Film Dokumenter Abadikan Bahasa Camondan, Generasi Muda Kauman Gotong Royong Jaga Warisan Tutur

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:31 WIB
PUSAT KOTA: Suasana Jalan Lawu, Kota Blitar, yang menjadi salah satu kawasan berkembangnya bahasa Camondan.
PUSAT KOTA: Suasana Jalan Lawu, Kota Blitar, yang menjadi salah satu kawasan berkembangnya bahasa Camondan.

BLITAR KAWENTAR – Bahasa Camondan menjadi salah satu warisan sejarah tutur yang masih melekat di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Keberadaan bahasa khas tersebut kini mendapat perhatian dari generasi muda setempat melalui pembuatan film dokumenter.

Film dokumenter tentang bahasa Camondan itu dikerjakan secara gotong royong. Langkah tersebut menjadi upaya generasi muda untuk mengenalkan sekaligus menjaga keberadaan bahasa yang disebut telah muncul sejak awal masa kemerdekaan Indonesia.

Proses pendokumentasian bahasa Camondan melibatkan sejumlah pihak yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah lokal Blitar. Sejarawan turut dihadirkan untuk menggali cerita mengenai asal-usul hingga perkembangan bahasa tersebut. Salah satu kosa kata Camondan yang cukup populer adalah "nggle".

Baca Juga: Makna Kemerdekaan bagi Generasi Muda, Bukan Sekadar Bebas tapi Juga Saling Menghormati dan Memajukan Bangsa

Libatkan Sejarawan dan Tokoh Sepuh Kauman

Pembuatan film dokumenter telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Dua sejarawan Blitar, Indah Iriani dan Ferry Riyandika, menjadi narasumber dalam penggalian informasi mengenai sejarah lokal serta kemunculan bahasa Camondan.

Selain sejarawan, dokumenter tersebut juga merekam cerita dari tokoh sepuh di Kelurahan Kauman. Moch. Djahid Chudori dan Moch. Irfan menjadi di antara penutur bahasa Camondan yang diabadikan dalam film tersebut.

Baca Juga: Bahasa Generasi Digital Berubah Drastis, Media Sosial dan AI Bikin Cara Anak Muda Berkomunikasi Makin Berbeda

Proyek ini merupakan kolaborasi komunitas film Kunamsinam Films dengan generasi muda setempat. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan membuat dokumentasi bahasa Camondan tidak hanya menjadi rekaman audiovisual, tetapi juga sarana untuk mengenalkan sejarahnya kepada generasi berikutnya.

Ketua RW 04 Kelurahan Kauman, Hendra Budy Prasetya, mengatakan pembuatan film dokumenter diharapkan dapat meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap bahasa Camondan. Menurutnya, pemahaman tidak cukup hanya sebatas menggunakan bahasa tersebut, tetapi juga perlu mengetahui asal-usul dan sejarahnya.

"Harapannya bisa meningkatkan kebanggaan terhadap kampung sendiri dan bangsa pada umumnya sehingga nilai-nilai perjuangan tetap terjaga," ungkapnya.

Sebarannya Masih Terbatas

Bahasa Camondan diketahui telah menjadi bagian dari warisan sejarah tutur masyarakat Kelurahan Kauman sejak kemunculannya sekitar delapan dekade silam. Namun, keberadaannya belum dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh masyarakat Kauman.

Salah satu penyebabnya adalah sebaran bahasa Camondan yang cukup terbatas. Penggunaan bahasa khas tersebut terutama berkembang di kawasan bagian barat Alun-Alun Blitar.

Beberapa wilayah yang disebut menjadi kawasan berkembangnya bahasa Camondan antara lain Jalan Tidar, Jalan Lawu, Jalan Wilis, dan kawasan di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat tidak semua warga, khususnya generasi muda, familiar dengan kosakata maupun sejarah bahasa tersebut.

Baca Juga: Etika Kerja Gen Z Jadi Sorotan, Pelaku Usaha Ungkap Tantangan Terbesar Generasi Muda di Dunia Kerja

Karena itu, dokumentasi melalui film menjadi salah satu cara untuk merekam pengetahuan yang dimiliki para penutur dan tokoh masyarakat. Cerita dari generasi yang lebih tua dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda agar warisan tutur tersebut tidak semakin terlupakan.

Diharapkan Terus Digunakan

Pembuatan film dokumenter ini diharapkan tidak berhenti sebagai arsip sejarah. Generasi muda di Kauman diharapkan semakin memiliki perhatian terhadap bahasa Camondan dan memahami nilai sejarah yang ada di baliknya.

Baca Juga: Work Life Balance Semakin Penting, Ini Alasan Generasi Muda Tak Lagi Mengejar Kerja Tanpa Henti

Pelestarian bahasa juga diharapkan dapat mendorong semakin banyak masyarakat untuk mengenal dan menggunakan bahasa Camondan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, warisan sejarah tutur yang berkembang di Kauman dapat terus hidup di tengah perubahan zaman.

Kolaborasi komunitas film, generasi muda, sejarawan, dan tokoh sepuh menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Dokumentasi audiovisual sekaligus menjadi jembatan antara penutur yang masih memahami bahasa Camondan dengan generasi yang belum banyak mengenalnya.

Melalui langkah gotong royong tersebut, bahasa Camondan diharapkan tetap menjadi bagian dari identitas sejarah Kelurahan Kauman dan tidak sekadar tersimpan sebagai cerita dari masa lalu.

Editor : Regina Gavin Agata
Bahasa Camondan Kauman pelestarian bahasa Kota Blitar film dokumenter