BLITAR KAWENTAR - Bagi Widyo Dimas Triarung Samudro, atau yang akrab disapa Dimas Samudro, menjalani perjalanan menarik di usia 26 tahun hingga ke luar negeri adalah sangat membanggakan.
Di tengah kesibukannya sebagai pekerja dan mahasiswa, Dimas juga aktif dalam organisasi serta memiliki pengalaman merantau dan menjalani kehidupan di luar negeri.
Pengalaman tersebut perlahan membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan, generasi muda, dan masa depan Indonesia. Lahir dari keluarga Jawa dengan sang ayah yang merupakan putra daerah Blitar, Dimas memiliki kedekatan dengan wilayahnya. Blitar dan sejumlah daerah di Jawa Timur menjadi bagian penting dari latar belakang serta perjalanan hidupnya.
Baca Juga: Revitalisasi Pasar Legi Blitar Disorot Pedagang, Konsep Hall Lantai II Dipertanyakan
Namun, pengalaman merantau membuat pandangan Dimas tidak berhenti pada lingkungan tempat ia tumbuh. Belajar dari pengalaman di luar negeri membuat wawasan lebih luas.
“Saya bisa belajar dan bertemu dengan lingkungan, budaya, serta pola pikir yang berbeda dari yang selama ini dikenalnya,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa anak muda Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global.
Baca Juga: Vape Dianggap Lebih Aman dari Rokok Biasa, Dokter Paru Blitar Ungkap Risikonya
“Menurut saya, anak-anak muda di Indonesia punya potensi yang luar biasa. Yang penting adalah bagaimana mereka mendapatkan kesempatan, informasi, dan keberanian untuk mencoba,” ujar Dimas.
Dia menilai pengalaman internasional tidak harus selalu dimaknai sebagai keinginan untuk meninggalkan Indonesia. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk membawa perspektif baru ketika kembali berkontribusi di Tanah Air.
Tak hanya itu, pengalamannya ini juga mendorong anak muda untuk memiliki international mindset, khususnya dalam dunia pendidikan, yang menjadi salah satu hal utama yang menjadi perhatiannya dalam perjalanannya.
Baca Juga: Mutasi Pejabat Pemkab Blitar Digelar Hari Ini, Sejumlah Jabatan Strategis Jadi Sorotan
“Saya memiliki keinginan agar semakin banyak anak muda Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari daerah, memiliki wawasan mengenai pendidikan di luar negeri,” bebernya.
Menurut Dimas, akses terhadap informasi dan pengalaman sering kali membuat perbedaan besar dalam menentukan seberapa jauh seseorang berani bermimpi.
“Kadang bukan karena mereka tidak mampu. Bisa jadi mereka belum tahu bahwa kesempatan itu ada,” katanya.
Baca Juga: Kotoran Burung Penuhi Jalan Protokol Kota Blitar, Pembersihan Mandek Sebulan
Karena itu, Dimas ingin ikut mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki international mindset, generasi yang mengenal dunia, berani belajar dari berbagai tempat, tetapi tetap memiliki keinginan untuk berkontribusi bagi negerinya.
Gagasan tersebut juga mendorongnya untuk memiliki rencana membangun yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Melalui wadah tersebut, ia ingin membantu sekaligus memotivasi anak-anak Indonesia agar lebih berani melanjutkan pendidikan dan mengejar kesempatan yang lebih luas.
Perjalanan Dimas tidak lepas dari aktivitas organisasi. Dia aktif dalam TIDAR dan saat ini dipercaya sebagai Ketua TIDAR Germany. Baginya, pengalaman berorganisasi memberikan pelajaran yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas.
Baca Juga: 10 HP Terbaik untuk Multitasking 2026 Harga Rp2 Jutaan, Ada RAM 8 GB dan Baterai Jumbo
Bekerja bersama orang dengan latar belakang berbeda, membangun komunikasi, menyusun kegiatan, hingga mengambil tanggung jawab menjadi bagian dari proses yang menurutnya penting bagi perkembangan orang muda.
“Organisasi mengajarkan saya bahwa kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bisa mendengar, berdiskusi, dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita mulai,” tuturnya.
Meski aktif dalam organisasi, ia melihat proses belajar sebagai sesuatu yang terus berlangsung. Menurutnya, jabatan atau posisi bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses untuk terus berkembang.
Baca Juga: 10 HP Terbaik untuk Multitasking Harga Rp2,5–3 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.500 mAh
Di luar aktivitas pekerjaan, kuliah, dan organisasi, ada satu rutinitas yang cukup konsisten dijalaninya, yakni berolahraga. Ia terbiasa berolahraga setelah Subuh, salah satunya dengan jogging. Bagi Dimas, olahraga bukan hanya persoalan kesehatan fisik. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga disiplin.
“Tiga nilai yang selalu saya pegang dalam kehidupan, yaitu kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab,” akunya.
Nilai-nilai tersebut menurutnya penting bukan hanya untuk mencapai keberhasilan pribadi, tetapi juga ketika seseorang mulai dipercaya dan diberi tanggung jawab yang lebih besar.
Sebagai bagian dari generasi muda, Dimas melihat bahwa anak muda perlu memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang dan menyampaikan gagasan.
Baca Juga: Revitalisasi Pasar Legi Blitar Disorot Pedagang, Konsep Hall Lantai II Dipertanyakan
Dia percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari kemauan seseorang untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat di lingkungan sekitarnya.
Pengalaman sebagai mahasiswa, pekerja, perantau, dan organisator menjadi bagian dari proses yang terus membentuk dirinya.
Ke depan, Dimas ingin membawa lebih banyak perhatian pada persoalan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, terutama bagaimana anak-anak muda di daerah dapat memiliki akses terhadap informasi dan kesempatan yang lebih luas.
Baca Juga: Mutasi Pejabat Pemkab Blitar Digelar Hari Ini, Sejumlah Jabatan Strategis Jadi Sorotan
Perjalanan Mas Dimas Samudro masih panjang. Di usia 26 tahun, ia masih terus belajar, bekerja, berorganisasi, dan membangun pengalaman. Namun, ada satu gagasan yang tampaknya menjadi benang merah dari perjalanan tersebut: pengalaman akan memiliki arti lebih besar ketika dapat dibagikan dan memberikan kesempatan kepada orang lain.
Dari Indonesia , merantau hingga ke luar negeri, mas Dimas kini ingin melihat lebih banyak anak muda Indonesia berani memiliki mimpi yang lebih jauh—tanpa harus kehilangan akar dan kepedulian terhadap daerah asal. (ed1/jar/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah