Hari Baik Membeli Motor Menurut Primbon Jawa, Sesuaikan dengan Tujuan Penggunaannya

Gita Dwi Nuraini • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 21:25 WIB
Hari baik membeli motor menurut primbon Jawa dikaitkan dengan tujuan penggunaan kendaraan, mulai kebutuhan keluarga hingga mencari rezeki.(Gemini AI)
Hari baik membeli motor menurut primbon Jawa dikaitkan dengan tujuan penggunaan kendaraan, mulai kebutuhan keluarga hingga mencari rezeki.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR - Hari baik membeli motor menurut primbon Jawa menjadi salah satu hal yang diperhatikan sebagian masyarakat sebelum melakukan pembelian kendaraan. Bagi orang yang masih memegang tradisi Jawa, memilih waktu membeli motor tidak hanya berkaitan dengan tanggal yang tersedia, tetapi juga mempertimbangkan hitungan hari dan pasaran.

Motor sendiri dapat mempunyai fungsi yang berbeda bagi setiap pemilik. Ada yang membelinya untuk kebutuhan keluarga, pergi bekerja, berdagang, hingga menunjang usaha. Dalam hitungan tradisional Jawa, perbedaan tujuan tersebut dapat dikaitkan dengan firasat dari hari ketika kendaraan dibeli.

Hitungan ini mengenal beberapa firasat, di antaranya Guru, Ratu, Rogoh, dan Sempoyong. Keempatnya memiliki penafsiran masing-masing terhadap kendaraan yang dibeli.

Meski demikian, hitungan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional. Hasilnya tidak dapat dijadikan kepastian mengenai masa depan kendaraan ataupun rezeki pemiliknya.

Baca Juga: 5 Wine Termahal di Dunia, Harganya Tembus Rp7,5 Miliar per Botol

Motor untuk Kebutuhan Keluarga

Salah satu tujuan yang umum ketika seseorang membeli motor adalah memenuhi kebutuhan keluarga. Kendaraan digunakan untuk mengantar anak, pergi bekerja, berbelanja, menghadiri keperluan keluarga, atau menunjang aktivitas sehari-hari.

Dalam hitungan Jawa, hari yang masuk dalam firasat Guru dipercaya sesuai untuk kebutuhan tersebut. Firasat Guru dianggap membawa makna manfaat dan kegembiraan bagi pemilik kendaraan.

Karena itu, masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut dapat mempertimbangkan hari dengan hasil Guru ketika membeli motor yang memang ditujukan untuk kebutuhan pribadi ataupun keluarga.

Namun, makna tersebut tidak berarti motor pasti memberikan keuntungan atau terhindar dari masalah. Keamanan dan manfaat kendaraan tetap sangat bergantung pada cara pemilik menggunakan dan merawatnya.

Baca Juga: Harga Bir Termahal di Dunia Ada di Kota Ini, Tembus Rp70 Ribu per Botol

Motor untuk Berdagang dan Mencari Rezeki

Berbeda dengan kebutuhan keluarga, ada pula orang yang membeli motor sebagai bagian dari aktivitas usaha.

Motor bisa digunakan untuk mengantar barang, mengambil stok, berjualan keliling, mengirim pesanan, maupun bepergian menemui pelanggan. Dalam kondisi seperti ini, kendaraan menjadi salah satu sarana untuk menunjang kegiatan ekonomi.

Menurut penafsiran tradisional, hari dengan firasat Ratu dianggap mempunyai makna yang baik untuk tujuan tersebut. Firasat Ratu dikaitkan dengan manfaat kendaraan dan kelancaran rezeki.

Karena itu, hari dengan hasil Ratu disebut cocok untuk membeli motor yang akan digunakan berdagang atau mencari penghasilan.

