ANGIN KENCANG: Tampak asap tebal kebakaran membumbung tinggi di sebagian kawasan hutan di Gunung Kawi, kemarin (14/9).
BLITAR KAWENTAR - Karhutla Gunung Kawi kian mengkhawatirkan. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan lereng Gunung Kawi hingga Gunung Butak belum berhasil dijinakkan.
Upaya pemadaman dari jalur darat menghadapi medan terjal serta embusan angin kencang yang membuat api semakin sulit dikendalikan.
Kondisi tersebut membuat rencana waterbombing atau pemadaman menggunakan helikopter pembawa tandon air belum dapat dilaksanakan.
Baca Juga: Karhutla Kabupaten Blitar Tembus 11 Kejadian, BPBD Ungkap Penyebab dan Minta Warga Waspada
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar Wahyudi mengatakan, operasi waterbombing sempat diusulkan sebagai langkah darurat untuk menjangkau titik api yang berada di lereng curam dan sulit didatangi personel melalui jalur darat.
Namun, karhutla Gunung Kawi kembali menghadapi kendala cuaca ekstrem. Angin yang bertiup semakin kencang membuat pelaksanaan waterbombing tidak memungkinkan.
Selain faktor keselamatan penerbangan, helikopter pembawa tandon air juga belum mendapatkan izin ruang udara yang dinilai aman untuk menjalankan operasi pemadaman dari udara.
Baca Juga: Dilarang Buang Puntung Rokok di Hutan, Polisi dan Perhutani Pasang Banner Cegah Karhutla di Blitar
Api Sulit Dijangkau dari Darat
Kebakaran yang terjadi pada Minggu (13/9) malam tersebut belum berhasil dikuasai tim pemadam darat.
Kondisi geografis kawasan menjadi salah satu kendala utama. Lereng Gunung Kawi dan Gunung Butak memiliki medan yang curam, terjal, serta licin sehingga menyulitkan pergerakan personel gabungan.
Wahyudi menjelaskan, kebakaran di kawasan Gunung Kawi dan Gunung Butak sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Namun, pada akhir pekan lalu muncul titik api baru yang hingga 14 September belum berhasil dikuasai. Situasi semakin sulit karena angin kencang berpotensi mempercepat penyebaran api ke area lain.
Baca Juga: Wamen ATR/BPN Tegaskan Pemegang HGU Wajib Cegah Karhutla, Langgar Sanksi Menanti!
Embusan angin di kawasan berketinggian juga membuat percikan api berpotensi berpindah ke vegetasi kering di lereng lainnya. Salah satu kawasan yang turut terancam adalah wilayah Sirahkencong, Kecamatan Wlingi.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, dan relawan telah disiagakan sejak Minggu (13/9). Mereka melakukan upaya pelokalisasian pergerakan api melalui jalur bawah.
Namun, proses pemadaman tidak berjalan mudah karena kondisi vegetasi yang kering serta kendala jaringan komunikasi internet di kawasan gunung.
Baca Juga: Wamen ATR/BPN Tegaskan Pemegang HGU Wajib Cegah Karhutla, Langgar Sanksi Menanti!
Waterbombing Terkendala Keselamatan Penerbangan. Waterbombing menjadi salah satu opsi yang diusulkan untuk mengatasi titik api yang sulit dijangkau dari darat. Metode tersebut dinilai dapat membantu pemadaman di kawasan lereng curam yang berisiko bagi keselamatan personel.
Akan tetapi, pelaksanaan waterbombing sangat bergantung pada kondisi angin dan keselamatan penerbangan. Dalam kondisi cuaca ekstrem, penerbangan helikopter tidak dapat dipaksakan. Karena itu, pemadaman dari udara belum bisa dilaksanakan meski usulan operasi tersebut sebelumnya telah disetujui.
Jalur Pendakian Gunung Butak Ditutup
Ancaman karhutla yang masih berada dalam status siaga tinggi juga berdampak pada aktivitas pendakian.
Pengelola menutup sementara jalur pendakian menuju puncak Gunung Butak melalui Sirahkencong sejak 1 September 2026. Penutupan dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan demi keselamatan pendaki.
Baca Juga: Kemarau Rawan Karhutla Kabupaten Blitar, BPBD Larang Warga Buka Lahan dengan Cara Dibakar
Pengelola wisata kebun teh Sirahkencong, Anam, memastikan penutupan tersebut hanya berlaku untuk aktivitas pendakian Gunung Butak.
Sementara itu, objek wisata kebun teh Sirahkencong yang berada di kawasan bawah masih aman dan tetap beroperasi normal bagi pengunjung.
Dengan kondisi angin yang masih menjadi faktor utama dalam penanganan kebakaran, tim gabungan terus melakukan pemantauan dan upaya pengendalian dari jalur yang memungkinkan.
Keselamatan personel serta kondisi penerbangan menjadi pertimbangan penting sebelum pemadaman melalui udara dapat kembali dilakukan. (jar/c1/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan