BLITAR KAWENTAR - Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 berlangsung dengan suasana berbeda dibanding pelaksanaan sebelumnya. Ribuan warga tetap memadati lokasi untuk menyaksikan ritual tahunan tersebut meski sejumlah elemen yang biasanya menjadi daya tarik acara tidak dihadirkan.
Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 digelar dengan kemasan baru oleh Pemerintah Kabupaten Blitar. Dua gunungan hasil bumi yang biasanya berada di sisi pendapa tidak terlihat dalam pelaksanaan tahun ini. Pertunjukan gamelan secara langsung dan tari macanan yang sebelumnya menjadi bagian dari rangkaian acara juga tidak digelar.
Meski terdapat perubahan, Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 tetap mampu menarik perhatian masyarakat. Ribuan warga rela bertahan di bawah terik matahari untuk mengikuti prosesi tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut.
Baca Juga: Asal-usul Lodoyo Blitar dan Misteri Gong Kyai Pradah, Pusaka Sakral yang Masih Dijamas Setiap Tahun
Warga Merasakan Suasana Berbeda
Perubahan dalam pelaksanaan tahun ini dirasakan masyarakat yang sudah terbiasa mengikuti ritual Jamasan Gong Kiai Pradah.
Dinda Ummu Hidayah, warga Kecamatan Gandusari, menjadi salah satu masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia telah tiga kali hadir dalam kegiatan jamasan dan pada tahun ini datang untuk mendampingi anak-anak sanggar tari.
Menurut Dinda, suasana pelaksanaan kali ini memang berbeda. Selain sejumlah rangkaian acara yang tidak digelar, perubahan jadwal juga membuat penonton harus menunggu lebih lama di bawah terik matahari.
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah tidak adanya gunungan hasil bumi. Pada pelaksanaan sebelumnya, gunungan biasanya ditempatkan di sisi pendapa dan setelah prosesi selesai menjadi rebutan warga.
Baca Juga: Jelang Maulid Nabi Muhammad SAW dan Siraman Gong Kyai Pradah, Alun-alun Lodoyo Blitar Mulai Ramai
Air Bekas Jamasan Tetap Jadi Magnet
Meski gunungan tidak dihadirkan, antusiasme masyarakat tidak surut. Air bekas jamasan Gong Kiai Pradah tetap menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan warga.
Sejumlah masyarakat rela berdesakan untuk mendapatkan air bekas siraman tersebut. Di tengah masyarakat, air jamasan dipercaya membawa berkah, terutama pada bulan Maulid.
Dinda tidak ikut berebut air jamasan karena harus mendampingi anak-anak sanggar. Namun, ia melihat langsung tingginya antusiasme warga yang tetap menunggu prosesi tersebut.
Kepercayaan masyarakat terhadap air bekas jamasan menjadi salah satu alasan ritual tersebut tetap memiliki daya tarik kuat.
Makna Tradisi Tetap Dipertahankan
Bupati Blitar Rijanto mengatakan, perubahan dalam kemasan acara tidak menghilangkan makna utama tradisi Jamasan Gong Kiai Pradah.
Baca Juga: Turnamen Tenis WWS Arena Diikuti 200 Peserta, Jadi Ajang Tambah Jam Terbang
Menurutnya, Siraman Gong Kiai Pradah merupakan tradisi yang tumbuh dari keguyuban masyarakat dan telah diwariskan secara turun-temurun.
Pemerintah daerah kemudian ikut hadir untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut di tengah perkembangan zaman.
Gong Kiai Pradah sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh pemerintah pusat. Status tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga tradisi agar tetap hidup dan dikenal masyarakat.
Antusiasme Warga Tetap Tinggi
Tidak hadirnya sejumlah elemen pendukung tidak serta-merta menghilangkan daya tarik Jamasan Gong Kiai Pradah. Ribuan masyarakat tetap datang dan mengikuti rangkaian kegiatan.
Antusiasme tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.
Jamasan Gong Kiai Pradah bukan hanya menjadi sebuah ritual tahunan, tetapi juga ruang pertemuan masyarakat dengan warisan budaya yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.
Dengan kemasan yang mengalami perubahan pada 2026, tradisi tersebut tetap menunjukkan daya tariknya. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar menjadi bukti bahwa keberadaan Gong Kiai Pradah dan tradisi jamasannya masih mendapat perhatian kuat dari warga. (jar/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan