Tingkatkan Kompetensi Guru Seni Budaya, MGMP Blitar Raya Dalami Teknik Batik Cap

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 10:10 WIB
HASIL KREATIVITAS: Kepala Cabdindik Wilayah Blitar, Dr Indiyah Nurhayati MPd, saat mengoleskan pewarna pada kain di Balai Kesenian Istana Gebang, Kota Blitar, Selasa (6/10).
HASIL KREATIVITAS: Kepala Cabdindik Wilayah Blitar, Dr Indiyah Nurhayati MPd, saat mengoleskan pewarna pada kain di Balai Kesenian Istana Gebang, Kota Blitar, Selasa (6/10).

BLITAR KAWENTAR – Upaya meningkatkan kompetensi guru seni budaya terus dilakukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMA dan SMK Blitar Raya. Salah satunya melalui pelatihan batik cap yang digelar di Balai Kesenian Istana Gebang, Kota Blitar, Selasa (6/10).

Kegiatan tersebut mengusung tema Melestarikan Warisan Budaya Bangsa. Sekitar 54 guru seni budaya dari wilayah Blitar Raya mengikuti pelatihan yang menggandeng galeri Batik Singodrono Blitar tersebut. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknik membatik, tetapi juga diajak langsung mempraktikkan pembuatan batik cap.

Pelatihan batik cap menjadi bagian dari upaya MGMP Seni Budaya SMA dan SMK Blitar Raya dalam memperkuat kompetensi guru seni budaya, khususnya di bidang kriya. Keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat diterapkan dan ditularkan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran di sekolah.

Baca Juga: Guru Hobi Menyanyi, Dwi Sumarsih Temukan Cara Lepas Penat dari Rutinitas Mengajar

Dorong Guru Terus Berinovasi

Pelatihan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan untuk menambah pengetahuan teknis. Para guru juga didorong menghasilkan karya melalui diskusi dan praktik bersama. Hasil dari kegiatan itu nantinya dapat dikembangkan menjadi materi pembelajaran yang lebih aplikatif bagi siswa.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Blitar, Dr Indiyah Nurhayati MPd, menegaskan pentingnya peran MGMP dalam mendorong perkembangan kompetensi guru. Menurutnya, organisasi profesi tersebut harus terus bergerak dan tidak berhenti pada pola pembelajaran yang sudah berjalan.

Baca Juga: PPG Guru Tertentu 2026: Lulus Administrasi, Ini Tahapan yang Harus Dilalui

“Bapak Ibu sekalian, saya ingin MGMP Blitar Raya itu hidup, enggak boleh tidur. Karena ilmu itu harus berkembang, harus berjalan menuju ke depan, nggak boleh berjalan mundur. Berjalan ke depan dan sekali waktu kita semua harus melompat, supaya cepat,” tegas Indiyah.

Pesan tersebut menjadi dorongan bagi para guru seni budaya untuk terus melakukan inovasi. Perkembangan kompetensi tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan metode pembelajaran yang telah ada, tetapi juga melalui keberanian mempelajari keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran.

Dalam konteks tersebut, teknik batik cap menjadi salah satu keterampilan kriya yang dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. Guru tidak hanya menyampaikan materi secara teori, tetapi juga memiliki bekal keterampilan yang dapat dipraktikkan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran.

Padukan Kekhasan Blitar dalam Motif Batik

Selain meningkatkan kemampuan teknis membatik menggunakan teknik cap, kegiatan tersebut juga membawa misi pelestarian budaya lokal. Salah satu yang dikembangkan adalah desain motif batik yang memadukan kekhasan Kabupaten dan Kota Blitar dengan empat unsur seni budaya dalam satu rancangan.

Upaya tersebut diharapkan dapat membuat pembelajaran seni budaya semakin dekat dengan lingkungan dan kekayaan budaya daerah. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenal batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa, tetapi juga memahami unsur lokal yang dapat dituangkan ke dalam sebuah karya.

MGMP Seni Budaya SMA dan SMK Blitar Raya berharap kegiatan pelatihan dapat melahirkan guru yang semakin terampil sekaligus kreatif. Kompetensi yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga materi kriya menjadi lebih aplikatif dan menarik bagi peserta didik.

Baca Juga: AI untuk Guru Bukan Pengganti Pendidik, Justru Bisa Bantu Buat Pembelajaran Lebih Efektif

Pembelajaran yang berbasis praktik juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas. Guru dapat mengarahkan peserta didik untuk mengenal proses berkarya sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Diharapkan Jadi Pemicu Kreativitas Guru

Kepala Sekolah Pembina dari SMAN 1 Kesamben, Budi Suryanto, turut mengapresiasi langkah yang dilakukan MGMP Seni Budaya Blitar Raya. Sebagai bagian dari MGMP Seni Budaya, dia menilai pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi para peserta.

Baca Juga: Short Course AI untuk Guru Digelar di Blitar, 50 Pendidik Bakal Dibekali Strategi Memanfaatkan Kecer

Menurut Budi, kegiatan seperti pelatihan batik cap penting untuk terus dikembangkan karena dapat menjadi ruang bagi guru untuk mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru. Hal itu sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas pembelajaran seni budaya di sekolah.

“Semoga langkah ini mampu menjadi pendorong kreativitas dan inovasi guru seni budaya,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, peningkatan kompetensi guru seni budaya tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknik membatik. Lebih dari itu, pelatihan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya melalui pendidikan. Guru yang semakin terampil dan kreatif diharapkan mampu meneruskan pengetahuan serta keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya.

Editor : Regina Gavin Agata
kompetensi guru seni budaya MGMP Blitar Raya batik cap guru seni budaya budaya lokal