Tahu Takwa Kediri Bukan Sekadar Kuliner, Ada Tradisi Unik di Baliknya

Difa'un Nadhiroh • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 09:41 WIB
Tahu takwa Kediri menyimpan sejarah akulturasi Tionghoa-Jawa hingga menjadi bagian tradisi Bersih Desa di Toyoresmi.(PINTEREST)
Tahu takwa Kediri menyimpan sejarah akulturasi Tionghoa-Jawa hingga menjadi bagian tradisi Bersih Desa di Toyoresmi.(PINTEREST)

BLITAR KAWENTAR - Tahu takwa Kediri bukan sekadar makanan berbahan kedelai yang menjadi oleh-oleh khas. Kuliner berwarna kuning ini menyimpan perjalanan sejarah panjang tentang akulturasi budaya Tionghoa dan masyarakat lokal. Di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, tahu takwa bahkan berkembang menjadi bagian dari tradisi Bersih Desa dan disajikan dalam bentuk gunungan sebagai ungkapan syukur masyarakat.

Sejarah tahu takwa di Kediri diperkirakan telah dimulai sebelum abad ke-12. Kuliner tersebut dibawa komunitas Tionghoa melalui jalur perdagangan Sungai Brantas. Seiring waktu, tahu mengalami perubahan dan penyesuaian hingga memiliki karakter berbeda dari tahu di daerah lain.

Dibawa Pedagang Tionghoa Lewat Sungai Brantas

Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Eko Priyadno, menjelaskan tahu masuk ke Kediri melalui aktivitas perdagangan masyarakat Tionghoa.

Jejak keberadaan komunitas Tionghoa di Kediri diperkuat dengan sejumlah catatan sejarah dan keberadaan bangunan Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berdiri pada 1817. Kawasan Pecinan juga berkembang di sekitar tepian Sungai Brantas.

Menurut Eko, keberadaan klenteng dengan makco atau dewa utama Dewi Laut menjadi salah satu petunjuk bahwa komunitas Tionghoa telah lama berhubungan dengan wilayah tersebut.

Baca Juga: Makanan Khas Tahu Takwa Asal Blitar, Dilumuri Dengan Sambal Kecap, Berasa Makin Manis dan Gurih

Pada masa lalu, Sungai Brantas menjadi bagian dari jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai bandar. Kediri termasuk wilayah penting dalam jalur perdagangan sungai tersebut.

Pedagang Tionghoa kemudian membawa budaya dan makanan mereka, termasuk tahu. Setelah berinteraksi dengan masyarakat lokal, produk tersebut mengalami proses akulturasi.

Ciri Khas Tahu Takwa Kediri

Proses akulturasi membuat tahu yang berkembang di Kediri memiliki karakter berbeda. Tahu takwa dikenal memiliki warna kuning yang berasal dari kunyit, tekstur kenyal dan lembut, serta cita rasa gurih.

Karakter tersebut menjadi pembeda dengan tahu dari daerah lain. Tahu Kediri juga disebut memiliki daya tahan yang cukup baik sehingga kemudian berkembang sebagai salah satu ikon kuliner daerah.

Perkembangan tahu tidak hanya dilakukan perajin keturunan Tionghoa. Masyarakat lokal juga mulai mempelajari keterampilan membuat tahu.

Baca Juga: ⁠Cerita Perempuan Muda di Blitar Merajut Asa Lewat Usaha Makanan Sehat Berbahan Baku Sayur Hasil Kebun Pribadi

Salah satu pusat perkembangan industri tersebut berada di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri. Ketua Paguyuban Kampung Tahu, Jamaludin, menyebut perkembangan perajin lokal bermula sekitar 1954.

Tokoh yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Mbah Markam, perantau dari Tulungagung. Awalnya, ia berjualan tempe gembos yang dibuat dari ampas tahu. Dari aktivitas tersebut, Mbah Markam mulai belajar membuat tahu kepada perajin Tionghoa.

Kini, Kampung Tahu di Tinalan memiliki lebih dari 34 perajin. Keterampilan yang dahulu berkembang melalui interaksi antarkomunitas tersebut terus diwariskan dan menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Tahu Takwa Masuk Tradisi Bersih Desa

Akulturasi tahu takwa tidak berhenti pada makanan. Di Desa Toyoresmi, tahu telah menyatu dengan kehidupan sosial dan tradisi masyarakat.

Sejak lama, tahu menjadi bagian dalam upacara Bersih Desa yang digelar setiap bulan Suro atau Muharam. Dalam tradisi tersebut, masyarakat mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan melalui sedekah bumi.

Baca Juga: 5 Pecel Legendaris di Blitar yang Wajib Dicoba, Harga Mulai Rp8.000 dan Selalu Ramai Pembeli

Hasil bumi dikumpulkan dan disusun menjadi gunungan. Tahu takwa kemudian turut digunakan sebagai salah satu bahan utama gunungan.

Kelompok perajin tahu di Toyoresmi mulai mengembangkan gunungan tahu sejak 2016. Awalnya berukuran kecil, tetapi tradisi tersebut berkembang dan menarik perhatian masyarakat.

Rangkaian Bersih Desa juga diisi kirab menuju makam tokoh desa. Setelah doa bersama, masyarakat memperebutkan gunungan hasil bumi dan gunungan tahu. Masyarakat meyakini mendapatkan sayuran atau tahu dari gunungan tersebut membawa berkah bagi keluarga.

Diusulkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Keunikan tradisi tersebut membuat tahu takwa tidak hanya dipandang sebagai produk kuliner. Ada sejarah migrasi, perdagangan, akulturasi budaya, serta nilai spiritual masyarakat yang menyertainya.

Pemerintah Kabupaten Kediri berencana mengajukan ritual Bersih Desa di Desa Toyoresmi sebagai warisan budaya tak benda ke tingkat Provinsi Jawa Timur.

Dengan perjalanan tersebut, tahu takwa Kediri menjadi contoh bagaimana sebuah makanan yang berasal dari luar daerah dapat beradaptasi dengan budaya lokal hingga akhirnya menjadi bagian dari identitas masyarakat Kediri.

Editor : Difa'un Nadhiroh
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Tahu Takwa Kediri Kampung Tahu Kediri Desa Toyoresmi kediri bersih desa