MERIAH: Foto bersama usai suksesnya pementasan SAKTI di Pendapa RBK Wlingi pada Sabtu (19/9) malam.
BLITAR KAWENTAR – Rumah Blitar Kreatif (RBK) Wlingi menjadi panggung pertunjukan drama tari inklusif melalui pementasan SAKTI atau Seni Anak Berkebutuhan Khusus Berbakti pada Budaya Pertiwi. Pertunjukan bertajuk Jejak Batu, Napas Peradaban tersebut digelar di Pendapa RBK Wlingi pada Sabtu (19/9) malam.
Pementasan SAKTI menjadi bagian dari implementasi lapangan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur yang diterima Sulistiani. Kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan sanggar Rumah Cinta Indonesia.
Sekitar 100 anak dari sejumlah sekolah luar biasa (SLB) dan komunitas turut terlibat dalam rangkaian kegiatan. Mereka tidak hanya tampil dalam pementasan, tetapi sebelumnya juga diajak mengikuti wisata sejarah untuk mengenal berbagai situs dan peninggalan budaya di wilayah Blitar.
Baca Juga: 13 Titik Penyeberangan Brantas di Blitar Bakal Diperkuat Standar Keselamatannya
Anak ABK Diberi Ruang Tunjukkan Potensi
Sulistiani mengungkapkan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mendampingi pementasan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan dan potensi yang mereka miliki.
Pementasan drama tari inklusif juga diharapkan dapat memberikan pengalaman berharga bagi para peserta. Keterlibatan mereka dalam kegiatan seni dan budaya menjadi ruang untuk berekspresi sekaligus membangun kepercayaan diri.
“Momen ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan potensinya. Semoga menjadi kenangan indah di masa depan,” ungkap Sulistiani.
Baca Juga: Hipertensi dan Diabetes Dominasi Temuan PTM di Kota Blitar, CKG Capai 52,05 Persen
Dukungan juga datang dari Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Blitar (DKKB), Kholam Shiharta. Dia mengapresiasi pelaksanaan SAKTI yang dinilai dapat terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak.
Libatkan Sekitar 100 Anak dari Sejumlah SLB
Kolaborasi dalam pementasan SAKTI melibatkan sekitar 100 anak. Mereka berasal dari SLB Muji Utomo di Desa/Kecamatan Gandusari, SLBN Talun di Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun, serta SLB Sari Wiyata Wlingi di Kelurahan Beru, Kecamatan Wlingi.
Selain itu, kegiatan tersebut juga melibatkan Rumah Cinta Indonesia yang berada di Kelurahan Beru, Kecamatan Wlingi, serta Kala Parama di Kelurahan/Kecamatan Sananwetan.
Keterlibatan berbagai lembaga tersebut membuat pementasan tidak hanya menjadi kegiatan seni, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara anak berkebutuhan khusus, komunitas, pendamping, dan pegiat kebudayaan.
Pertunjukan Jejak Batu, Napas Peradaban kemudian menjadi puncak kegiatan yang mempertemukan unsur seni, pendidikan, sejarah, dan budaya.
Baca Juga: Izin Dapur MBG Jadi Atensi Utama, Pemkot Blitar Kawal Ketat 30 SPPG agar Sesuai Regulasi
Diawali Wisata Sejarah ke Situs Budaya
Sebelum pementasan, rangkaian kegiatan SAKTI telah dimulai pada Jumat (18/9) pagi. Anak-anak SLB Muji Utomo bersama Praja Tegak SMA Negeri 1 Talun yang menjadi sukarelawan mengikuti kegiatan wisata sejarah.
Mereka diajak mengunjungi sejumlah situs dan peninggalan sejarah di empat kecamatan, yakni Gandusari, Talun, Wlingi, dan Doko.
Lokasi yang dikunjungi meliputi Situs Sukosewu dan Candi Kotes di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari; Prasasti Jajar di Desa Jajar, Kecamatan Talun; Prasasti Munggut di Kelurahan Beru, Kecamatan Wlingi; serta Candi Plumbangan di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko.
Dalam perjalanan tersebut, anak-anak diajak mengamati relief dan altar, memahami kearifan lokal serta sejarah, hingga mengenal literasi aksara kuno dan lingkungan situs.
Baca Juga: Kakek 73 Tahun di Ponggok Diduga Cabuli Remaja Disabilitas, Terancam 12 Tahun Penjara
Mereka juga mendapatkan pengenalan mengenai struktur Gapura Paduraksa. Perjalanan wisata sejarah tersebut dilakukan menggunakan kereta wisata sehingga memberikan pengalaman berbeda bagi para peserta.
Seni dan Sejarah Jadi Ruang Pembelajaran
Rangkaian kegiatan SAKTI mempertemukan seni pertunjukan dengan pengenalan sejarah dan budaya. Anak-anak tidak hanya mendapatkan kesempatan tampil di atas panggung, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dengan mengunjungi berbagai situs bersejarah.
Pementasan di RBK Wlingi sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan dapat menjadi ruang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Melalui kolaborasi tersebut, mereka mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi, berkarya, sekaligus mengenal warisan budaya di daerahnya.
Baca Juga: 214 Kepala Sekolah di Kabupaten Blitar Jalani Seleksi untuk Periode Kedua
Kegiatan ini turut mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Dewan Kebudayaan Kabupaten Blitar, komunitas, relawan, serta sejumlah pihak yang mendukung pelaksanaan pementasan.
Panggung RBK Wlingi pun menjadi tempat bagi anak-anak untuk menampilkan hasil proses yang mereka jalani dalam rangkaian SAKTI melalui drama tari Jejak Batu, Napas Peradaban. (ynu/c1/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan