Kebijakan tersebut sebelumnya disebut bertujuan memperluas akses peziarah sekaligus mendorong perekonomian daerah. Namun, sebagian pedagang menilai operasional MBK selama 24 jam belum sepenuhnya mempertimbangkan keberlangsungan usaha di kawasan sekitar.
Perwakilan pedagang MBK, Imam Muslimin, mengatakan pelaku usaha semestinya dilibatkan lebih matang sebelum kebijakan diterapkan. Menurutnya, pedagang memiliki kepentingan langsung terhadap perubahan pola kunjungan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Makam Bung Karno Kini Hidup 24 Jam, Ada Doa Bersama Tiap Jumat Legi dan Ahad Kliwon
"Kalau mau buat kebijakan itu mbok kita diajak ngomong dulu. Mau ada kebijakan di wilayah ini seperti apa, solusinya bagaimana. Jangan sampai sudah diputuskan, pedagang banyak yang keberatan tapi tetap dijalankan," ujarnya saat ditemui Selasa (6/10).
Imam menilai keberadaan MBK tidak bisa dipisahkan dari Perpustakaan dan Museum Bung Karno yang berada dalam satu kawasan. Selama ini, wisatawan diharapkan tidak hanya berziarah, tetapi juga mengunjungi fasilitas sejarah tersebut.
Dengan dibukanya MBK selama 24 jam, fasilitas penunjang seperti perpustakaan, museum, serta pasar oleh-oleh di bagian belakang kompleks tidak ikut beroperasi sepanjang malam. Kondisi itu dikhawatirkan mengurangi aktivitas ekonomi pedagang.
Baca Juga: Pedagang MBK Terdampak Layanan Makam Bung Karno 24 Jam, Pemkot Blitar Siapkan Sistem Giliran Jualan
Dampak serupa juga dikhawatirkan terjadi pada sektor penginapan dan destinasi wisata lain, termasuk Istana Gebang. Imam menyebut arus kunjungan wisatawan berpotensi lebih banyak terpusat di MBK.
Dari sisi operasional, pedagang juga harus menanggung tambahan biaya jika ingin membuka usaha hingga malam. Mulai dari upah tenaga kerja hingga penggunaan listrik. Sementara itu, peningkatan jumlah pembeli belum tentu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
"Pengunjung belum tentu datang. Pengunjung datang belum tentu beli," keluhnya.
Perubahan pola kunjungan rombongan bus pariwisata juga menjadi perhatian. Sebelumnya, rombongan yang datang malam hari biasanya beristirahat dan baru berbelanja pada pagi hari. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi pedagang oleh-oleh dan suvenir.
Namun, dengan MBK yang kini buka sepanjang malam, rombongan wisatawan dinilai bisa langsung berziarah tanpa perlu menunggu pagi. Hal itu dikhawatirkan mengurangi waktu wisatawan untuk berbelanja di sekitar kawasan.
Meski keberatan, para pedagang memilih menunggu hasil evaluasi kebijakan. Sebab, operasional MBK selama 24 jam masih dalam masa uji coba yang direncanakan berlangsung selama satu tahun.
Baca Juga: Makam Bung Karno Dibuka 24 Jam, Kunjungan Malam Tembus 2.529 Orang Selama Agustus
"Awal tahun depan akan kami sampaikan aspirasi lanjutan. Saat ini biar sama-sama mengkaji. Pemerintah mengkaji, kami para pedagang pun juga turut mengkaji," pungkas Imam.
Sementara itu, Pemerintah Kota Blitar masih memantau efektivitas kebijakan tersebut sebelum menentukan langkah selanjutnya. Sebelumnya, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menyebut pembukaan MBK selama 24 jam bertujuan memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk berziarah kapan saja.
"Ini untuk memfasilitasi peziarah yang datang ke Kota Blitar bisa menziarahi Bung Karno kapan pun. Mau pagi, siang atau malam, Pemerintah Kota Blitar layani," ujar Ibin saat membuka operasional 24 jam MBK pada Sabtu (15/8) lalu. (mg1/c1/ady)
Editor : Azahra Meilisani Salma