BLITAR KAWENTAR – Pedagang MBK menyampaikan keluhan terkait kebijakan pembukaan akses kawasan Makam Bung Karno Kota Blitar selama 24 jam. Para pedagang menilai kebijakan tersebut sebelumnya belum disosialisasikan secara memadai, terutama kepada pedagang yang berjualan di area belakang makam.
Keluhan pedagang MBK itu disampaikan dalam pertemuan Paguyuban Pedagang di kawasan Makam Bung Karno dengan Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin. Pertemuan tersebut digelar untuk membahas dampak kebijakan buka 24 jam terhadap aktivitas perdagangan di kawasan wisata religi tersebut.
Ketua Paguyuban Pedagang Putra Sang Fajar, Joko, mengatakan pertemuan dengan wali kota merupakan tindak lanjut atas aspirasi para pedagang. Sebelumnya, sejumlah pedagang mengaku tidak mendapat pemberitahuan mengenai perubahan pola operasional kawasan makam.
Baca Juga: MBK Dibuka 24 Jam, Kini Pengunjung Bisa Ziarah hingga Dini Hari dan Nikmati Suasana Malam Blitar
“Awalnya teman-teman itu kan tidak ada pemberitahuan. Makanya kami inginnya bertemu langsung seperti ini,” ujar Joko.
Pedagang MBK Minta Kebijakan Dievaluasi
Dalam pertemuan tersebut, Joko menyebut Wali Kota Blitar telah menjelaskan secara detail alasan dan tujuan pemerintah membuka akses Makam Bung Karno selama 24 jam.
Baca Juga: Pimpinan MPR Nyekar di MBK Jelang HUT ke-81 RI, Respons Isu Demonstrasi
Menurut dia, penjelasan tersebut membuat para pedagang memahami latar belakang kebijakan yang diterapkan pemerintah. Meski demikian, pedagang tetap berharap pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya.
Joko mengatakan wali kota juga menyatakan siap menampung berbagai harapan dan masukan dari para pedagang. Apabila dalam pelaksanaannya ditemukan hal yang dinilai kurang sesuai, pemerintah akan mempertimbangkannya kembali.
“Beliau sendiri akan menampung dan mendengar harapan-harapan dari teman-teman semua, nanti akan dievaluasi untuk ke depan,” katanya.
Para pedagang, lanjut Joko, pada dasarnya tidak menolak program pemerintah. Mereka memahami bahwa kebijakan pembukaan kawasan selama 24 jam memiliki tujuan tertentu, termasuk memberikan akses lebih luas bagi masyarakat dan wisatawan.
Namun, penerapan kebijakan tersebut tetap diharapkan mempertimbangkan kondisi pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di sekitar kawasan makam.
Lebih dari 1.000 Pedagang Berjualan di Kawasan Wisata Religi
Joko menyebut terdapat sekitar 15 hingga 16 paguyuban pedagang yang beraktivitas di sepanjang kawasan wisata religi Kota Blitar. Kawasan tersebut membentang mulai dari Makam Bung Karno hingga Istana Gebang.
Baca Juga: Kursi City Walk Wisata MBK Kota Blitar Rusak, Begini Respon Disbudpar
Khusus di area Makam Bung Karno, terdapat sekitar 10 paguyuban. Jenis pedagangnya beragam, mulai dari pedagang asongan bunga hingga pedagang yang berjualan di area belakang makam.
Dari keseluruhan kelompok tersebut, jumlah pedagang di kawasan makam diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang. Meski demikian, tidak seluruh pedagang merasakan dampak kebijakan buka 24 jam dengan tingkat yang sama.
Pedagang yang paling terdampak adalah mereka yang berjualan di area belakang makam. Hal itu berkaitan dengan pola aktivitas perdagangan yang selama ini menyesuaikan dengan jam buka dan tutup kawasan.
Baca Juga: Tidak Seperti Tahun-Tahun Sebelum, Angka Kunjungan MBK di Momen Libur Panjang Nataru 2025 Merosot
Joko menjelaskan, pada siang hari kawasan belakang makam cenderung lebih sepi. Sementara pada malam hari, kawasan tersebut biasanya kembali terbuka. Kondisi itu membuat pedagang harus menyesuaikan waktu berjualan dengan dinamika kunjungan masyarakat.
Pedagang Berharap Pola Operasional Tetap Fleksibel
Para pedagang berharap pola operasional kawasan tetap mempertimbangkan aktivitas wisatawan. Mereka menginginkan waktu operasional yang menyesuaikan kondisi kunjungan, seperti kebiasaan sebelumnya.
Menurut Joko, kawasan dapat ramai pada siang hari dan kemudian tutup pada waktu tertentu di malam hari. Pola tersebut dinilai lebih sesuai dengan aktivitas pedagang di sekitar makam.
Meski menyampaikan sejumlah masukan, Joko menegaskan bahwa para pedagang tetap mendukung program pemerintah. Mereka memilih menunggu proses evaluasi sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Kita sebenarnya ikut program pemerintah, itu sangat baik. Semua itu baik,” tegasnya.
Dengan adanya pertemuan antara paguyuban pedagang dan pemerintah kota, aspirasi para pedagang diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi terhadap kebijakan pembukaan Makam Bung Karno selama 24 jam.
Editor : Regina Gavin Agata