BLITAR KAWENTAR - Hari baik membeli barang menurut primbon Jawa menjadi salah satu tradisi yang masih menarik perhatian masyarakat. Dalam kepercayaan Jawa, membeli barang seperti kendaraan, rumah, tanah, maupun kebutuhan bernilai lainnya dipercaya perlu mempertimbangkan waktu agar barang tersebut memberikan manfaat dan tidak mendatangkan masalah di kemudian hari.
Salah satu perhitungan yang digunakan adalah membagi hasil neptu hari dan pasaran ke dalam empat kategori, yaitu Guru, Ratu, Rogoh, dan Sempoyong.
Dari keempat kategori tersebut, Guru dan Ratu dianggap memiliki makna baik. Sementara Rogoh dan Sempoyong disebut sebagai hitungan yang sebaiknya dihindari ketika hendak membeli barang.
Baca Juga: Alkohol Termahal di Dunia Ternyata Bukan Cuma Soal Rasa, Ada yang Jutaan Dolar
Arti Guru, Ratu, Rogoh, dan Sempoyong
Dalam materi primbon yang dibahas, jika hasil perhitungan jatuh pada Guru, barang yang dibeli dipercaya membawa sejumlah makna positif.
Guru dikaitkan dengan penghormatan, kemuliaan, kelancaran rezeki, serta perlindungan dari berbagai masalah. Barang yang dibeli pada hitungan ini juga dipercaya dapat memberikan kegembiraan dan manfaat bagi pemiliknya.
Sementara itu, Ratu juga dianggap sebagai hitungan yang baik. Ratu dikaitkan dengan kelancaran rezeki, keselamatan, banyak disukai orang, serta munculnya kegembiraan dan kesenangan.
Berbeda dengan keduanya, Rogoh disebut kurang baik karena dikaitkan dengan kehilangan. Barang yang dibeli pada hitungan ini dipercaya lebih mudah hilang, dicuri, cepat dijual kembali, atau mengalami kerusakan sehingga menimbulkan pemborosan.
Adapun Sempoyong dianggap sebagai hitungan yang paling perlu dihindari. Dalam penafsiran tersebut, Sempoyong dikaitkan dengan berbagai kesusahan, musibah, hingga pertengkaran.
Baca Juga: Cara Cek Saldo PKH di Livin by Mandiri, Begini Langkah Mudahnya
Perhitungan Hari Minggu
Dalam transkrip tersebut, perhitungan khusus dilakukan untuk pembelian barang pada hari Minggu.
Dalam sistem neptu Jawa, Minggu memiliki nilai 5. Nilai tersebut kemudian dijumlahkan dengan nilai pasaran yang menyertainya.
Berikut hasil perhitungannya:
Minggu Legi
Legi memiliki nilai 5. Jika digabungkan dengan Minggu yang bernilai 5, jumlahnya menjadi 10.
Angka 10 dalam urutan perhitungan tersebut jatuh pada Ratu. Karena itu, Minggu Legi dianggap sebagai salah satu waktu yang baik untuk membeli barang.
Minggu Pahing
Pahing memiliki nilai 9. Jika ditambahkan dengan Minggu yang bernilai 5, hasilnya adalah 14.
Dalam perhitungan yang digunakan, angka 14 juga jatuh pada Ratu. Dengan demikian, Minggu Pahing disebut sebagai hari yang baik untuk membeli barang.
Minggu Pon
Pon memiliki nilai 7. Jika dijumlahkan dengan Minggu yang bernilai 5, hasilnya menjadi 12.
Angka 12 kemudian jatuh pada Sempoyong. Karena itu, Minggu Pon disebut kurang baik untuk membeli barang berdasarkan perhitungan tersebut.
Dalam kepercayaan tradisional, hitungan Sempoyong dikaitkan dengan kemungkinan munculnya kesusahan, kerusakan, kecelakaan, maupun berbagai masalah lainnya.
Minggu Wage
Wage memiliki nilai 4. Jika digabungkan dengan Minggu yang bernilai 5, jumlahnya menjadi 9.
Angka 9 masuk dalam hitungan Guru. Karena Guru dianggap baik, Minggu Wage juga disebut sebagai waktu yang baik untuk membeli barang.
Minggu Kliwon
Kliwon memiliki nilai 8. Jika ditambahkan dengan Minggu yang bernilai 5, hasilnya adalah 13.
Angka tersebut dalam perhitungan yang digunakan jatuh pada Guru. Karena itu, Minggu Kliwon juga disebut baik untuk membeli barang.
Minggu Pon Jadi Hari yang Dihindari
Berdasarkan perhitungan dalam materi tersebut, terdapat satu hari Minggu yang dianggap kurang baik untuk membeli barang, yaitu Minggu Pon.
Sementara itu, Minggu Legi dan Minggu Pahing masuk kategori Ratu. Minggu Wage dan Minggu Kliwon masuk kategori Guru.
Artinya, jika mengikuti hitungan tersebut, empat kombinasi hari Minggu dianggap memiliki makna baik, sedangkan Minggu Pon menjadi pengecualian.
Meski demikian, perhitungan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan warisan budaya Jawa. Tidak ada bukti ilmiah bahwa membeli barang pada hari tertentu dapat menjamin kelancaran rezeki, mencegah kehilangan, atau memastikan seseorang terhindar dari musibah.
Dalam praktiknya, pembelian barang tetap perlu dilakukan dengan pertimbangan yang rasional. Untuk kendaraan, misalnya, kondisi mesin, kelengkapan dokumen, riwayat kendaraan, serta kemampuan membayar perlu diperiksa terlebih dahulu.
Begitu pula ketika membeli rumah atau tanah. Legalitas, kondisi bangunan, lokasi, sertifikat, serta kemampuan finansial menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Dengan demikian, hari baik membeli barang menurut primbon Jawa dapat dipelajari sebagai bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Jawa. Bagi yang mempercayainya, perhitungan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar. Namun, keputusan pembelian tetap perlu didasarkan pada kondisi nyata, perencanaan matang, dan kehati-hatian.
Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest