Hari Baik Membeli Motor Menurut Primbon Jawa, Cek Hitungan Weton Sebelum Membeli

Gita Dwi Nuraini • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 21:10 WIB
Hari baik membeli motor menurut primbon Jawa bisa ditentukan dari nilai hari dan pasaran untuk mengetahui firasat Guru, Ratu, Rogoh, atau Sempoyong.(Gemini AI)
Hari baik membeli motor menurut primbon Jawa bisa ditentukan dari nilai hari dan pasaran untuk mengetahui firasat Guru, Ratu, Rogoh, atau Sempoyong.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR - Hari baik membeli motor menurut primbon Jawa masih menjadi salah satu pertimbangan bagi sebagian masyarakat yang ingin membeli kendaraan baru. Bagi mereka yang mengikuti tradisi Jawa, membeli motor bukan hanya soal menentukan jenis kendaraan, harga, atau kemampuan membayar, tetapi juga memilih waktu yang dianggap tepat.

Kepercayaan tersebut berangkat dari petuah leluhur yang mengajarkan bahwa setiap hari memiliki nilai tertentu. Nilai tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat gambaran atau firasat dari suatu kegiatan, termasuk ketika membeli kendaraan.

Dalam hitungan Jawa, terdapat empat firasat yang sering digunakan untuk menentukan apakah suatu hari dianggap baik atau kurang baik untuk membeli motor. Keempatnya adalah Guru, Ratu, Rogoh, dan Sempoyong.

Masing-masing firasat memiliki makna yang berbeda. Guru dan Ratu umumnya ditafsirkan sebagai hasil yang baik, sedangkan Rogoh dan Sempoyong dianggap kurang baik dalam konteks pembelian kendaraan.

Baca Juga: 5 Wine Termahal di Dunia, Harganya Tembus Rp7,5 Miliar per Botol

Mengapa Weton Diperhitungkan Saat Membeli Motor?

Dalam tradisi Jawa, weton merupakan gabungan antara hari kelahiran dengan pasaran Jawa. Namun, untuk menentukan hari pembelian motor, hitungan yang digunakan bukan hanya weton kelahiran seseorang.

Hari yang akan digunakan untuk membeli kendaraan juga memiliki nilai. Nilai tersebut diperoleh dari penjumlahan antara nilai hari biasa dan nilai pasarannya.

Setiap hari mempunyai angka masing-masing. Minggu memiliki nilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9.

Sementara itu, pasaran Jawa juga mempunyai nilai. Legi bernilai 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, sedangkan Kliwon bernilai 8.

Dengan demikian, seseorang dapat menghitung nilai sebuah hari dengan menjumlahkan kedua unsur tersebut.

Baca Juga: Cara Cek Saldo Bansos Lewat Livin Mandiri, Jangan Sampai Terlewat

Contoh Hitungan Minggu Wage

Salah satu contoh yang dapat digunakan adalah Minggu Wage. Hari Minggu mempunyai nilai 5, sedangkan Wage mempunyai nilai 4.

Jika keduanya dijumlahkan, hasilnya adalah 9.

Angka tersebut kemudian dicocokkan dengan urutan firasat dalam hitungan yang digunakan. Dalam penjelasan tradisional tersebut, urutannya adalah Guru, Rogoh, Sempoyong, kemudian kembali ke Guru dan seterusnya.

Dengan hasil 9, Minggu Wage masuk dalam firasat Guru berdasarkan urutan hitungan tersebut.

Firasat Guru dipercaya memiliki makna bahwa kendaraan yang dibeli dapat memberikan manfaat dan kegembiraan. Karena itu, hari yang masuk dalam kategori ini dianggap cocok apabila motor digunakan untuk kebutuhan keluarga ataupun keperluan pribadi.

Firasat Ratu Dikaitkan dengan Rezeki

Selain Guru, ada pula firasat Ratu. Dalam penafsiran primbon Jawa, Ratu mempunyai makna yang berkaitan dengan hal-hal baik dan kelancaran.

Untuk pembelian motor, hari yang masuk dalam firasat Ratu dipercaya cocok bagi seseorang yang membeli kendaraan untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Misalnya, motor digunakan untuk berdagang, bekerja, mengantar barang, atau aktivitas lain yang berkaitan dengan mencari penghasilan.

Namun, makna tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional. Tidak berarti motor yang dibeli pada hari Ratu secara otomatis akan membuat pemiliknya memperoleh lebih banyak rezeki.

Rogoh dan Sempoyong Dianggap Kurang Baik

Dua firasat lain yang perlu diperhatikan adalah Rogoh dan Sempoyong.

Rogoh dalam hitungan tradisional dikaitkan dengan kemungkinan kendaraan lebih mudah hilang, boros, atau membutuhkan pengeluaran tambahan. Karena itu, hari yang masuk dalam firasat Rogoh dianggap kurang sesuai untuk membeli motor.

Sementara itu, Sempoyong memiliki penafsiran yang berkaitan dengan berbagai kesulitan. Dalam konteks kendaraan, firasat ini dipercaya dapat dikaitkan dengan motor yang lebih sering mengalami masalah atau mengalami musibah.

Oleh sebab itu, masyarakat yang mengikuti hitungan tersebut biasanya berusaha menghindari hari yang masuk dalam kategori Rogoh maupun Sempoyong.

Jangan Hanya Mengandalkan Hitungan Primbon

Meskipun hari baik membeli motor menurut primbon Jawa masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, keputusan membeli kendaraan tetap perlu dilakukan dengan pertimbangan yang realistis.

Calon pembeli sebaiknya memastikan kondisi motor, kelengkapan surat-surat, harga kendaraan, biaya pajak, kebutuhan bahan bakar, biaya servis, hingga kemampuan membayar cicilan apabila membeli secara kredit.

Untuk motor bekas, pemeriksaan mesin, rangka, kelistrikan, kondisi ban, dan riwayat kendaraan juga penting dilakukan sebelum transaksi.

Bagi masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi leluhur, pemilihan hari dapat menjadi bentuk ikhtiar sebelum membeli kendaraan. Sementara itu, aspek keselamatan tetap perlu menjadi perhatian utama setelah motor dimiliki.

Pada akhirnya, hitungan primbon merupakan bagian dari warisan budaya dan kepercayaan masyarakat. Hasil hitungan tidak dapat dijadikan jaminan mengenai rezeki, keselamatan, ataupun kondisi kendaraan di masa depan.

Memilih hari baik dapat dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi, sedangkan kehati-hatian, perencanaan keuangan, perawatan kendaraan, dan disiplin dalam berkendara tetap menjadi bagian penting setelah motor dibeli.

 

Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest
Hitungan Jawa Hari Baik Membeli Motor motor Primbon Jawa weton jawa