Harga Tepung Terigu Naik Jadi Rp 229 Ribu per Sak, Pedagang Mi dan Roti Blitar Bertahan

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Harga Tepung Terigu Naik Jadi Rp 229 Ribu per Sak, Pedagang Mi dan Roti Blitar Bertahan
Harga Tepung Terigu Naik Jadi Rp 229 Ribu per Sak, Pedagang Mi dan Roti Blitar Bertahan

BLITAR – Kenaikan harga tepung terigu dan margarin dalam beberapa bulan terakhir menambah beban biaya produksi pelaku usaha kuliner di Kota Blitar. Meski demikian, sejumlah produsen mi dan roti rumahan memilih tidak menaikkan harga jual maupun mengurangi takaran bahan baku demi mempertahankan kualitas produk dan kepercayaan pelanggan.

Harga tepung terigu saat ini berada di kisaran Rp 228 ribu hingga Rp 229 ribu per sak berisi 25 kilogram. Padahal, pada Agustus lalu, harga bahan baku tersebut masih berkisar Rp 220 ribu hingga Rp 223 ribu per sak dengan ukuran yang sama.

Kenaikan yang berlangsung bertahap itu tetap dirasakan oleh pelaku usaha, terutama mereka yang menggunakan tepung terigu dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan produksi harian.

Baca Juga: 10 HP Terbaik untuk Multitasking Harga Rp2,5–3 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.500 mAh

Afico Ramadani, pemilik usaha Bakmi Teman Jalan di Kota Blitar, menjadi salah satu pelaku usaha yang menghadapi kondisi tersebut. Sebagai produsen mi rumahan, dia menggunakan tepung terigu sebagai bahan baku utama untuk membuat mi yang disajikan kepada pelanggan.

Berbeda dengan pedagang yang mengandalkan mi siap pakai dari pemasok, Afico memproduksi sendiri mi untuk menu dagangannya. Karena itu, perubahan harga tepung terigu turut memengaruhi perhitungan biaya produksi usahanya.

“Selama ini, saya membeli tepung terigu dalam kemasan 25 kilogram untuk menunjang proses pembuatan mi,” ungkap Afico.

Baca Juga: Kotoran Burung Penuhi Jalan Protokol Kota Blitar, Pembersihan Mandek Sebulan

Dengan harga yang kini mencapai Rp 229 ribu per sak, biaya yang harus disiapkan untuk membeli bahan baku ikut bertambah. Namun, Afico memilih tidak mengurangi takaran bahan maupun menaikkan harga mi yang dijualnya.

Bagi dia, menjaga kualitas menjadi pertimbangan penting agar pelanggan tetap mendapatkan mi dengan cita rasa yang konsisten. Kenaikan harga bahan baku tidak lantas membuatnya mengubah racikan yang selama ini menjadi bagian dari produk usahanya.

Tantangan serupa juga dirasakan Fajarul Ulum, pelaku usaha kue rumahan. Dia mengakui adanya kenaikan harga tepung terigu, meski dampaknya terhadap biaya produksi usahanya tidak terlalu besar.

Baca Juga: Cerita Perjuangan Duta Lingkungan Indonesia asal Kota Blitar Bangun Bisnis di Bidang Pendidikan

Menurut Fajarul, tepung terigu bukan satu-satunya bahan penting dalam pembuatan roti. Ada bahan pendukung lain, seperti telur, margarin, dan mentega, yang turut menentukan hasil akhir produk.

Di antara sejumlah bahan tersebut, kenaikan harga margarin justru menjadi salah satu beban yang lebih terasa bagi usahanya.

Saat ini, harga margarin mencapai sekitar Rp 400 ribu per dus berisi 15 kilogram. Sebelumnya, bahan tersebut masih dijual di kisaran Rp 370 ribu untuk ukuran kemasan yang sama.

Baca Juga: 10 HP Terbaik untuk Multitasking Harga Rp2 Jutaan, Ada Baterai 7.500 mAh

Kenaikan itu menambah pengeluaran yang perlu diperhitungkan dalam proses produksi. Fajarul menduga perubahan harga margarin berkaitan dengan kenaikan harga minyak kelapa sawit.

Meski menghadapi tambahan biaya, dia tetap memilih mempertahankan harga jual roti sekaligus menjaga kualitas produk. Keputusan tersebut diambil agar konsumen tetap mendapatkan produk dengan kualitas yang selama ini dipertahankan.

Kenaikan harga tepung terigu juga dibenarkan Fonny, salah satu pedagang bahan kue di Kota Blitar. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari distributor, kenaikan harga tepung terigu diduga dipengaruhi oleh meningkatnya harga bahan baku utama tepung, yakni biji gandum.

Baca Juga: Mutasi Pejabat Pemkab Blitar Digelar Hari Ini, Sejumlah Jabatan Strategis Jadi Sorotan

Meski harga mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir, Fonny menyebut aktivitas penjualannya masih berjalan seperti biasa. Dia tetap membeli stok dalam jumlah yang sama dan berupaya memenuhi kebutuhan konsumen.

Konsumen yang dilayani antara lain produsen kue yang mengandalkan tepung terigu untuk menjalankan kegiatan usaha mereka. Ketersediaan bahan baku menjadi hal penting agar proses produksi para pelaku usaha tersebut tetap berlangsung.

Bagi produsen mi dan roti rumahan, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang harus dihadapi tanpa mengorbankan kualitas produk. Mempertahankan harga jual menjadi pilihan, meski tambahan biaya produksi berpotensi mempersempit ruang keuntungan.

Di tengah perubahan harga bahan baku, konsistensi cita rasa dan kepercayaan pelanggan tetap menjadi pertimbangan utama. Sebab, bagi pelaku usaha kuliner skala rumahan, mempertahankan pelanggan tidak hanya bergantung pada harga, tetapi juga kualitas produk yang mereka terima.

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
Bakmi Teman Jalan Harga Tepung Terigu Naik Usaha Roti Rumahan harga bahan pokok umkm blitar