Evaluasi SOP SPPG di Kota Blitar Diperketat Imbas Dugaan Keracunan 22 Siswa, Dinkes Audit hingga Dis

M. Luki Azhari • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 10:17 WIB
Sejumlah wadah makanan disiapkan untuk mendukung proses pengolahan dan pendistribusian paket MBG.
Sejumlah wadah makanan disiapkan untuk mendukung proses pengolahan dan pendistribusian paket MBG.

BLITAR KAWENTAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan dan distribusi makanan pada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah tersebut dilakukan setelah dugaan keracunan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami 22 siswa.

Evaluasi SOP SPPG tidak hanya menyasar satu lokasi yang mengalami insiden. Dinkes Kota Blitar memastikan pembinaan dilakukan terhadap seluruh SPPG di wilayah Kota Blitar untuk memperketat pengawasan keamanan makanan yang diberikan kepada siswa penerima manfaat program MBG.

Plt Kepala Dinkes Kota Blitar Dissie Laksmonowati Arlini mengatakan, pembinaan ulang dilakukan secara menyeluruh. Bahkan, pemeriksaan terhadap SPPG yang mendapat penghentian sementara akan dilakukan kembali seperti saat awal operasional.

Baca Juga: Cegah Insiden Keracunan, Polisi Sidak SPPG di Kademangan dan Talun untuk Pastikan MBG Aman

Seluruh SPPG Jadi Sasaran Evaluasi

Evaluasi SOP SPPG dilakukan menyusul sanksi penghentian sementara atau suspend terhadap SPPG Cik Ditiro. Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan suspend operasional selama 20 hari sejak Kamis (17/9).

Kondisi tersebut membuat Dinkes Kota Blitar memperketat pengawasan teknis di lapangan. Seluruh tahapan produksi makanan akan ditinjau kembali, mulai dari proses pengelolaan bahan makanan hingga pendistribusian paket MBG kepada para penerima manfaat.

Baca Juga: 17 Sekolah dan 5 ILP di Kota Blitar Tak Terima MBG, SPPG Cik Ditiro Disuspend Usai Siswa Keluhkan Mu

Dissie menyebut pembinaan tersebut diperlukan untuk memastikan setiap pengelola SPPG menjalankan prosedur pengolahan makanan dengan benar. Review dilakukan agar standar keamanan pangan tetap terjaga sebelum makanan sampai kepada siswa.

“Langkah-langkah kita akan lakukan review kembali dalam pengelolaan makanan, sampai distribusi kita bina lagi pengelola yang baik bagaimana,” kata Dissie.

Cemaran Bakteri Jadi Perhatian

Upaya evaluasi dan penataan ulang SOP SPPG juga berkaitan dengan hasil pemeriksaan sampel makanan. Pengujian di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya mengonfirmasi adanya cemaran mikrobiologi berupa bakteri pada sampel yang diperiksa.

Dinkes kemudian menganalisis sejumlah faktor yang berpotensi memicu kontaminasi. Di antaranya kondisi kebersihan lingkungan dapur serta kepatuhan penjamah makanan atau food handler dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) selama proses pengolahan makanan.

Menurut Dissie, faktor kebersihan di lingkungan SPPG menjadi salah satu hal yang harus mendapat perhatian. Karena itu, pembinaan tidak hanya dilakukan terhadap SPPG yang mengalami insiden, tetapi diterapkan pada seluruh SPPG di Kota Blitar.

“Kemungkinan ada faktor fisik juga bisa, faktor kebersihan di lingkungan SPPG. Jadi, langkah kita sekarang lakukan pembinaan kepada SPPG, itu pun semua, tidak hanya di satu titik,” jelasnya.

Baca Juga: Izin Dapur MBG Jadi Atensi Utama, Pemkot Blitar Kawal Ketat 30 SPPG agar Sesuai Regulasi

Standar Kebersihan dan APD Diperketat

Melalui evaluasi menyeluruh tersebut, Dinkes Kota Blitar berkomitmen memperketat standar kebersihan lingkungan SPPG. Kedisiplinan para juru masak dalam menggunakan APD juga menjadi bagian dari pengawasan.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali dalam pelaksanaan program MBG. Pengawasan terhadap proses pengolahan hingga distribusi makanan menjadi penting karena makanan yang diproduksi SPPG dikonsumsi oleh siswa penerima manfaat.

Baca Juga: Siswa Diduga Keracunan MBG di Kota Blitar, SPPG Terancam Suspend dan Sampel Makanan Diperiksa

Sebelumnya, 22 siswa dari SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafidzoh mengalami gejala mual dan sakit perut setelah mengonsumsi paket MBG dari SPPG Cik Ditiro.

Seluruh siswa yang mengalami keluhan tersebut telah mendapatkan penanganan medis secara rawat jalan. Mereka juga diperbolehkan pulang pada hari yang sama setelah mendapat penanganan.

Dengan evaluasi SOP SPPG yang diterapkan di seluruh wilayah Kota Blitar, Dinkes berharap pengelolaan makanan dalam program MBG dapat berjalan lebih aman. Pembinaan dan pengawasan akan menjadi bagian penting untuk memastikan standar kebersihan, pengolahan, hingga distribusi makanan dipatuhi oleh setiap pengelola SPPG.

Editor : Regina Gavin Agata
SPPG Kota Blitar evaluasi SOP SPPG dugaan keracunan Mbg dinkes kota blitar