BLITAR KAWENTAR - Tahu takwa Kediri bukan sekadar makanan berbahan kedelai, tetapi bagian dari perjalanan panjang sejarah dan budaya Kota Kediri. Kuliner yang kini menjadi identitas daerah tersebut dipercaya masuk melalui diaspora pedagang Tiongkok dan berkembang sejak sekitar abad ke-9 hingga ke-10. Dari resep yang dibawa dari Tiongkok, tahu kemudian beradaptasi dengan bahan, air, serta selera masyarakat lokal hingga melahirkan industri tahu yang bertahan lintas generasi.
Kediri bahkan dikenal sebagai salah satu sentra tahu di Jawa Timur. Di wilayah ini, rumah produksi tahu tumbuh dan berkembang, baik yang dikelola warga lokal maupun keturunan Tionghoa.
Tahu Masuk Kediri Lewat Jalur Perdagangan
Dosen Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri, Sigit Widiatmoko, menjelaskan perjalanan tahu ke Nusantara tidak terlepas dari hubungan perdagangan antara Tiongkok dan wilayah Asia Tenggara.
Menurutnya, tahu dikenal sebagai makanan yang berasal dari Tiongkok. Sejarah awal tahu dikaitkan dengan Liu An, cucu Kaisar Dinasti Han, yang disebut menemukan makanan berbahan turunan kedelai tersebut.
Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara kemudian berkembang melalui jalur perdagangan. Para pedagang Tiongkok melakukan perjalanan menuju Asia Tenggara melalui jalur laut karena jalur darat atau Jalur Sutra menghadapi berbagai kendala keamanan.
Baca Juga: Makanan Khas Tahu Takwa Asal Blitar, Dilumuri Dengan Sambal Kecap, Berasa Makin Manis dan Gurih
Dalam perjalanan tersebut, rombongan pedagang tidak hanya membawa barang dagangan. Mereka juga membawa juru masak dan kebutuhan makanan, termasuk tahu.
Kediri menjadi salah satu wilayah yang menarik perhatian karena memiliki potensi perdagangan. Pedagang Tiongkok diperkirakan masuk melalui jalur Sungai Brantas dan mendarat di kawasan Jongbiru, yang kini berada di Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.
Dari kawasan bantaran sungai tersebut, sebagian pedagang kemudian menetap dan membentuk permukiman yang berkembang menjadi kawasan Pecinan.
Munculnya Perajin Tahu di Kediri
Meski tahu diperkirakan sudah masuk sejak abad ke-9 atau ke-10, industri tahu di Kediri berkembang pesat pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Sejumlah nama kemudian dikenal sebagai pelopor pembuatan tahu di Kediri, di antaranya Lau Si Hok atau Mbah Kakung, Lim Go Moy, dan Kauw Long.
Lau Si Hok disebut mulai mendirikan usaha tahu pada 1912. Keahlian membuat tahu diperolehnya dari sang ayah, Lau King An, seorang imigran dari Tiongkok.
Ketika sang ayah harus kembali ke Tiongkok karena aturan pemerintah pada masa itu, Mbah Kakung tetap bertahan di Kediri dan melanjutkan usaha tahu. Usahanya kemudian diwariskan hingga generasi ketiga dan diteruskan oleh cucunya, Herman Budiono.
Resep Lama Dipertahankan hingga Generasi Ketiga
Herman masih mempertahankan resep yang diwariskan keluarganya. Tidak hanya resep, proses produksinya juga masih menggunakan sejumlah metode tradisional.
Salah satunya adalah penggunaan tungku kayu bakar. Cara tersebut dipertahankan untuk menjaga karakter rasa tahu yang gurih.
Menurut Herman, kualitas bahan menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan tahu. Kediri dipilih sebagai lokasi produksi karena memiliki ketersediaan air yang melimpah dan dianggap cocok untuk proses pembuatan tahu.
Selain air, Kediri pada masa lalu juga dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kedelai. Kombinasi bahan baku dan sumber air tersebut ikut mendukung perkembangan industri tahu.
Tahu Takwa Jadi Identitas Kota Kediri
Perkembangan industri tahu tidak hanya dilakukan warga keturunan Tionghoa. Para pekerja lokal yang sebelumnya bekerja di rumah produksi tahu kemudian mempelajari keterampilan membuat tahu dan membuka usaha sendiri.
Proses tersebut membuat keterampilan pembuatan tahu menyebar ke berbagai wilayah. Industri tahu akhirnya tumbuh menjadi usaha yang dikelola masyarakat lokal maupun keturunan Tionghoa.
Saat ini, Kampung Tahu Kota Kediri disebut memiliki 34 perajin tahu. Selain itu, ratusan rumah produksi tahu juga tersebar di Kota dan Kabupaten Kediri.
Dari proses sejarah dan akulturasi tersebut, tahu yang berasal dari Tiongkok berkembang menjadi tahu takwa Kediri, salah satu kuliner yang melekat dengan identitas kota. Warisan kuliner itu kini tidak hanya dinikmati masyarakat setempat, tetapi juga dikenal hingga berbagai daerah dan mancanegara.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber