BLITAR KAWENTAR – Cara menegur di ruang digital menjadi hal penting di tengah kebiasaan masyarakat menyampaikan pendapat melalui media sosial. Kebebasan berkomentar membuat siapa pun dapat memberikan kritik ketika melihat tindakan yang dianggap tidak adil.
Namun, cara menegur di ruang digital memiliki batas. Kritik yang awalnya ditujukan untuk mengingatkan seseorang dapat berubah menjadi penghinaan atau serangan pribadi apabila disampaikan secara berlebihan. Kondisi tersebut bahkan berpotensi berdampak pada kehidupan seseorang yang menjadi sasaran kritik.
Fenomena ini semakin relevan bagi generasi muda. Gen Z dikenal vokal ketika menemukan tindakan yang dianggap tidak adil. Media sosial kemudian menjadi ruang untuk menyampaikan kritik, teguran, hingga ajakan kepada publik untuk memberikan perhatian terhadap suatu persoalan.
Baca Juga: Sidak Joko Pangon, Komisi III DPRD Kota Blitar Soroti Material hingga Progres Proyek
Kritik Tidak Harus Menjadi Serangan Pribadi
Kebebasan menyampaikan pendapat merupakan salah satu kekuatan media sosial. Masyarakat dapat menggunakan platform digital untuk menyuarakan kritik dan meminta seseorang bertanggung jawab atas tindakan yang dinilai keliru.
Namun, kritik dapat menjadi persoalan ketika fokusnya bergeser dari tindakan yang dilakukan kepada pribadi seseorang. Serangan yang terus diarahkan kepada individu berisiko menghilangkan tujuan awal kritik.
Dalam konteks tersebut, penting memahami perbedaan antara kritik terhadap tindakan dan serangan terhadap pribadi. Kritik dapat disampaikan untuk mendorong seseorang menyadari kesalahan, bertanggung jawab, kemudian memperbaiki perilakunya.
Baca Juga: Toko Pancing di Garum Dibobol Maling, Joran Premium dan Uang Rp500 Ribu Raib, Kerugian Capai Rp7,2 J
Karena itu, cara penyampaian menjadi bagian penting dalam memberikan teguran. Kritik yang disampaikan dengan mempertimbangkan kemanusiaan tetap dapat menjadi sarana kontrol sosial tanpa berubah menjadi serangan personal.
Memahami Perbedaan Call Out dan Cancel
Salah satu istilah yang muncul dalam pembahasan perilaku di ruang digital adalah call out. Istilah ini dapat dipahami sebagai bentuk kritik yang bertujuan membuat seseorang menyadari kesalahan dan mendorong adanya pertanggungjawaban.
Dalam praktiknya, call out masih memberikan ruang bagi seseorang untuk memperbaiki perilaku. Fokus utamanya berada pada tindakan yang dianggap bermasalah, bukan upaya menyerang seluruh pribadi seseorang.
Sementara itu, cancel menjadi bermasalah ketika kritik berubah menjadi penghinaan dan serangan yang bertujuan menghancurkan kehidupan seseorang.
Bahan diskusi tersebut menekankan bahwa garis pembeda antara call out dan cancel berada pada tujuan serta cara kritik disampaikan. Karena itu, seseorang perlu mempertimbangkan kembali bentuk teguran sebelum mengunggahnya ke ruang publik.
Baca Juga: Ekstrakurikuler Pramuka MTsN 8 Blitar Bentuk Karakter, Keterampilan, dan Jiwa Sosial Siswa
Cancel Culture dan Kontrol Sosial
Cancel culture pada awalnya dapat dipahami sebagai bentuk kontrol sosial. Masyarakat memberikan teguran, kritik, atau bahkan melakukan pemboikotan terhadap seseorang yang dianggap melakukan kesalahan.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memberikan respons terhadap tindakan tertentu. Namun, batas antara kontrol sosial dan penghakiman massal dapat menjadi kabur ketika kritik tidak lagi berfokus pada tindakan.
Ketika perhatian bergeser menjadi serangan kepada pribadi seseorang secara berlebihan, tujuan kritik pun dapat berubah. Hal inilah yang membuat pengguna media sosial perlu memahami batas dalam menyampaikan pendapat.
Teguran tetap dapat dilakukan ketika seseorang dinilai melakukan kesalahan. Namun, kritik tidak harus menghilangkan sisi kemanusiaan orang yang menjadi sasaran.
Baca Juga: Gen Z Dominasi Demografi Kabupaten Blitar, Jumlah Penduduk Tembus 1,27 Juta Jiwa
Tetap Kritis, tetapi Kedepankan Kemanusiaan
Ruang digital memberikan kesempatan besar bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Di sisi lain, kebebasan tersebut juga membutuhkan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Anak muda, termasuk Gen Z yang aktif menyuarakan berbagai persoalan di media sosial, perlu memahami bahwa kritik terhadap sebuah tindakan berbeda dengan serangan terhadap pribadi.
Cara menegur di ruang digital sebaiknya diarahkan pada tindakan yang dipersoalkan. Tujuannya dapat berupa mendorong kesadaran, tanggung jawab, dan perbaikan perilaku.
Dengan begitu, kritik tetap dapat menjadi bentuk kontrol sosial tanpa berubah menjadi penghinaan atau upaya menghancurkan kehidupan seseorang. Prinsip utama yang perlu diingat adalah menyampaikan kritik tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan.
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan