Uky Tantra Suarakan Kerusakan Lingkungan Lewat Reklame Raksasa KresekMen di Blitar

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 12:30 WIB
MOCH SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR
KREATIF: Uky Tantra menunjukkan karya reklame berisi ilustrasi sosok KresekMen di hutan gundul yang terbakar.
MOCH SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR
KREATIF: Uky Tantra menunjukkan karya reklame berisi ilustrasi sosok KresekMen di hutan gundul yang terbakar.

BLITAR KAWENTAR – Uky Tantra punya cara berbeda untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap kerusakan lingkungan. Seniman muda sekaligus pemerhati lingkungan tersebut memilih reklame raksasa di ruang publik sebagai media untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kondisi alam.

Melalui karya bertajuk “HUTAN NAFAS KITA”, Uky Tantra menghadirkan sosok pahlawan imajiner bernama KresekMen. Visual tersebut menggambarkan hutan gundul dan terbakar dengan kondisi alam yang memprihatinkan. Pesan tentang kerusakan lingkungan itu sengaja ditempatkan di ruang publik agar dapat dilihat masyarakat luas.

Menurut Uky, reklame berukuran besar dipilih bukan sekadar untuk menarik perhatian. Dia ingin pesan mengenai lingkungan bisa menjangkau masyarakat yang mungkin tidak pernah datang ke galeri atau ruang seni konvensional.

Baca Juga: Tenggak Obat Kuat, Penghuni Kos di Garum Blitar Meninggal Dunia, Ditemukan Bersama Seorang Perempuan

Seni Jadi Media Menyentil Kesadaran

Bagi sebagian masyarakat, reklame di pinggir jalan identik dengan promosi produk atau jasa. Namun, karya Uky justru menghadirkan pesan tentang lingkungan hidup.

Karakter KresekMen ditampilkan berdiri di tengah kawasan hutan yang kosong dan gersang. Pepohonan digambarkan mati akibat penebangan, sementara sebagian lainnya terbakar. Kerusakan tersebut bahkan divisualisasikan meluas hingga kawasan pegunungan yang ikut menjadi kering.

Gambaran tersebut dibuat cukup ekstrem. Dalam visualisasi Uky, oksigen di permukaan bumi semakin habis sehingga manusia harus membawa tabung oksigen untuk bernapas. Oksigen itu digambarkan berasal dari sisa tanaman kecil yang masih mampu bertahan hidup.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa alam tidak hanya dinikmati oleh generasi saat ini. Menurut Uky, kondisi lingkungan yang ada sekarang juga akan menentukan kehidupan anak cucu pada masa mendatang.

Baca Juga: Cerita Dibalik Karya Lagu Seniman asal Blitar yang Soroti Ancaman Kerusakan Lingkungan di Raja Ampat Papua

“Jangan sampai keserakahan sesaat malah mengakibatkan matinya kehidupan makhluk bumi,” tegasnya.

Kegelisahan Melihat Alam yang Rusak

Karya tersebut lahir dari kegelisahan Uky melihat berbagai persoalan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah menjadi salah satu hal yang memantik perhatiannya.

Dia menilai sebagian kerusakan tidak terlepas dari aktivitas manusia. Pembukaan lahan maupun berbagai tindakan lain yang tidak memperhitungkan dampak jangka panjang dapat memperparah kondisi lingkungan.

Di Blitar, Uky juga melihat masih banyak persoalan yang perlu menjadi perhatian. Pohon ditebang untuk kepentingan wisata maupun lahan pertanian musiman. Bahkan, pohon di pinggir jalan kerap dipasangi paku untuk menempelkan iklan.

Baca Juga: Cegah Kerusakan Lingkungan di Lereng Kelud, Polisi dan Forkopimda Kabupaten Blitar Tanam Ratusan Pohon

Ada pula pohon yang dibakar hingga akhirnya tumbang. Berbagai kondisi tersebut kemudian mendorong Uky menggunakan seni sebagai sarana penyadaran masyarakat.

Menurut dia, dampak kerusakan lingkungan sebenarnya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya perubahan suhu dan iklim yang dinilai semakin tidak teratur.

“Saya melihat bumi sekarang terasa jauh lebih panas dibandingkan masa lalu,” ungkap Uky.

Kupu-Kupu hingga Kunang-Kunang Makin Jarang

Perubahan kondisi lingkungan juga dapat dilihat dari keberadaan sejumlah makhluk hidup. Uky menyebut kupu-kupu hingga kunang-kunang yang dahulu mudah dijumpai kini semakin sulit ditemukan.

Berdasarkan literatur yang dibacanya, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikator adanya gangguan terhadap ekosistem. Hilangnya atau berkurangnya makhluk hidup tertentu tidak semata-mata persoalan keindahan alam, tetapi juga dapat menjadi tanda perubahan lingkungan yang lebih luas.

Baca Juga: Astra Daihatsu Blitar Peduli Lingkungan, Serahkan Sarana Pengelolaan Sampah di Kelurahan Klampok

Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat yang tinggal di sekitar hutan atau wilayah pedesaan. Masyarakat perkotaan juga memiliki ketergantungan besar terhadap alam.

Udara, makanan, air, dan berbagai kebutuhan manusia berasal dari lingkungan. Karena itu, pembangunan dan aktivitas ekonomi tetap membutuhkan keseimbangan dengan alam.

Mengajak Publik Berpikir Lewat Visual

Kehadiran reklame “HUTAN NAFAS KITA” mendapat perhatian masyarakat. Uky menyebut sejumlah orang terkejut karena reklame besar biasanya dipenuhi iklan komersial, sedangkan karyanya justru mengajak orang berhenti sejenak dan merenungkan kondisi lingkungan.

Menurut Uky, seni visual memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan. Di tengah perkembangan teknologi dan maraknya desain berbasis kecerdasan buatan (AI), kreativitas manusia tetap memiliki ruang penting.

Dia menilai karya seni dapat membawa perasaan, imajinasi, dan pengalaman manusia yang tidak sekadar menyampaikan informasi secara tekstual. Karena itu, seniman dan anak muda kreatif dinilai memiliki peran untuk menyentil kesadaran publik.

Baca Juga: Ilustrator Asal Talun Angkat Isu Lingkungan Lewat Merchandise, Karya Sukayo Studio Kian Diminati

Melalui “HUTAN NAFAS KITA”, Uky berharap masyarakat maupun pengambil kebijakan semakin memperhatikan keseimbangan alam dalam pembangunan. Dia juga mendorong penegakan aturan yang lebih tegas terhadap pihak yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Caption foto: Uky Tantra menunjukkan karya KresekMen yang menyuarakan kepedulian terhadap kerusakan lingkungan. (*)

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
Uky Tantra HUTAN NAFAS KITA KresekMen blitar kerusakan lingkungan