BLITAR KAWENTAR — Muyasaroh, Kepala Desa Slorok, Kecamatan Doko, memiliki alasan sederhana ketika memutuskan terjun ke pemerintahan desa. Bukan semata mengejar jabatan, perempuan asal Lamongan itu ingin memiliki ruang lebih luas untuk membantu masyarakat.
Pengalaman Muyasaroh menjadi Kades Slorok bermula sekitar sewindu lalu. Pada 2018, dia memberanikan diri mencalonkan diri sebagai kepala Desa Slorok. Keputusan tersebut lahir setelah mendapat dorongan dari masyarakat dan dukungan keluarga.
Sebelum menjadi Kades Slorok, Muyasaroh bukanlah orang yang tidak memiliki kesibukan. Dia merupakan seorang ibu, menjalankan berbagai tanggung jawab rumah tangga, sekaligus mengelola bisnis yang dimilikinya. Salah satunya bergerak di bidang kuliner.
Baca Juga: Pilkades Kabupaten Blitar, 4 Desa Masih Bermasalah: Ada yang Kekurangan hingga Kelebihan Cakades
“Saya ini pendatang. Saya punya usaha, salah satunya kuliner,” ujar perempuan yang merupakan istri Purwanto tersebut.
Berawal dari Dorongan Masyarakat
Muyasaroh mengaku keputusan maju sebagai calon kepala desa bukan didorong ambisi pribadi. Ada masyarakat yang memberikan kepercayaan dan mendorongnya untuk mengambil peran lebih besar di Desa Slorok.
Bagi dia, membantu orang lain sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang menyenangkan jauh sebelum mengenal kontestasi politik desa. Karena itu, ketika momentum pemilihan kepala desa datang, dia melihatnya sebagai kesempatan untuk memperluas ruang pengabdian.
Namun, perjalanan menuju kursi kepala desa tidak selalu berjalan sesuai harapan. Muyasaroh menyadari bahwa kebaikan yang pernah diberikan kepada seseorang tidak otomatis berujung pada dukungan politik.
Bahkan, terdapat warga yang sebelumnya pernah mendapatkan bantuan darinya, tetapi pada saat pemilihan justru tidak memberikan dukungan kepadanya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya kecewa ataupun menyimpan kebencian.
“Semoga Allah ridho dengan niat baik saya ini dan warga Desa Slorok, Kecamatan Doko lebih banyak yang ikhlas dan kompak memberikan doa restu, dan dukungan kepada saya," ungkapnya.
Bagi Muyasaroh, membantu masyarakat tidak seharusnya dipandang sebagai transaksi. Kebaikan tidak harus dibalas dengan pilihan politik. Prinsip tersebut tetap dia pegang hingga kini.
Jabatan Membuka Ruang Lebih Luas
Pada akhirnya, masyarakat Desa Slorok memberikan kepercayaan kepada Muyasaroh. Dia terpilih dan kemudian menjalankan amanah sebagai kepala desa.
Menjadi orang nomor satu di desa bukan bagian yang paling membuatnya bahagia. Justru tanggung jawab yang melekat pada jabatan tersebut membuatnya merasa memiliki ruang lebih luas untuk berbuat bagi masyarakat.
Dengan kewenangan yang dimiliki pemerintah desa, persoalan warga yang sebelumnya hanya dapat dibantu secara personal kini bisa ditangani melalui kebijakan maupun program desa.
Ada kepuasan tersendiri bagi Muyasaroh ketika posisi yang dipercayakan masyarakat dapat digunakan untuk memberikan manfaat lebih luas.
Di tengah kesibukannya sebagai kepala desa, kehidupan pribadinya juga tetap berjalan. Dia merupakan ibu dari dua anak sekaligus perempuan yang masih memiliki aktivitas sebagai pengusaha.
Menjalankan berbagai peran tersebut tentu membutuhkan energi dan kemampuan membagi waktu.
“Semua membutuhkan energi, waktu, dan kemampuan untuk membagi perhatian,” ujarnya.
Mantapkan Langkah Menuju Pilkades 2026
Kini, perjalanan Muyasaroh memasuki babak berikutnya. Pilkades 2026 menjadi momentum yang kembali ingin dia jalani.
Dia menyadari kontestasi politik desa selalu memiliki dinamika. Perbedaan pilihan, dukungan, hingga berbagai persoalan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pemilihan kepala desa.
Baca Juga: Tahapan Pilkades Serentak di Kabupaten Blitar Dimulai Juli, DPMD Minta BPD Segera Bentuk Panitia
Namun, pengalaman masa lalu membuat Muyasaroh tidak mudah gentar. Baginya, Pilkades bukan hanya persoalan menang atau kalah.
Ada proses yang harus dijalani, ikhtiar yang harus dilakukan, sekaligus kepercayaan masyarakat yang harus dijaga.
Di tengah persiapan menghadapi Pilkades 2026, Muyasaroh tetap memegang prinsip yang sama. Menjadi kepala desa harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kalau dengan menjadi kepala desa bisa membantu lebih banyak orang, itu harus diperjuangkan. Dan itu membuat saya bahagia,” pungkasnya.
Editor : Regina Gavin Agata