BLITAR KAWENTAR – Keterampilan warga binaan menjadi salah satu fokus pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Blitar. Program tersebut disiapkan sebagai bekal bagi mereka ketika nantinya menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat.
Lapas Kelas II B Blitar tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana. Berbagai kegiatan produktif diberikan kepada warga binaan untuk membantu meningkatkan kemampuan dan kualitas diri selama berada di dalam lapas.
Wakil Wali Kota Blitar Elim Tyu Samba menilai, pembinaan keterampilan warga binaan memiliki peran penting dalam proses tersebut. Menurutnya, lapas seharusnya juga menjadi tempat bagi warga binaan melakukan introspeksi diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah bebas.
Baca Juga: Lapas Blitar Kembangkan Ayam Petelur, Bekali Warga Binaan dengan Keterampilan Usaha
“Lapas jangan hanya menjadi tempat untuk menghukum orang-orang yang bersalah, tetapi juga menjadi tempat introspeksi diri dan menjadi pribadi lebih baik,” ujar Elim.
Beragam Keterampilan Diberikan kepada Warga Binaan
Sejumlah program pembinaan keterampilan telah dijalankan di Lapas Kelas II B Blitar. Kegiatan tersebut meliputi beternak ayam petelur, bercocok tanam sayur-mayur, menyablon hingga menjahit.
Baca Juga: Remisi Lapas Blitar Berbuah Kebebasan, 341 Napi Dapat Potongan Hukuman dan 5 Orang Langsung Pulang
Program itu tidak hanya bertujuan mengisi aktivitas warga binaan selama menjalani masa pidana. Lebih dari itu, keterampilan warga binaan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
Elim menyebut, kemampuan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan dapat dikembangkan menjadi modal untuk membuka usaha secara mandiri setelah bebas. Warga binaan dapat memilih dan mengembangkan keterampilan sesuai bidang yang diminati.
“Bukan tidak mungkin ada yang bersemangat membuka usaha mandiri melalui bekal keterampilan dari lapas, entah jahit-menjahit, sablon maupun beternak,” jelasnya.
Pembinaan tersebut juga disesuaikan dengan warga binaan yang mengikuti kegiatan. Warga binaan perempuan mendapat pelatihan menjahit. Sementara warga binaan laki-laki memperoleh pembinaan di bidang percetakan atau sablon.
Selain dua bidang tersebut, kegiatan beternak dan bercocok tanam juga dapat diikuti warga binaan. Dengan beragam pilihan kegiatan, pembinaan diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke lingkungan masyarakat.
Dapat Dukungan Ayam Petelur
Dukungan terhadap program pembinaan juga diberikan Pemerintah Kota Blitar. Sebelumnya, Pemkot Blitar memberikan bantuan sebanyak 60 ekor ayam petelur untuk mendukung kegiatan budidaya di dalam lapas.
Bantuan tersebut menambah populasi ayam yang sebelumnya sudah dibudidayakan warga binaan. Saat ini, total ayam petelur yang dipelihara mencapai sekitar 90 ekor.
Lahan kosong di sisi timur lapas dimanfaatkan untuk kandang ayam sekaligus area bercocok tanam. Pemanfaatan lahan tersebut menjadi bagian dari kegiatan produktif yang dapat diikuti warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Pembinaan di Tengah Keterbatasan Kapasitas
Pelaksanaan pembinaan di Lapas Kelas II B Blitar menghadapi tantangan tersendiri. Saat ini terdapat lebih dari 500 warga binaan yang menghuni lapas. Jumlah tersebut jauh melebihi kapasitas ideal yang disebut hanya sekitar 200 orang.
Kondisi itu membuat pembinaan harus dilakukan secara optimal dengan memanfaatkan berbagai sarana yang tersedia. Pengembangan keterampilan menjadi salah satu upaya agar warga binaan tetap memperoleh kegiatan yang bermanfaat selama menjalani masa pidana.
Elim menilai, keterampilan yang diperoleh warga binaan diharapkan dapat membantu mereka lebih siap menghadapi kehidupan setelah keluar dari lapas. Selain kembali berbaur dengan masyarakat, mereka juga diharapkan memiliki aktivitas produktif yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Dengan demikian, program keterampilan warga binaan tidak berhenti sebagai kegiatan selama berada di dalam lapas. Kemampuan seperti menjahit, menyablon, beternak maupun bercocok tanam diharapkan dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelah bebas.
Editor : Regina Gavin Agata