Dugaan Keracunan MBG di Kota Blitar, SPPG Di-suspend Sambil Tunggu Hasil Lab

Noormalady Usman • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 09:19 WIB
SPPG terkait kasus dugaan keracunan MBG di Kota Blitar dihentikan sementara sambil menunggu hasil uji sampel makanan di laboratorium.
SPPG terkait kasus dugaan keracunan MBG di Kota Blitar dihentikan sementara sambil menunggu hasil uji sampel makanan di laboratorium.

BLITAR KAWENTAR - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan kasus 22 siswa mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Blitar langsung dikenai suspend. Penghentian sementara pelayanan tersebut mulai berlaku Kamis (17/9) dan diberlakukan maksimal selama 20 hari kalender.

Penghentian sementara dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan yang telah dikirim ke laboratorium. Hasil uji tersebut nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG yang bersangkutan.

Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Blitar, Titik Nur Azizah, mengatakan pembukaan kembali SPPG masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar.

Baca Juga: Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai 10.000 mAh, Ini Detail Spesifikasi yang Diungkap

“SPPG yang bersangkutan sudah di-suspend sejak Kamis (17/9), nanti maksimal 20 hari kalender. Untuk pembukaan, kita menunggu surat dari dinkes dengan hasil sampel makanan yang diujikan,” ujar Titik kepada Koran ini, Kamis (18/9).

Selama masa suspend, pihak BGN masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab munculnya gejala pada penerima manfaat MBG.

Salah satu kemungkinan yang disebut dalam pemeriksaan awal adalah adanya dugaan zat arsenik yang berasal dari pestisida pada bahan baku makanan. Namun, dugaan tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium sehingga belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya keluhan pada siswa.

Baca Juga: Redmi Note 17 Pro Max Dikabarkan Hadir di Indonesia, Simak Layar, Kamera, dan Baterainya

“Dari hasil pengecekan, diduga adanya zat arsenik, kemungkinan dari pestisida dari bahan baku. Tapi, kita menunggu dari laboratorium,” jelas Titik.

Dia menambahkan, apabila hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan adanya persoalan pada bahan baku yang digunakan SPPG, maka proses penanganan perlu diperhatikan kembali. Salah satunya berkaitan dengan proses pencucian bahan sebelum digunakan untuk produksi makanan.

“Kalau memang itu di bahan baku dari SPPG, harus menyiapkan lagi, terutama dalam proses pencucian,” lanjutnya.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk mengetahui secara lebih jelas penyebab munculnya gejala pada siswa yang mengonsumsi makanan MBG.

Titik juga menjelaskan waktu produksi makanan MBG pada batch pertama. Proses memasak dimulai sekitar pukul 01.00 dan berlangsung hingga sekitar pukul 06.00.

Baca Juga: Redmi Note 17 Pro Max Dikabarkan Hadir di Indonesia, Simak Layar, Kamera, dan Baterainya

Setelah makanan selesai dimasak, proses distribusi kepada penerima manfaat dimulai sekitar pukul 07.00.

“Untuk batch pertama dimulai jam 1 malam, selesai masak jam 6, lalu didistribusikan mulai jam 7,” pungkasnya.

Informasi mengenai proses produksi tersebut menjadi bagian dari penelusuran yang dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan di laboratorium.

Baca Juga: Redmi Note 17 Pro Max Andalkan Baterai 10.000 mAh, Kamera dan Chipset Jadi Catatan

Sebelumnya, sebanyak 10 siswa SLB Negeri 1 Blitar dilaporkan harus mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan terdekat setelah mengeluhkan sakit perut dan mual beberapa saat setelah menyantap jatah MBG.

Kondisi tersebut kemudian mendapat respons dari pihak sekolah dan SPPG. Makanan yang belum dikonsumsi langsung dilarang untuk dimakan dan ditarik dari siswa.

Langkah tersebut dilakukan setelah muncul keluhan dari sejumlah siswa yang telah mengonsumsi makanan MBG.

Sementara itu, penanganan terhadap SPPG masih berlangsung. Penghentian sementara pelayanan diberlakukan maksimal 20 hari kalender sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan.

Hasil laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kandungan makanan yang diperiksa serta membantu memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami penerima manfaat.

Hingga hasil pemeriksaan tersebut keluar, dugaan adanya zat arsenik pada bahan baku masih sebatas kemungkinan yang disampaikan berdasarkan pengecekan awal dan belum menjadi kesimpulan akhir. (bud/c1/ady)

Editor : Azahra Meilisani Salma
mbg kota blitar SPPG Kota Blitar dugaan keracunan MBG arsenik siswa