BLITAR KAWENTAR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mengirim sampel makanan MBG ke laboratorium BPLK Surabaya untuk diperiksa. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari investigasi setelah 22 siswa mengalami gejala kesehatan usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pengiriman sampel makanan MBG tersebut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi para siswa. Dinkes mengambil sampel dalam beberapa kondisi, mulai makanan yang belum dikonsumsi, makanan yang sudah dimasak, hingga makanan yang telah dimakan.
Pemeriksaan sampel makanan MBG di laboratorium menjadi bagian dari prosedur penanganan dugaan keracunan makanan atau kontaminasi pangan. Namun, hingga kini Dinkes Kota Blitar belum menyimpulkan penyebab munculnya gejala pada 22 siswa tersebut.
Baca Juga: Aliansi SPPG Blitar Raya Dukung Program MBG, Serap Ribuan Tenaga Kerja dan Gerakkan Ekonomi Lokal
Sampel Makanan Dikirim ke Laboratorium
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar Dissie Laksmonowati Arlini menjelaskan, pemeriksaan laboratorium dilakukan sebagai bagian dari investigasi untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi pada makanan.
Menurut Dissie, penanganan kasus dugaan keracunan makanan maupun kontaminasi pangan memang membutuhkan proses investigasi. Sampel yang dinilai memungkinkan mengalami kontaminasi kemudian diperiksa di laboratorium yang telah menjadi standar pemeriksaan.
“Jadi untuk standar operasional prosedur dalam penanganan keracunan makanan atau kontaminasi pangan, kita harus melakukan investigasi. Kemudian, sampel yang dimungkinkan di situ terkontaminasi dilakukan pemeriksaan laboratorium,” ujar Dissie.
Laboratorium BPLK Surabaya menjadi tempat pemeriksaan sampel makanan yang dikirim oleh Dinkes Kota Blitar. Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat membantu petugas dalam mendalami kondisi yang terjadi.
Nasi hingga Buah Melon Ikut Diperiksa
Dissie menyebut sejumlah jenis makanan yang dikirim untuk pemeriksaan. Sampel tersebut di antaranya nasi, rolade, telur, tahu, sayuran tumis, dan buah melon.
Berbagai makanan tersebut menjadi bahan pemeriksaan karena merupakan bagian dari menu yang dikonsumsi penerima manfaat. Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi yang berkaitan dengan munculnya gejala pada sejumlah siswa.
Dinkes masih menunggu proses pemeriksaan laboratorium sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa. Karena itu, masyarakat diminta menunggu hasil investigasi secara menyeluruh.
Penyebab Gejala Belum Disimpulkan
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Kabupaten Blitar Turun Saat Dapur MBG Libur, Disperindag Ungkap Penyebabnya
Dinkes Kota Blitar belum menyatakan bahwa makanan MBG menjadi penyebab munculnya gejala pada siswa. Dissie menegaskan perlunya kehati-hatian dalam menarik kesimpulan karena tidak seluruh penerima manfaat yang mengonsumsi makanan tersebut mengalami keluhan.
Dari seluruh penerima manfaat yang menyantap makanan tersebut, tercatat 22 orang mengalami gejala. Sementara penerima manfaat lainnya tidak mengalami gejala kesehatan.
“Ya, asas praduga tak bersalah semuanya. Karena dari sekian penerima manfaat yang sudah makan itu, yang bergejala kemarin 22 orang,” kata Dissie.
Menurut dia, kondisi penerima manfaat yang mengonsumsi makanan tetapi tidak mengalami gejala juga perlu menjadi bagian dari pendalaman. Hal tersebut diperlukan agar investigasi tidak hanya berfokus pada penerima manfaat yang mengalami keluhan.
“Jadi kan kita juga perlu tahu ini yang mengonsumsi tapi tidak bergejala kan kenapa. Jadi tidak bisa kita menyimpulkan dalam waktu yang singkat ini. Masih perlu ada proses yang perlu kita dalami,” terangnya.
Tidak Ada Tambahan Siswa Bergejala
Selain melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan MBG, Dinkes Kota Blitar masih memantau kondisi para siswa yang sebelumnya mengonsumsi makanan tersebut.
Hingga kemarin, Dinkes menyampaikan belum ada tambahan siswa yang mengalami gejala. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan yang terus dilakukan sembari menunggu proses investigasi dan pemeriksaan laboratorium.
“Alhamdulillah mulai kemarin tidak ada tambahan,” pungkas Dissie. (bud/c1/ady)
Editor : Regina Gavin Agata