BLITAR KAWENTAR – Hasil tangkapan nelayan di Bumi Penataran melimpah, Senin (15/9). Namun, kondisi kolam labuh di Pelabuhan Perikanan Tambakrejo yang dangkal membuat nelayan kesulitan melakukan bongkar muat. Kondisi tersebut bahkan membuat kualitas ikan hasil tangkapan terancam menurun.
Karena kolam labuh dangkal, sejumlah nelayan terpaksa membongkar hasil tangkapan di tengah laut. Ikan yang berhasil ditangkap kemudian dipindahkan secara bertahap menuju daratan menggunakan perahu-perahu berukuran lebih kecil.
Salah seorang nelayan Tambakrejo, Pinaryanto, mengatakan kondisi tersebut cukup menyulitkan aktivitas nelayan. Selain membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak, proses pemindahan ikan dari perahu besar ke perahu kecil juga berpotensi memengaruhi kualitas hasil tangkapan.
Baca Juga: Gugur di Pelayaran Ketiga, Reyner Sempat Berbalas Chat dengan Istri Sebelum Hilang Kontak
IKAN HASIL TANGKAPAN HARUS DIBONGKAR DI TENGAH LAUT
Pinaryanto menjelaskan, nelayan kesulitan membawa perahu masuk ke pelabuhan ketika kolam labuh dalam kondisi dangkal. Akibatnya, hasil tangkapan tidak bisa langsung dibongkar di daratan.
Ikan harus diturunkan di tengah laut terlebih dahulu. Setelah itu, hasil tangkapan dicicil menggunakan perahu kecil menuju daratan.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika hasil tangkapan nelayan sedang bagus. Pada Senin (15/9), misalnya, nelayan mendapatkan ikan semar dalam jumlah cukup banyak. Namun, hasil tangkapan tersebut tidak bisa langsung dibawa masuk ke pelabuhan.
Baca Juga: Karhutla Gunung Butak Meluas hingga Pos 2, Angin Kencang Hambat Waterbombing
Proses pemindahan secara bertahap membuat kebutuhan tenaga kerja bertambah. Nelayan harus melakukan beberapa kali perjalanan menggunakan perahu kecil agar seluruh ikan dapat dibawa ke daratan.
Persoalan lainnya berkaitan dengan waktu. Ikan merupakan komoditas yang membutuhkan penanganan cepat agar kualitasnya tetap terjaga.
Semakin lama proses pembongkaran dan pemindahan, semakin besar pula potensi kualitas ikan menurun. Kondisi itu pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap nilai jual hasil tangkapan nelayan.
NELAYAN HARAPKAN PERBAIKAN KOLAM LABUH
Pinaryanto berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi kolam labuh Pelabuhan Tambakrejo. Menurut dia, keberadaan fasilitas tersebut sangat penting bagi aktivitas nelayan.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Blitar Melesat hingga Rp 75 Ribu per Kilo, Pedagang Sebut Kemarau Jadi Biang Ke
Pelabuhan menjadi tempat perahu keluar melaut sekaligus lokasi untuk membawa pulang dan membongkar hasil tangkapan. Karena itu, kondisi kolam labuh yang mendukung sangat dibutuhkan agar aktivitas nelayan dapat berjalan lancar.
Dia berharap persoalan kedangkalan tersebut segera mendapatkan solusi. Terlebih, nelayan selama ini berusaha menjalankan aktivitas sesuai aturan dan regulasi yang berlaku.
Kepala IPPP Tambakrejo Fandi Ahmad membenarkan kondisi kolam labuh yang saat ini kurang mendukung aktivitas nelayan. Menurutnya, persoalan kedangkalan tersebut memang sudah menjadi perhatian pengelola pelabuhan.
Baca Juga: Air Bersih 20 Ribu Liter Disalurkan Polisi ke Warga Wates, Krisis Air Makin Terasa akibat Kemarau Pa
Fandi mengatakan, pihaknya setiap tahun telah mengusulkan pengerukan atau pemeliharaan kolam labuh. Namun, hingga kini usulan tersebut belum bisa direalisasikan karena status aset lahan kolam labuh belum jelas.
Status lahan tersebut masih menjadi persoalan karena belum jelas apakah merupakan milik Pemerintah Kabupaten Blitar atau Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Padahal, menurut Fandi, sebenarnya sudah ada anggaran untuk penanganan kolam labuh. Namun, anggaran tersebut belum dapat direalisasikan karena masih terkendala status lahan.
KEDALAMAN MINIMAL SEKITAR SATU METER
Fandi menjelaskan, kondisi pasang surut air laut merupakan hal yang biasa dihadapi nelayan. Namun, perubahan muka air laut idealnya tidak sampai mengganggu operasional pelabuhan maupun mobilitas nelayan.
Secara teknis, kolam labuh memiliki ambang batas kedalaman minimal sekitar satu meter. Kedalaman tersebut diperlukan agar perahu tetap dapat bergerak serta aktivitas keluar-masuk dan bongkar muat hasil tangkapan berjalan.
Baca Juga: Embung Jatimalang Menyusut akibat Kemarau, Pemancing Justru Bisa Jangkau Spot Ikan Lebih Dekat
Menurut Fandi, kondisi kolam labuh Pelabuhan Tambakrejo saat ini memang sudah waktunya mendapatkan pemeliharaan. Pengerukan diperlukan untuk mengembalikan fungsi kolam sehingga aktivitas nelayan dapat kembali berjalan, terutama ketika air sedang surut.
Sembari menunggu penanganan, pihak IPPP Tambakrejo telah memberikan sosialisasi kepada nelayan mengenai kondisi pasang surut air laut. Nelayan diharapkan dapat menyesuaikan waktu aktivitas bongkar hasil tangkapan dengan kondisi air.
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah menunggu hingga air kembali pasang sebelum membongkar hasil tangkapan. Namun, cara tersebut juga memiliki konsekuensi.
Nelayan harus membawa es lebih banyak untuk menjaga ikan tetap dalam kondisi baik selama menunggu. Tambahan es berarti menambah biaya operasional.
Baca Juga: Kemarau Rawan Karhutla Kabupaten Blitar, BPBD Larang Warga Buka Lahan dengan Cara Dibakar
Sementara itu, nelayan tidak pernah bisa memastikan hasil tangkapan setiap kali melaut. Jika hasil tangkapan sedikit atau bahkan tidak mendapatkan ikan, tambahan biaya tersebut justru berpotensi menambah kerugian.
Karena itu, persoalan kedangkalan kolam labuh tidak hanya berdampak pada kelancaran bongkar muat, tetapi juga berkaitan dengan waktu, biaya operasional, serta kualitas dan nilai jual hasil tangkapan nelayan. (hai/c1/ady)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan