FKUB Kabupaten Blitar menilai peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak sebatas seremoni tahunan. Momen tersebut dinilai penting untuk mengingat kembali berbagai ujian sejarah yang pernah dihadapi bangsa Indonesia, termasuk peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang dalam narasi FKUB berkaitan dengan PKI.
Menurut FKUB Kabupaten Blitar, hubungan antara Pancasila dengan para tokoh agama dan masyarakat memiliki akar yang kuat. Ulama, kiai, pendeta, biksu, pedanda, tokoh agama, serta tokoh masyarakat disebut memiliki peran dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga: Fakta Soekarno: Kisah Kesaktian, Pusaka hingga Perannya Merumuskan Pancasila Jadi Sorotan
FKUB juga mengaitkan peran tersebut dengan berbagai peristiwa sejarah, mulai dari pemberontakan PKI di Madiun pada 1948 hingga peristiwa G30S pada 1965. Dalam pandangan FKUB, para tokoh agama dan umat beriman berada di garis depan dalam mempertahankan nilai ideologi serta kehidupan spiritual masyarakat.
FKUB Kabupaten Blitar menempatkan Pancasila sebagai dasar kehidupan bersama masyarakat Indonesia yang menjunjung nilai ketuhanan. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dinilai menjadi salah satu landasan penting dalam kehidupan berbangsa yang menghormati keberadaan agama.
Dalam pernyataannya, FKUB menyebut paham komunisme yang dipandang ateistik tidak sejalan dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, FKUB menegaskan pentingnya menjaga Pancasila sekaligus menolak upaya mengganti ideologi negara dengan paham lain.
Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar
FKUB juga menyampaikan bahwa catatan sejarah mengenai konflik ideologi perlu dipahami oleh generasi penerus. Kesadaran terhadap sejarah tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh propaganda atau paham yang berpotensi mengganggu kerukunan dan persatuan.
Namun, penguatan kewaspadaan tersebut dinilai tidak harus diwujudkan melalui pendekatan kekerasan. Di era modern, FKUB mendorong peningkatan kesadaran masyarakat serta sinergi antarkelompok agama sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan bangsa.
Salah satu langkah yang didorong FKUB Kabupaten Blitar adalah meningkatkan literasi sejarah bagi generasi muda. Menurut FKUB, perkembangan teknologi dan era digital membuat generasi muda perlu mendapatkan pemahaman sejarah yang utuh agar tidak mudah menerima informasi tanpa mengetahui konteksnya.
Para kiai, pendeta, tokoh agama, pendidik, serta elemen masyarakat lainnya didorong untuk memberikan edukasi sejarah secara objektif kepada generasi penerus. Pendidikan tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman mengenai perjalanan bangsa sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.
Selain literasi sejarah, FKUB menekankan pentingnya penguatan moral dan keimanan. Pemahaman agama yang moderat serta penuh toleransi dinilai dapat menjadi salah satu fondasi dalam menjaga masyarakat dari berbagai paham yang berpotensi memecah belah.
FKUB juga mendorong konsolidasi lintas agama untuk menjaga harmoni sosial di Kabupaten Blitar. Menurut lembaga tersebut, berbagai ancaman terhadap persatuan bangsa tidak hanya berdampak pada satu kelompok agama, tetapi dapat memengaruhi seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga: Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi Ikut Bacakan Naskah Ikrar
Karena itu, sinergi antara kiai, pendeta, biksu, pedanda, tokoh masyarakat, dan kelompok lainnya dinilai penting untuk menjaga kerukunan. Kolaborasi lintas agama diharapkan dapat membuat kehidupan sosial di Bumi Penataran tetap aman dan kondusif.
FKUB Kabupaten Blitar menegaskan, kewaspadaan terhadap ancaman ideologi tidak dimaksudkan untuk membangkitkan kebencian terhadap masa lalu. Sebaliknya, sejarah diharapkan menjadi pembelajaran agar masyarakat dapat menjaga masa depan generasi berikutnya.
Dengan penguatan nilai-nilai Pancasila, peran tokoh agama, serta komitmen masyarakat menjaga kerukunan, FKUB berharap Kabupaten Blitar tetap menjadi daerah yang aman, harmonis, dan kondusif.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan sekaligus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. (*/c1/ady)
Editor : Azahra Meilisani Salma