BLITAR KAWENTAR - Tahu takwa Kediri Bah Kacung bukan sekadar oleh-oleh khas Kota Kediri. Produk yang dibuat sejak 1912 ini tetap mempertahankan proses produksi tradisional, mulai dari menggiling kedelai dengan batu hingga memasak menggunakan tungku kayu bakar. Kini, usaha yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut diteruskan generasi ketiga dan bahkan mendapat permintaan dari pembeli di luar negeri.
Di tengah banyaknya produsen tahu di Kediri, Bah Kacung disebut sebagai salah satu pelopor yang masih mempertahankan metode pembuatan dari generasi terdahulu. Tradisi tersebut sengaja dijaga demi mempertahankan kualitas dan rasa tahu yang menjadi ciri khasnya.
Tetap Gunakan Gilingan Batu dan Kayu Bakar
Pemilik usaha menjelaskan, proses produksi tahu masih dilakukan dengan cara tradisional. Penggunaan peralatan modern sebenarnya sempat dicoba untuk mempercepat proses. Namun, hasil yang diperoleh dinilai berbeda sehingga metode lama kembali dipertahankan.
Salah satu peralatan yang masih digunakan adalah gilingan batu. Batu tersebut telah berusia puluhan tahun dan disebut belum pernah diganti sejak digunakan oleh generasi sebelumnya.
Kedelai pilihan terlebih dahulu direndam semalaman. Setelah itu, kedelai dicuci hingga bersih agar tidak mudah menjadi asam. Kedelai kemudian digiling menggunakan lempengan batu yang digerakkan secara manual hingga berubah menjadi bubur kedelai.
Baca Juga: Makanan Khas Tahu Takwa Asal Blitar, Dilumuri Dengan Sambal Kecap, Berasa Makin Manis dan Gurih
Bubur kedelai selanjutnya dimasak dalam kuali besar dengan suhu sekitar 70-80 derajat Celsius. Proses pemasakan dilakukan menggunakan tungku kayu bakar karena suhu dinilai lebih mudah dikontrol.
Proses Pembuatan Tahu Butuh Keahlian
Setelah dimasak, bubur kedelai dipindahkan dan disaring untuk memisahkan kulit serta sari kedelai. Ampas yang tersisa kemudian diperas. Dalam prosesnya, ampas kedelai juga dapat dimanfaatkan untuk bahan tempe bungkil.
Sari kedelai kemudian dicampur dengan cuka dan diaduk perlahan. Tahap ini membutuhkan ketelitian karena tidak semua pekerja mampu melakukannya. Di rumah produksi tersebut, hanya beberapa orang yang dianggap memiliki kemampuan untuk menangani proses penggumpalan tahu.
Setelah terbentuk gumpalan, air sisa fermentasi harus segera dibuang agar tahu tidak memiliki rasa asam. Endapan tahu kemudian dituangkan ke dalam cetakan kayu yang telah dilapisi kain penyaring.
Cetakan disusun bertingkat dan diberi tekanan menggunakan alat sederhana berbahan kayu. Beban tersebut berfungsi memadatkan tahu sekaligus mengeluarkan sisa air. Setelah cukup padat, tahu dikeluarkan dari cetakan dan dipotong sesuai ukuran.
Baca Juga: Nasi Pecel Madiun di Gondangdia Hampir Ludes, Harga Rp30 Ribu, Ini Lauk Favoritnya
Tahu dan Takwa Punya Proses Berbeda
Dalam proses produksinya, tahu dan takwa merupakan dua jenis produk berbeda. Tahu takwa mendapatkan tahap tambahan setelah dipotong.
Potongan tahu direbus kembali dalam air kunyit mendidih. Proses inilah yang menghasilkan warna kuning khas pada tahu takwa. Setelah warna kunyit menempel, tahu kemudian diangkat dan siap dikonsumsi.
Harga satu potong tahu atau tahu takwa dalam transkrip dibanderol Rp3.500. Produk tersebut dikemas menggunakan wadah besek bambu dan tidak menggunakan bahan pengawet.
Karena itu, tahu hanya dapat bertahan sekitar satu hari jika disimpan di luar lemari pendingin. Sementara jika disimpan dalam kulkas, masa simpannya dapat mencapai sekitar satu minggu.
Dari Kediri hingga Taiwan dan Hongkong
Popularitas tahu takwa Bah Kacung membuat pembelinya datang dari berbagai daerah. Selain menjadi oleh-oleh bagi wisatawan, produk tersebut juga mendapat permintaan untuk dikirim ke luar negeri.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar yang Selalu Dirindukan, Pecel Mbok Bari hingga Es Pleret Penuh Nostalgia
Terdapat permintaan dari Taiwan dan Hongkong. Hal itu menunjukkan bahwa produk tahu khas Kediri mulai menjangkau konsumen di luar Indonesia.
Bagi masyarakat Kediri, keberadaan produsen yang telah bertahan sejak 1912 tersebut menjadi bagian dari perjalanan kuliner daerah. Resep, peralatan, dan teknik tradisional yang dipertahankan hingga generasi ketiga menjadi kekuatan utama.
Tahu takwa juga dapat dinikmati dengan cara sederhana. Salah satunya dengan sambal kecap, bawang goreng dan cabai rawit. Perpaduan tersebut membuat tahu takwa semakin nikmat sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu oleh-oleh khas Kediri yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber