Sumur Bor Kering 3 Bulan, Warga Panggungrejo Terpaksa Beli Air Galon hingga Rp80 Ribu

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 13:00 WIB
Warga Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah sumur bor yang mengering selama tiga bulan.
Warga Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah sumur bor yang mengering selama tiga bulan.

BLITAR KAWENTAR - Krisis air bersih semakin dirasakan warga Dusun Rampalombo, Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Sumur bor yang menjadi salah satu sumber kebutuhan sehari-hari warga telah mengering selama tiga bulan. Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur penggunaan air dengan sangat ketat.

Bagi warga, krisis air bersih bukan sekadar persoalan sulit mendapatkan air. Kekeringan juga membuat aktivitas rumah tangga terganggu. Untuk memenuhi kebutuhan minum, sebagian warga terpaksa membeli air galon secara mandiri. Sementara kebutuhan mandi, mencuci hingga menyiram tanaman harus dilakukan dengan persediaan air yang terbatas.

Kondisi krisis air bersih tersebut dialami Trinanik, warga Desa Margomulyo. Perempuan 45 tahun itu mengatakan sumur bor di lingkungan tempat tinggalnya sudah tidak mengeluarkan air selama sekitar tiga bulan.

Baca Juga: Sumur Warga Kering Tiga Bulan, Warga Margomulyo Terpaksa Beli Air Galon untuk Masak dan Minum

“Sumur bor sudah tiga bulan ini kering sama sekali, airnya tidak sampai ke rumah. Kalau sudah begini, ladang dan pekarangan ya tidak bisa ditanami apa-apa. Semuanya kering. Mau mandi saja susah, apalagi menyiram tanaman,” tutur Trinanik saat ditemui di kediamannya, Sabtu (5/9).

Sumur Bor Kering, Warga Harus Beli Air

Menurut Trinanik, kondisi kekeringan membuat warga harus mencari cara agar kebutuhan air rumah tangga tetap terpenuhi. Sebelum bantuan rutin pemerintah datang, warga membeli air galon untuk kebutuhan minum.

Baca Juga: Sumur 7 Pitu di Pantai Jembatan Panjang Disebut Sakti, Airnya Tawar Meski Dekat Laut

Untuk kebutuhan mencuci dan mandi, warga juga sempat memesan pasokan air menggunakan jeriken besar maupun tandon. Sekali pengiriman, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp80 ribu.

Bagi warga desa, pengeluaran tersebut bukan jumlah yang sedikit. Apalagi air yang dibeli harus digunakan sehemat mungkin agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga selama beberapa hari.

“Kalau untuk minum ya beli galon. Malah sebelum ada bantuan rutin dari kelurahan, kadang terpaksa beli air pasokan yang dikirim pakai jeriken besar atau tandon. Sekali kirim harganya bisa Rp80 ribu. Itu uang yang tidak sedikit bagi kami di desa,” ungkapnya.

Kekeringan juga berdampak pada kondisi lingkungan sekitar. Tanah yang mengering dan tanaman yang tidak dapat dirawat menjadi pemandangan sehari-hari selama musim kemarau. Warga pun tidak bisa leluasa menggunakan air seperti ketika musim penghujan.

Bantuan Air Bersih Mulai Rutin

Setelah mengalami kesulitan selama berbulan-bulan, kondisi warga mulai sedikit terbantu dalam dua pekan terakhir. Armada truk tangki bantuan air bersih dari pemerintah mulai rutin datang ke wilayah Margomulyo untuk mengisi wadah penampungan milik warga.

Jadwal distribusi yang sebelumnya dilakukan dua kali sehari kemudian disesuaikan menjadi satu kali sehari. Meski jumlah pengiriman berkurang, bantuan tersebut tetap sangat berarti bagi warga yang sebelumnya harus membeli air sendiri.

Baca Juga: Istana Gebang Blitar Simpan Jejak Remaja Soekarno, Ada Kamar Asli hingga Sumur Tua Sedalam 30 Meter

Trinanik mengatakan air bantuan diprioritaskan untuk kebutuhan paling penting di rumah, terutama memasak, minum, serta mencuci bahan makanan.

Kondisi di Margomulyo juga menjadi bagian dari penanganan kekeringan di Kabupaten Blitar. Pada 5 September 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan bantuan air bersih di Desa Margomulyo untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

Warga Perketat Penggunaan Air

Baca Juga: Pantai Sumur Gemuling Blitar, Hidden Gems dengan Pasir Putih, Muara Air Tawar, dan Suasana Sepi untuk Healing

Terbatasnya pasokan membuat warga harus mengubah kebiasaan dalam menggunakan air. Penghematan dilakukan hampir pada seluruh aktivitas rumah tangga.

Trinanik mengaku waktu mandi pun dikurangi. Jika sebelumnya bisa mandi dua kali dalam sehari, kini cukup sekali. Langkah tersebut dilakukan agar persediaan air untuk kebutuhan dapur tetap aman.

“Sekarang adus (mandi) dihemat-hemat, biasanya sehari bisa dua kali, sekarang dicukupkan sekali saja. Yang penting stok air di dapur untuk masak dan minum tetap ada. Alhamdulillah, ada bantuan rutin ini kami sangat terbantu dan tidak perlu beli air pasokan lagi,” pungkasnya.

Bagi warga Margomulyo, bantuan air bersih setidaknya memberikan ruang bernapas di tengah kemarau panjang. Namun, selama sumur bor belum kembali mengeluarkan air, penghematan tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan sehari-hari.

Editor : Regina Gavin Agata
Margomulyo sumur bor kering krisis air bersih panggungrejo bantuan air bersih