Sekali lagi, kaitan tersebut merupakan kepercayaan dalam tradisi Jawa. Kelancaran usaha tetap dipengaruhi oleh banyak hal seperti modal, strategi penjualan, kondisi pasar, kemampuan mengelola keuangan, serta kerja keras pemilik usaha.

Mengapa Firasat Rogoh Dianggap Kurang Baik?

Selain Guru dan Ratu, terdapat pula firasat Rogoh. Dalam hitungan tradisional untuk pembelian kendaraan, Rogoh dianggap kurang baik.

Motor yang dibeli pada hitungan tersebut dipercaya mempunyai kemungkinan lebih mudah hilang. Selain itu, ada pula penafsiran bahwa kendaraan dapat menjadi lebih boros dan membutuhkan biaya perawatan yang besar.

Bagi orang yang mengikuti hitungan primbon, hasil Rogoh biasanya menjadi alasan untuk mencari tanggal pembelian lainnya.

Di luar kepercayaan tersebut, keamanan kendaraan sebenarnya juga dapat diupayakan melalui tindakan pemilik. Motor sebaiknya diparkir di tempat aman, menggunakan kunci pengaman, dan tidak ditinggalkan sembarangan.

Sempoyong Dikaitkan dengan Risiko

Firasat lainnya adalah Sempoyong. Dalam penafsiran tradisional, hasil ini juga dianggap kurang baik ketika digunakan untuk menentukan waktu pembelian motor.

Sempoyong dipercaya berkaitan dengan berbagai kesulitan setelah kendaraan dimiliki. Salah satu penafsiran yang muncul adalah kemungkinan kendaraan lebih sering mengalami musibah atau kecelakaan.

Karena itu, masyarakat yang mengikuti petuah tersebut cenderung menghindari hari dengan hasil Sempoyong.

Terlepas dari hitungan tersebut, risiko kecelakaan sebenarnya sangat berkaitan dengan perilaku pengendara, kondisi kendaraan, kondisi jalan, serta faktor lingkungan. Menggunakan helm, mematuhi aturan lalu lintas, dan menjaga kondisi motor tetap layak merupakan hal yang penting.

Cara Mengetahui Firasat Hari Pembelian

Untuk menentukan firasat, hitungan Jawa menggunakan nilai hari dan pasaran.

Nilai hari terdiri dari Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sedangkan nilai pasaran terdiri dari Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.

Kedua nilai tersebut dijumlahkan untuk memperoleh angka hari. Angka tersebut kemudian dicocokkan dengan urutan firasat yang digunakan dalam hitungan.

Sebagai contoh, Minggu Wage mempunyai nilai 9 karena Minggu bernilai 5 dan Wage bernilai 4. Angka tersebut kemudian dicocokkan dengan urutan firasat dan dalam hitungan yang dibahas masuk dalam kategori Guru.

Tetap Perhatikan Kondisi Motor

Memilih hari pembelian berdasarkan primbon dapat menjadi bagian dari tradisi bagi masyarakat yang mempercayainya. Namun, calon pembeli tetap perlu memperhatikan berbagai faktor nyata sebelum melakukan transaksi.

Harga motor harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Jika membeli secara kredit, cicilan dan biaya tambahan juga perlu diperhitungkan. Sementara untuk motor bekas, kondisi mesin, rangka, kelistrikan, ban, serta kelengkapan dokumen harus diperiksa dengan teliti.

Dengan demikian, hari baik membeli motor menurut primbon Jawa dapat dipandang sebagai salah satu bentuk ikhtiar yang berkaitan dengan budaya. Sementara keputusan pembelian tetap perlu didasarkan pada kebutuhan, kondisi keuangan, kualitas kendaraan, dan keselamatan pengguna.

Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, memilih hari baik dapat memberikan ketenangan sebelum membeli kendaraan. Setelah motor berada di tangan, perawatan dan kehati-hatian tetap menjadi bagian penting agar kendaraan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

 

Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest
Hitungan Jawa Hari Baik Membeli Motor motor Primbon Jawa weton jawa