BLITAR KAWENTAR - Dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, Ilham Pangestu Harwoko atau akrab disapa Ipang membawa cerita batik Blitar ke panggung yang lebih luas. Pemuda asal Kelurahan Sentul, Kota Blitar, itu baru saja menyelesaikan rangkaian Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2026 sebagai satu-satunya perwakilan Jawa Timur.
Perjalanan Ipang dengan batik sebenarnya berawal dari daerahnya sendiri. Ketika dipercaya menjadi Wakil I Kangmas Kota Blitar pada 2021, dia mulai melihat potensi ekonomi kreatif di Kota Blitar, salah satunya Kampung Wisata Batik Turi.
Dari sana, ketertarikannya terhadap batik berkembang. Bukan hanya soal kain dan motif, melainkan juga cerita yang ada di baliknya serta orang-orang yang membuatnya.
Baca Juga: 5 Jenis Anggrek Paling Populer di Indonesia, Ada yang Harganya Tembus Rp100 Juta
“Awalnya saya melihat batik sebagai salah satu potensi yang dimiliki Kota Blitar. Dari situ, saya mulai penasaran, bukan hanya soal motifnya, tetapi juga bagaimana sebuah batik bisa punya cerita dan bagaimana cerita itu bisa sampai kepada masyarakat,” ujar Ipang.
Sehari-hari bekerja sebagai penyiar radio sekaligus jurnalis, Ipang kemudian mulai serius mempelajari batik. Setelah mengikuti ajang Putra Putri Batik Jawa Timur dan meraih gelar, dia semakin sering belajar langsung kepada pembatik.
Dia bahkan mendatangi sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Kediri, Malang, Tuban, hingga Surabaya. Dari perjalanan itu, Ipang mengenal karakter, proses kreatif, sekaligus cerita yang melatarbelakangi batik di masing-masing daerah.
Baca Juga: SMAX 160 Disebut Bisa Geser NMAX, Mesin Lebih Besar Jadi Sorotan
Latar belakangnya di dunia desain grafis ikut membawanya lebih jauh. Ipang mulai mencoba membuat motif sendiri. Dalam Festival Batik Blitar, dia mengikuti kompetisi desain motif batik dan meraih juara II.
Dari proses tersebut, lahir Sekardharma Batik. Motif itu terinspirasi dari perjuangan tentara Pembela Tanah Air (PETA) dengan Monumen Potlot sebagai salah satu ikon sejarah Kota Blitar. Motif tersebut kemudian mendapatkan legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
“Bagi saya, membuat motif bukan sekadar membuat gambar yang bagus. Saya ingin ada cerita yang bisa dibaca di balik setiap motif. Ketika orang memakai batik, harapannya mereka juga mengenal cerita dari daerah yang melahirkannya,” katanya.
Langkah Ipang kemudian berlanjut ke tingkat nasional. Dia mengikuti seleksi Putra Putri Batik Nusantara 2026 yang diselenggarakan Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN). Bersaing dengan ratusan peserta, Ipang terpilih menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur. Dia kemudian bersanding dengan 27 wakil dari provinsi lain dalam rangkaian PPBN 2026.
Baca Juga: Erita Dwi Anggraini, dari Putri Batik hingga Sukses Rintis Bisnis MUA di Usia Muda
Di ajang tersebut, Ipang membawa gagasan bernama PANGARSA, akronim dari penguatan rasa. Gagasan itu berangkat dari latar belakangnya sebagai jurnalis sekaligus orang yang berkecimpung dalam batik.
Melalui PANGARSA, dia ingin membawa cerita para pembatik ke ruang media dengan pendekatan jurnalistik. Harapannya, cerita dan karya pembatik dapat bertemu dengan pasar baru, termasuk desainer dan komunitas duta di Jawa Timur.
“Pangarsa bagi saya bukan hanya tentang memperkenalkan batik. Saya ingin cerita pembatik ikut mendapatkan ruang. Karena ketika cerita mereka dihargai, karya mereka juga lebih mudah diapresiasi. Dari apresiasi itu,saya berharap ada nilai ekonomi yang lebih layak bagi pembatik,” tutur Ipang.
Baca Juga: Yamaha NMAX 155 2027 Tampil Makin Premium, Desain Putih Jadi Sorotan
Selama kompetisi, dia juga membawa sejumlah cerita batik Blitar ke panggung nasional. Salah satunya Batik Macan Putih karya Sri Utami dari Batik Sendang Lestari. Motif tersebut berkaitan dengan legenda Bumi Bung Karno dan menjadi salah satu cerita batik Blitar yang diperkenalkannya selama rangkaian kompetisi.
Perjalanan itu kemudian membuahkan apresiasi. Meski belum membawa pulang gelar utama PPBN 2026, Ipang terpilih sebagai Batik Chat Winner Putra. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan pemahaman, perspektif, serta kemampuan menyampaikan gagasan tentang batik Indonesia.
Bagi Ipang, pencapaian tersebut bukan akhir perjalanan. Justru jejaring yang didapat selama kompetisi menjadi modal untuk membuka lebih banyak ruang bagi batik Blitar.
Baca Juga: Suzuki Vanguard 160 Bawa Gaya Adventure, Suspensi Tabung dan Mesin 160 cc Disorot
“Kompetisi ini sudah selesai, tetapi perjalanan saya dengan batik belum selesai. Justru sekarang saya merasa punya lebih banyak relasi dan lebih banyak pintu untuk memperkenalkan batik Blitar. Saya ingin terus membawa cerita-cerita itu ke ruang yang lebih luassupaya pembatik lokal mendapatkan apresiasi dan kesejahteraan yang lebih baik,” ujarnya.
Dia pun mulai menyiapkan langkah berikutnya dengan membangun usaha batik. Bukan sekadar membuat produk, melainkan menjadi ruang untuk mempertemukan cerita, desain, pembatik, dan pasar dalam satu ekosistem.
Semangat itu terasa semakin relevan menjelang Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Bagi Ipang, keterlibatan generasi muda dalam melestarikan batik tidak harus selalu dimulai dengan menjadi pembatik.
Anak muda bisa mengambil peran melalui profesi dan kemampuan yang mereka miliki, mulai dari media, desain, bisnis, hingga ruang kreatif lainnya. “Urip iku urup. Anak muda itu semestinya bisa menjadi penerang. Tidak harus dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari apa yang kita punya, dari profesi kita, dari kemampuan kita, lalu menyalakan semangat itu supaya orang lain ikut bergerak,” kata Ipang.
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Beri Modal dan Pelatihan, UMKM Batik Genturan Sukses Mejit dari Hobi!
Bagi pemuda yang berangkat dari Kelurahan Sentul itu, batik akhirnya bukan sekadar kain yang dikenakan setiap 2 Oktober. Batik adalah cerita yang terus ditulis, karya yang terus dikembangkan, sekaligus tentang kehidupan para pembuatnya yang juga perlu mendapat ruang dan apresiasi.(bud/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah