BLITAR KAWENTAR - Kebijakan layanan wisata Makam Bung Karno (MBK) selama 24 jam mulai membawa perubahan bagi aktivitas ekonomi pedagang di kawasan tersebut. Para pedagang di belakang makam tidak diwajibkan membuka lapak sepanjang malam. Pemerintah Kota Blitar justru tengah menyiapkan pola pembagian giliran bagi pedagang yang ingin memanfaatkan peluang berjualan pada malam hari.
Skema tersebut disiapkan agar pedagang MBK tidak harus membuka lapak pada waktu yang sama. Sebagian pedagang dapat memperoleh giliran berjualan malam, sementara lainnya tetap berjualan pada siang hari. Dengan pola ini, aktivitas perdagangan di sekitar makam diharapkan tetap berjalan tanpa membuat seluruh pedagang harus beroperasi selama 24 jam.
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin mengatakan, jumlah pedagang yang mendapat giliran berjualan malam dapat disesuaikan dengan kondisi kunjungan wisata. Salah satu gambaran yang disampaikan adalah sekitar 10 hingga 20 persen dari keseluruhan pedagang membuka lapak pada malam hari.
Baca Juga: Pedagang MBK Keluhkan Kebijakan Buka 24 Jam, Wali Kota Blitar Janji Tampung Aspirasi dan Evaluasi
”Dibagi misalkan kalau malam 10 persen atau 20 persen, maka pedagangnya buka juga 10 persen atau 20 persen,” ujar Syauqul Muhibbin.
Pedagang MBK Bisa Berjualan dengan Sistem Giliran
Mekanisme pembagian pedagang tersebut masih akan dibahas lebih lanjut. Pemkot Blitar membuka sejumlah kemungkinan agar pembagian giliran dapat diterapkan secara adil dan disepakati bersama oleh para pedagang.
Baca Juga: MBK Dibuka 24 Jam, Kini Pengunjung Bisa Ziarah hingga Dini Hari dan Nikmati Suasana Malam Blitar
Salah satu opsi yang disebutkan adalah sistem giliran atau undian. Pedagang tertentu bisa mendapat kesempatan membuka lapak pada malam hari terlebih dahulu, kemudian giliran tersebut dapat diberikan kepada pedagang lainnya.
Menurut wali kota, pembagian tersebut juga memungkinkan mempertimbangkan kondisi pedagang. Misalnya, pedagang yang lebih muda dapat memperoleh giliran malam terlebih dahulu. Namun, mekanisme akhirnya masih perlu didiskusikan bersama.
”Jadi apakah nanti yang muda-muda buka malam duluan, bisa juga. Atau, bisa dengan digilir, misalkan diundi atau bagaimana. Jadi memang harus ada yang ngalahi buka malam dan buka siang,” jelasnya.
Pola tersebut menjadi salah satu upaya Pemkot Blitar merespons perubahan aktivitas setelah layanan kunjungan ke Makam Bung Karno dibuka selama 24 jam. Dengan adanya pembagian waktu, peluang ekonomi dari wisatawan malam tetap dapat dimanfaatkan tanpa membebani seluruh pedagang.
Kunjungan Malam ke Makam Bung Karno Belum Signifikan
Pemkot Blitar melihat peluang ekonomi dari kunjungan malam masih perlu dikembangkan. Sebab, jumlah wisatawan yang datang pada malam hari sejauh ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan kunjungan siang.
Berdasarkan grafik kunjungan pada sekitar setengah bulan pertama Agustus, jumlah kunjungan malam tercatat sekitar 2.000 orang. Sementara itu, kunjungan pada siang hari mencapai sekitar 18.000 orang.
Baca Juga: Pimpinan MPR Nyekar di MBK Jelang HUT ke-81 RI, Respons Isu Demonstrasi
Perbedaan tersebut menunjukkan aktivitas wisata di MBK masih lebih ramai pada siang hari. Karena itu, pembukaan layanan 24 jam belum otomatis membuat seluruh pedagang harus berjualan hingga malam.
”Kalau kita lihat grafik di setengah bulan pertama di Agustus itu baru hanya sekitar 2.000 kunjungan malam, kunjungan siang 18.000. Belum signifikan,” kata Syauqul.
Selain pedagang, aktivitas kunjungan malam juga berkaitan dengan sektor ekonomi lain di sekitar kawasan belakang makam. Pemkot menyebut sektor penginapan, homestay, serta UMKM turut terdampak oleh adanya aktivitas wisata pada malam hari.
Baca Juga: Kursi City Walk Wisata MBK Kota Blitar Rusak, Begini Respon Disbudpar
Pemkot Blitar Ingin Datangkan Wisatawan Internasional
Pemkot Blitar juga tengah mencari strategi untuk meningkatkan daya tarik Makam Bung Karno bagi wisatawan, termasuk pengunjung dari luar negeri.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan sehingga aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan makam ikut tumbuh. Tidak hanya pedagang, sektor penginapan, homestay, dan UMKM di sekitar MBK juga berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan kunjungan.
Wali kota mengatakan pemerintah sedang mencari cara agar Makam Bung Karno tidak hanya ramai dikunjungi wisatawan lokal, tetapi juga menarik wisatawan internasional.
”Kita juga sedang mencari cara agar para pengunjung selain lokal juga Internasional. Supaya semakin ramai dan ekonomi semakin tumbuh,” pungkasnya.
Editor : Regina Gavin Agata