Aditya Yoga Widiansyah, Kreator Muda Blitar yang Mengangkat Cerita dari Balik Kamera

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 13:00 WIB
BEBAKAT: Potensi Aditya Yoga Widiansyah dalam dunia videografi terus dikembangkan hingga kini.
BEBAKAT: Potensi Aditya Yoga Widiansyah dalam dunia videografi terus dikembangkan hingga kini.

BLITAR KAWENTAR - Kamera bagi Aditya Yoga Widiansyah bukan sekadar alat untuk merekam gambar. Lewat perangkat tersebut, kreator konten muda asal Kota Blitar itu berusaha mendekat kepada orang-orang di sekitarnya sekaligus mendengarkan cerita kehidupan yang kerap luput dari perhatian.

Pedagang pasar, petani, pelaku UMKM, hingga warga lanjut usia menjadi bagian dari cerita yang diangkat Aditya melalui konten-kontennya. Di tengah derasnya konten hiburan dan tren yang berganti cepat, dia memilih fokus pada cerita human interest.

Bagi Aditya, cerita menarik tidak selalu harus berasal dari tempat mewah atau kehidupan yang gemerlap. Justru, kisah yang kuat bisa ditemukan dari lingkungan sekitar. “Justru, cerita itu bisa ditemukan di sekitar,” ujarnya.

Baca Juga: Vivo Y100 5G Dibanderol Rp3 Jutaan, Bawa Fitur yang Jarang Ada di Seri Y

Ketertarikan Aditya terhadap dunia videografi tumbuh sejak berusia sekitar 10 tahun. Kala itu, kamera dan video masih sebatas hobi. Dia belum berpikir untuk menjadikannya sebagai jalan berkarya maupun peluang usaha.

Kedekatan dengan dunia kamera tidak terlepas dari latar belakang keluarganya. Ayahnya merupakan seorang videografer profesional. Sejak kecil, Aditya pun sudah akrab dengan berbagai jenis kamera.

Momentum perubahan datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat aktivitas masyarakat terbatas dan sekolah menerapkan pembelajaran dari rumah, Aditya mengikuti lomba video kreatif tentang Covid-19 yang digelar dinas pendidikan.

Baca Juga: Vivo V60 Dibanderol Mulai Rp7 Jutaan, Bawa Kamera Telephoto dan Baterai 6.500 mAh

Video tersebut dibuat seorang diri. Tidak disangka, karya itu berhasil meraih juara pertama. Prestasi tersebut menjadi titik penting yang membuatnya menyadari bahwa hobinya memiliki peluang lebih besar.

Sejak saat itu, dunia videografi mulai ditekuni lebih serius. Bukan hanya sebagai ruang berekspresi, tetapi juga sebagai peluang usaha.

Perjalanan Aditya sebagai kreator konten tidak langsung berjalan mulus. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan peralatan.

Kamera yang digunakan saat awal berkarya hanyalah kamera poket bekas milik ayahnya. Kualitas gambar tentu belum dapat disamakan dengan perangkat profesional.

Namun, keterbatasan tersebut justru membuatnya belajar mengoptimalkan aspek lain. Mulai dari teknik pengambilan gambar hingga bagaimana membangun kekuatan cerita.

Baca Juga: Vivo V40 Lite 4G Dibanderol Rp3 Jutaan, Ternyata Bawa Fitur yang Tak Disangka

Tantangan juga datang dari lingkungan sekitar. Ketika masih bersekolah, aktivitas membuat video sempat dianggap aneh oleh sebagian orang. Aditya bahkan pernah mendapat komentar seperti cringe dan dianggap sok menjadi YouTuber.

Komentar tersebut sempat memengaruhi kepercayaan dirinya. Namun, pandemi justru menjadi momentum baginya untuk kembali konsisten membuat konten. Kanal YouTube yang dikelolanya perlahan menunjukkan perkembangan.

Kini, Aditya lebih banyak tertarik mengangkat cerita sederhana dari lingkungan sekitar. Salah satu lokasi yang cukup sering didatanginya adalah Pasar Legi.

Baca Juga: Vivo V70 Resmi Dibahas, Upgrade dari V60 Bukan Sekadar Ganti Desain

Intensitas kunjungan ke pasar tradisional tersebut membuatnya semakin mengenal para pedagang. Dari sana, dia menemukan berbagai sisi kehidupan yang sebelumnya mungkin tidak terlihat.

Sebagian pedagang yang ditemuinya bahkan berusia 70 hingga 80 tahun. Mereka tetap bekerja dengan alasan yang beragam. Ada yang ingin terus beraktivitas agar tubuh tetap sehat. Ada pula yang bertahan karena anak-anak mereka sudah memiliki pekerjaan sendiri dan tidak ingin meneruskan usaha tersebut.

Cerita-cerita tersebut menjadi pengalaman yang menyentuh bagi Aditya. Di balik aktivitas sederhana berjualan di pasar, tersimpan perjalanan panjang masing-masing pedagang.

Mereka harus mengambil barang atau jajanan sejak pagi untuk kemudian dijual kembali. Ketika persaingan dengan belanja online dan pasar modern semakin terasa, perjuangan tetap dilakukan.

“Orang-orang di sini itu latar belakang perjuangannya banyak,” ujarnya.

Baca Juga: Samsung Galaxy A57 Naik Kelas di Desain, tapi Upgrade dari A56 Dinilai Tipis

Dalam membuat konten, Aditya tidak sembarangan mengarahkan kamera kepada warga. Dia menyadari kamera bisa membuat seseorang merasa terancam apabila digunakan tanpa pendekatan yang tepat.

Karena itu, percakapan menjadi langkah pertama. Dia memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan pembuatan konten, kemudian meminta kesediaan narasumber.

Jika warga tidak bersedia, Aditya memilih tidak memaksa. Baginya, narasumber bukan sekadar objek visual. Mereka memiliki kehidupan, perasaan, dan pertimbangan sendiri untuk memutuskan mau bercerita di depan kamera.

Baca Juga: Samsung Galaxy A57 Naik Kelas Dari Segi Desain, Upgrade dari A56 Dinilai Tipis

Sebelum wawancara, dia biasanya menyusun konsep dan skrip berdasarkan hasil observasi. Pertanyaan pun dibuat berdasarkan pengalaman nyata narasumber.

Aditya menghindari cerita yang dibuat-buat karena hal tersebut berpotensi menjadi eksploitasi. Menurutnya, cerita yang lahir dari pengalaman nyata justru terasa lebih tulus.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi setelah sebuah videonya diunggah. Seorang pengguna mengaku sebagai keluarga dari narasumber dalam video tersebut dan menyampaikan terima kasih karena sang ibu telah diberi ruang untuk bercerita.

Bagi Aditya, pengalaman itu menunjukkan bahwa konten tidak selalu harus diukur dari jumlah penonton. Ada dampak lain yang lebih berarti, yakni ketika seseorang merasa didengar dan keberadaannya diketahui orang lain.

Ke depan, dia ingin terus menghasilkan karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Aditya juga mengajak anak muda Blitar tidak selalu merasa harus mengikuti sesuatu yang sedang viral untuk menghasilkan karya.

Baca Juga: HP Samsung RAM 8/256 GB yang Disebut Worth It di 2026, Harga Mulai Rp2,5 Jutaan

Menurutnya, Blitar memiliki banyak cerita, mulai kearifan lokal, budaya, kuliner, candi, hingga jejak Bung Karno. Karena itu, anak muda dapat memulai karya dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka.

“Intinya, mulailah dari hal-hal terdekat dulu,” pesannya.

Bagi Aditya, tempat seseorang tumbuh bukan sekadar titik di peta. Blitar merupakan tempat yang turut membentuk pola pikir dan pribadi. Karena itu, anak muda yang lahir dan besar di Blitar diharapkan mampu memberikan dampak bagi daerahnya. (*/c1/ady)

Editor : Azahra Meilisani Salma
kreator konten blitar videografi blitar Human Interest Aditya Yoga Widiansyah anak muda blitar