BLITAR KAWENTAR - Nasi pecel Madiun menjadi salah satu pilihan kuliner yang ramai diburu warga di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat. Salah satunya dagangan milik Emil yang mangkal di sekitar Masjid Cut Mutia. Buka sejak pagi, nasi pecel Madiun ini bahkan kerap menipis sebelum tengah hari dengan pilihan sayuran, lauk, hingga kerupuk gendar yang didatangkan langsung dari Madiun.
Kawasan sekitar Masjid Cut Mutia memang dikenal memiliki beragam pilihan kuliner. Dalam satu kawasan, pengunjung dapat menemukan makanan dari berbagai daerah, mulai dari bebek Madura, soto Bogor, sate Padang, mi ayam Solo, hingga minuman seperti es cendol Bandung dan alpukat kocok.
Namun, nasi pecel Madiun milik Emil menjadi salah satu menu yang menarik perhatian. Selain menawarkan cita rasa khas Jawa Timur, makanan tersebut juga menjadi pilihan bagi pencinta menu sayuran dengan harga yang relatif terjangkau.
Nasi Pecel Madiun Mulai Menipis Sebelum Siang
Saat ditemui, Emil mengatakan dagangannya sudah mulai berjualan sejak pagi. Memasuki waktu makan siang, persediaan nasi dan sayuran sudah terlihat menipis.
“Mulai habis subuh, jam setengah tujuh sudah mulai menipis. Tinggal sedikit-sedikit saja,” ujar Emil dalam tayangan tersebut.
Baca Juga: Nasi Pecel Blitar Warung Bilkis di Surabaya Cuma Rp12.000, Porsi Tiga Entong Bikin Kenyang
Nasi pecel yang ditawarkan terdiri atas sejumlah sayuran seperti sawi, kailan, tauge, kacang, dan kol. Pilihan lauknya cukup beragam, mulai dari paru, telur, tahu, mi, telur asin, ati ampela, ayam, hingga telur ceplok.
Gorengan yang menjadi salah satu pelengkap bahkan sudah habis ketika laporan dilakukan. Kondisi itu bukan hal baru bagi Emil. Pelanggannya disebut sudah mengetahui jam operasional dan kerap melakukan pemesanan lebih awal agar mendapatkan nasi pecel.
Harga seporsi nasi pecel berada di kisaran Rp16 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung pilihan lauk. Emil mengatakan harga tersebut turut mengalami kenaikan karena sejumlah bahan baku mengalami peningkatan harga.
Kerupuk Gendar Didatangkan Langsung dari Madiun
Salah satu pelengkap yang menjadi daya tarik nasi pecel tersebut adalah kerupuk gendar. Emil mendatangkannya langsung dari Madiun karena dirinya memang berasal dari daerah tersebut.
Selain kerupuk gendar, tersedia pula kerupuk putih bawang dan peyek. Khusus peyek, Emil membuatnya sendiri. Variasi pelengkap itu diberikan untuk menyesuaikan permintaan pelanggan sekaligus menjaga pilihan menu tetap beragam.
Baca Juga: 5 Pecel Legendaris di Blitar yang Wajib Dicoba, Harga Mulai Rp8.000 dan Selalu Ramai Pembeli
Sementara itu, bumbu kacang menjadi bagian penting dari nasi pecel. Bumbu tersebut dibuat dari kacang, cabai, bawang putih, kencur, dan daun jeruk. Cita rasa pedasnya juga disesuaikan dengan selera pelanggan di Jakarta.
“Kalau aslinya di Madiun biasanya lebih kuat, tetapi kalau jualan di Jakarta tidak bisa terlalu pedas,” kata Emil.
Bertahan Berjualan Sejak 2015
Emil telah menjual nasi pecel sejak 2015. Di balik seporsi nasi pecel yang terlihat sederhana, terdapat proses panjang yang harus dijalani setiap hari.
Ia mengaku proses memasak menjadi salah satu tantangan terbesar. Persiapan dilakukan sejak malam dan berlanjut hingga pagi sebelum gerobak didorong menuju lokasi berjualan.
Selain bahan makanan, kenaikan harga plastik juga ikut memengaruhi biaya operasional. Emil menyebut harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp14 ribu kini dapat mencapai Rp20 ribu.
Baca Juga: Berburu Kuliner Nasi Pecel Blitar Legendaris di Warung Mbok Bari
Bagi pelanggan yang ingin menikmati nasi pecel langsung, tersedia beberapa kursi di sekitar gerobak. Sementara area selasar, bagian dalam kawasan masjid, maupun tempat parkir dapat menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin makan di sekitar lokasi.
Nasi pecel tersebut buka setiap hari sejak pagi. Namun, pelanggan disarankan datang lebih awal karena stok kerap habis sekitar pukul 11.00. Menjelang siang, pilihan lauk dan sayuran biasanya sudah semakin terbatas.
Selain nasi pecel Madiun, kawasan Gondangdia di sekitar Masjid Cut Mutia juga menawarkan beragam makanan lain. Pengunjung yang datang tidak hanya dapat menikmati kuliner khas Madiun, tetapi juga mencoba aneka makanan dari berbagai daerah dalam satu kawasan.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber