BLITAR KAWENTAR – 10 siswa SLB Negeri 1 Kota Blitar sakit perut dan mual setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (16/9) pagi.
Para siswa tersebut kemudian dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Peristiwa 10 siswa SLB Negeri 1 Kota Blitar sakit perut dan mual itu bermula setelah makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 08.30.
Baca Juga: AI untuk Guru Bukan Pengganti Pendidik, Justru Bisa Bantu Buat Pembelajaran Lebih Efektif
Sekitar pukul 09.15, seorang siswa mulai mengeluhkan sakit perut dan mual. Tak lama berselang, beberapa siswa lain mengalami keluhan serupa.
Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Sarpras SLB Negeri 1 Kota Blitar Yulia mengatakan, keluhan siswa muncul beberapa saat setelah mereka menyantap jatah MBG.
Siswa yang pertama mengalami keluhan kemudian dibawa ke Puskesmas Kepanjenkidul untuk mendapat penanganan.
Baca Juga: Aquascape Iwagumi Tak Sekadar Susun Batu, Ini Kunci Membuat Layout Terlihat Natural
Setelah siswa pertama dibawa ke fasilitas kesehatan, sekitar tujuh siswa lainnya juga mengalami sakit perut dan mual. Keluhan tersebut disebut muncul setelah para siswa mengonsumsi makanan MBG.
Pihak sekolah kemudian membawa para siswa ke sejumlah fasilitas kesehatan. Di antaranya Puskesmas Kepanjenkidul, Klinik Siti Khodijah, dan RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar.
Sekolah juga sempat memberikan air kelapa kepada siswa yang mengalami keluhan. Secara keseluruhan, terdapat 10 siswa yang mendapat penanganan medis dan diantarkan ke fasilitas kesehatan.
Selain itu, ada seorang siswa lain yang mengalami keluhan. Namun, pihak sekolah menduga kondisi tersebut muncul karena siswa panik setelah melihat sejumlah temannya mengalami sakit perut dan mual.
Dari seluruh siswa yang mendapat penanganan, satu anak harus menjalani perawatan di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar.
Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah kemudian melarang sebagian besar siswa menyantap makanan MBG.
Baca Juga: Cara Mengajarkan Anjing Duduk dengan Snack, Pemilik Bisa Coba Langkah Ini
Sebelumnya, sekolah juga telah menyampaikan keluhan mengenai kondisi makanan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Yulia, SPPG kemudian memberikan informasi kepada sekolah agar makanan tersebut tidak dibagikan kepada siswa. Pihak sekolah selanjutnya menginstruksikan agar makanan yang belum dikonsumsi dibuang.
Dengan demikian, tidak seluruh siswa SLB Negeri 1 Kota Blitar sempat menyantap makanan MBG pada hari tersebut.
Baca Juga: Bonsai Santigi Dibentuk dengan Konsep Piramida Miring, Ini Tahapannya
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar Agus Sabtoni membenarkan adanya seorang siswa yang datang ke rumah sakit sekitar pukul 10.00.
Pasien tersebut datang bukan melalui rujukan. Menurut Agus, siswa dibawa ke RSUD Mardi Waluyo karena fasilitas kamar di puskesmas saat itu penuh.
Saat tiba di rumah sakit, siswa mengalami mual dan sempat muntah satu kali. Petugas kemudian melakukan observasi serta memberikan perawatan kepada pasien.
Baca Juga: Bonsai Beringin Lokal Benjamin Bisa Diperbanyak Akar Gantung, Begini Prosesnya
Hasil observasi menunjukkan kondisi siswa tersebut aman. Setelah mendapatkan obat dan penanganan medis, siswa akhirnya diperbolehkan pulang.
Terkait dugaan apakah keluhan yang dialami para siswa merupakan keracunan atau bukan, Agus mengatakan pihak rumah sakit tidak berwenang memastikan penyebabnya.
Penentuan penyebab masih menjadi kewenangan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar. Pemeriksaan sampel diperlukan untuk memastikan apakah makanan tersebut berkaitan dengan keluhan yang dialami para siswa.
Baca Juga: Home Decor Bisa Gagal Estetis karena 10 Kesalahan Ini Saat Bangun Rumah
Agus menegaskan, pemeriksaan sampel menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut. Hingga pemeriksaan dilakukan, belum dapat dipastikan apakah keluhan siswa berkaitan dengan keracunan makanan.
Peristiwa ini membuat pihak sekolah mengambil langkah cepat dengan menghentikan konsumsi MBG setelah menerima informasi dari SPPG.
Penanganan terhadap siswa yang mengalami keluhan juga langsung dilakukan dengan membawa mereka ke sejumlah fasilitas kesehatan. (bud/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari