BLITAR – Pasar Legi Blitar yang pernah menjadi pusat perdagangan terbesar sekaligus ikon perekonomian Kota Blitar, kini tengah berjuang bangkit setelah dihantam kebakaran hebat pada 2016, pandemi Covid-19, hingga perubahan pola belanja masyarakat. Revitalisasi kembali dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar pada 2026 dengan anggaran sekitar Rp 624 juta. Namun, para pedagang berharap pembenahan kali ini tidak hanya mempercantik bangunan, tetapi juga mampu menghidupkan kembali aktivitas jual beli di seluruh area pasar.
Jejak perdagangan Pasar Legi telah dimulai sejak 1911, ketika kawasan tersebut menjadi salah satu pusat perdagangan tradisional di Kota Blitar. Seiring perkembangan zaman, fasilitas pasar mengalami pembenahan dan perluasan pada 1977 serta 1999 untuk menampung pertumbuhan jumlah pedagang.
Masa kejayaan Pasar Legi mencapai puncaknya pada periode 2000–2007 setelah Pemkot Blitar membangun pasar semi-modern dua lantai. Saat itu, Pasar Legi menjadi tujuan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan hingga sandang.
Baca Juga: Malam Penuh Haru Kaji Dim, Kenangan Sang Ibu dan Perjuangan 22 Tahun Lestari Sadean
Perputaran uang di pasar tersebut terbilang tinggi. Distribusi komoditas pertanian bahkan menjangkau sejumlah daerah, seperti Tulungagung, Kediri, dan Malang. Ratusan kios di lantai satu dan dua dipenuhi aktivitas perdagangan setiap harinya.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Legi, Suhani, 63, yang telah berdagang sejak 1985, masih mengingat masa kejayaan tersebut. Menurutnya, Pasar Legi bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan ikon Kota Blitar yang dikenal luas hingga luar daerah.
"Pasar Legi dulu bak primadona. Pembeli dan pedagang yang datang banyak juga yang dari luar kota. Pasar Legi ini jadi jujugan utama dan ikon Kota Blitar," ujarnya.
Baca Juga: Mutasi 120 ASN Kabupaten Blitar Berlanjut, Bupati Rijanto Ungkap Alasan Penyegaran Jabatan
Kejayaan Pasar Legi mulai menghadapi ujian besar pada Selasa, 12 Juli 2016. Kebakaran hebat yang terjadi sekitar pukul 16.00 WIB meludeskan hampir seluruh bangunan pasar dua lantai.
Sempitnya lorong dan banyaknya material yang mudah terbakar membuat api sulit dikendalikan. Proses pemadaman berlangsung hingga sekitar 11 jam dan baru berhasil dijinakkan pada Rabu dini hari. Puluhan mobil pemadam kebakaran dari Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kediri, dan Tulungagung dikerahkan untuk mengatasi kebakaran tersebut.
Sedikitnya 900 kios hangus terbakar. Tragedi itu melumpuhkan aktivitas ekonomi ratusan pedagang yang menggantungkan penghasilan dari pasar tersebut.
Suhani menilai penanganan awal pascakebakaran, terutama terkait rencana revitalisasi, sempat berjalan lambat. Kondisi itu membuat sebagian usaha pedagang semakin meredup. Tekanan kembali bertambah ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020 hingga pertengahan 2022, disertai perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin terbiasa berbelanja secara daring.
Pemkot Blitar sempat membangun deretan kios baru di lantai dua sekitar 2021 dengan fasilitas travelator dan investasi mencapai Rp 7,4 miliar. Keringanan retribusi juga diberikan kepada pedagang. Namun, kios-kios tersebut tetap sepi pembeli dan sebagian ditinggalkan pemiliknya karena pendapatan tidak mampu menutup biaya operasional.
Sepinya Pasar Legi Blitar turut dirasakan Supinah, 55, pedagang warung makan yang meneruskan usaha orang tuanya sejak 2005. Setiap hari, ia mulai beraktivitas pukul 06.00 WIB setelah berbelanja bahan baku untuk memasak.
Baca Juga: Pertalite Cepat Habis di Blitar, SPBU Kini Hanya Terima 8.000 Liter per Kiriman
Namun, pelanggan yang datang kini mayoritas merupakan pelanggan lama, termasuk tukang becak. Kehadiran pembeli baru semakin jarang, sehingga pendapatan harian sulit diandalkan.
Supinah menyebut periode 2024 hingga 2026 sebagai masa paling sepi selama menjalankan usahanya. Bahkan, momentum Ramadan yang dahulu bisa mendongkrak omzet kini tidak lagi memberikan peningkatan berarti.
Pendapatan harian terkadang hanya sekitar Rp 150 ribu. Uang tersebut sering kali habis untuk membeli bahan baku berikutnya, bahkan ia harus menggunakan uang simpanan rumah tangga ketika pendapatan tidak mencukupi. Kenaikan harga bahan pokok turut mempersempit keuntungan usahanya.
Baca Juga: 8 HP Flagship 2026 Paling Worth It, Realme hingga Samsung dengan Spesifikasi Premium
Ia berharap upaya meramaikan pasar juga menyentuh pedagang di lantai dasar. Menurutnya, kegiatan atau acara yang hanya berpusat di lantai dua belum tentu meningkatkan penjualan pedagang yang beroperasi sejak pagi hingga sore.
Pada 2026, Pemkot Blitar kembali menyiapkan pembenahan Pasar Legi dengan anggaran sekitar Rp 624 juta. Program tersebut mencakup pembongkaran sekat pada 210 kios di lantai dua. Area tengah lantai atas direncanakan menjadi hall terbuka multifungsi untuk menarik generasi muda dan kegiatan komunitas.
Suhani menyambut rencana tersebut dengan harapan besar, tetapi mengingatkan agar revitalisasi dilakukan secara matang, terukur, dan memiliki konsep yang jelas. Ia juga berharap pedagang yang terdampak kebakaran 2016 kembali mendapatkan fasilitas untuk menjalankan usaha.
Bagi para pedagang, kebangkitan Pasar Legi bukan hanya soal bangunan baru atau ramainya acara. Hal terpenting adalah mengembalikan pembeli, memperbaiki perputaran ekonomi, dan memastikan manfaat revitalisasi dirasakan pedagang di seluruh bagian pasar.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha