BLITAR KAWENTAR – Mohammad Trijanto memilih mundur dari bursa pencalonan Ketua KONI Kota Blitar periode 2026-2030 meski telah mendapatkan dukungan dari 14 cabang olahraga (cabor). Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kesibukan organisasi, agenda pergerakan nasional, serta profesinya sebagai Direktur Revolutionary Law Firm.
Trijanto menilai jabatan Ketua KONI Kota Blitar bukan sekadar soal banyaknya dukungan. Posisi tersebut membutuhkan waktu, tenaga, dan konsentrasi untuk memastikan pembinaan atlet serta olahraga daerah berjalan maksimal.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh teman-teman cabor dan semua pihak yang telah mendukung saya. Setelah saya pertimbangkan secara matang, saat ini saya memiliki banyak kesibukan organisasi, agenda pergerakan nasional, serta pekerjaan profesi hukum sebagai Direktur Revolutionary Law Firm yang cukup padat,” ujarnya, kemarin (21/9).
Baca Juga: Bursa Ketua KONI Kota Blitar Memanas, Wawali Elim Tyu Samba dan Inspektur Daerah Ratih Dewi Indarti
Tetap Aktif Bina Atlet Percasi Kota Blitar
Meski mundur dari kontestasi Ketua KONI Kota Blitar, Trijanto memastikan pengabdiannya di dunia olahraga tidak berhenti. Salah satunya diwujudkan melalui aktivitasnya bersama Percasi Kota Blitar.
Di tengah belum turunnya anggaran pembinaan, pengurus Percasi tetap berupaya menjaga kegiatan latihan dan pembinaan atlet. Sekretariat Percasi di kawasan Ruko Stadion Supriyadi bahkan dibuka selama 24 jam dan dimanfaatkan sebagai tempat pecatur berlatih, bermain, maupun berdiskusi.
Baca Juga: Tujuh Anggota DPRD Kota Blitar Dilaporkan Terkait Aksi KONI, Ini Duduk Perkaranya
Fasilitas tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi atlet. Anak-anak usia sekolah hingga masyarakat umum juga dapat memanfaatkannya untuk mengenal dan bermain catur.
Percasi Kota Blitar juga menghadirkan Kantin Kejujuran yang menyediakan makanan, camilan, dan minuman. Sistem pembayarannya dilakukan secara mandiri. Pengunjung mengambil barang dan membayar pada kotak yang telah disediakan, termasuk mengambil uang kembalian jika diperlukan.
Bagi Trijanto, keberadaan Kantin Kejujuran bukan sekadar upaya mendukung aktivitas di sekretariat. Ada nilai pendidikan karakter yang ingin ditanamkan kepada atlet catur.
“Catur itu mengajarkan sportivitas. Dengan kejujuran, semua bisa berjalan dengan baik. Kita ingin nilai itu tidak hanya ada di papan catur, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Persiapan POPDA Jatim dan Kejurnas
Aktivitas pembinaan tetap berjalan meski anggaran belum turun. Pengurus Percasi Kota Blitar kini juga menyiapkan atlet menghadapi POPDA Jatim di Ngawi pada Oktober 2026 dan Kejurnas Catur di Banten pada November mendatang.
Pengurus bersama wali atlet berupaya bergotong royong agar para atlet tetap dapat mengikuti dua ajang tersebut. Menurut Trijanto, proses pembinaan tidak selalu harus menunggu fasilitas mahal atau anggaran pemerintah.
Baca Juga: Dugaan Pelibatan Pelajar di Aksi KONI Kota Blitar Dilaporkan ke Polisi
Kemauan, ruang latihan, dan konsistensi menjadi bagian penting untuk menjaga pembinaan atlet tetap berjalan.
“Kalau kita ingin membangun prestasi, kita juga harus membangun karakternya. Kejujuran, sportivitas, dan kemandirian harus menjadi bagian dari perjalanan seorang atlet. Selain itu, pengurus juga tidak boleh hanya berpangku tangan hanya karena anggaran yang tidak turun-turun,” ujarnya.
Serahkan Pilihan kepada Cabor
Baca Juga: Dana Hibah KONI Blitar Rp2,8 Miliar Belum Cair, Wali Kota Tegaskan Uang Atlet Tak Hilang
Terkait keputusannya mundur dari bursa Ketua KONI Kota Blitar, Trijanto menyerahkan sepenuhnya pilihan kepada cabor yang sebelumnya memberikan dukungan. Dia tidak memberikan arahan untuk memilih calon tertentu.
“Saya memberikan kebebasan sepenuhnya kepada seluruh cabor yang pernah mendukung saya untuk menentukan pilihan sesuai hati nurani masing-masing,” ungkapnya.
Dia berharap pemilihan Ketua KONI Kota Blitar periode 2026-2030 berlangsung demokratis dan kondusif serta tetap berpedoman pada AD/ART KONI.
Di luar dinamika pemilihan, Trijanto menilai pembinaan atlet dan aktivitas cabor harus tetap menjadi perhatian. Dia juga mendorong agar porsi anggaran pembinaan lebih besar dibandingkan alokasi untuk kebutuhan kesekretariatan KONI.
Menurutnya, wali atlet dan pengurus cabor selama ini memiliki peran besar dalam proses pembinaan. Karena itu, siapapun yang nantinya memimpin KONI Kota Blitar diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap cabor dan atlet.
“Jabatan itu sementara, tetapi pengabdian pada olahraga itu selamanya. Saya tetap mendukung kemajuan olahraga Kota Blitar demi prestasi, persatuan, dan kebanggaan daerah,” pungkas Trijanto.
Editor : Regina Gavin Agata