tujuh kelurahan tersebut dalam zona rawan menjadi perhatian tersendiri bagi BPBD. Terlebih, kondisi musim kemarau berpotensi meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air bersih.
Namun, BPBD menegaskan bahwa pemetaan wilayah rawan bukan berarti wilayah tersebut saat ini sedang mengalami krisis. Pemetaan menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mempercepat respons apabila kondisi kekurangan air benar-benar terjadi.
Baca Juga: Rapat Paripurna DPRD Blitar Bahas Pidato Presiden pada Sidang Tahunan MPR 2026
Warga Diminta Waspada Musim Kemarau
Selain ancaman kekurangan air bersih, musim kemarau juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan rilis prediksi musim kemarau dari BMKG Jawa Timur, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.
Sejalan dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana yang berkaitan dengan musim kering. Salah satunya adalah penggunaan api di sekitar lahan maupun kawasan yang kondisinya mulai mengering.
Baca Juga: Kantor Pertanahan Blitar dan DPRD Perkuat Sinergi Percepatan Sertipikat Tanah Aset
BPBD secara khusus mengingatkan masyarakat yang membakar sampah agar tidak meninggalkan api begitu saja. Proses pembakaran harus terus diawasi hingga api benar-benar padam.
Lahan yang kering membuat api lebih mudah merembet dan membesar. Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas.
Dengan menyiagakan 15 tandon air dan memetakan wilayah rawan, BPBD Kota Blitar berupaya memastikan penanganan dapat dilakukan dengan cepat jika krisis air bersih terjadi. Masyarakat pun diminta aktif melapor apabila mulai mengalami kekurangan air agar bantuan bisa segera disalurkan.
Editor : Regina Gavin Agata