Fogging Masuk Sekolah di Kota Blitar, Dinkes Ungkap Fakta di Balik Antisipasi DBD dan Tren Kasus yan

Noormalady Usman • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:00 WIB
ANTISIPASI: Seorang petugas fogging di area lingkungan TKN Bendogerit untuk memberantas nyamuk, kemarin (14/10).
ANTISIPASI: Seorang petugas fogging di area lingkungan TKN Bendogerit untuk memberantas nyamuk, kemarin (14/10).

BLITAR KAWENTAR - Fogging DBD mulai menyasar lingkungan sekolah di Kota Blitar sebagai langkah antisipasi menjelang masa penularan demam berdarah dengue (DBD). Kegiatan pengasapan yang dilakukan sejak September 2026 tersebut menyasar sejumlah sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga SMA/SMK.

Salah satu pelaksanaannya berlangsung di SDN 1 Bendogerit dan TKN Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, pada Rabu (14/10). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar menegaskan, kegiatan fogging tersebut bukan karena ditemukan kasus baru DBD di lokasi, melainkan sebagai upaya mengendalikan populasi nyamuk dewasa dan meminimalkan risiko penularan.

Pantauan di lapangan menunjukkan petugas dari Puskesmas Sananwetan menyisir area sekolah, mulai dari ruang kelas hingga halaman, untuk melakukan pengasapan menggunakan insektisida. Selama kegiatan berlangsung, pihak sekolah meliburkan seluruh siswa demi mendukung kelancaran pelaksanaan fogging.

Baca Juga: Evaluasi SOP SPPG di Kota Blitar Diperketat Imbas Dugaan Keracunan 22 Siswa, Dinkes Audit hingga Dis

Fogging Dilakukan Serentak di Lingkungan Sekolah

Koordinator DBD Puskesmas Sananwetan, Irene Cosmalinda Agatha, menjelaskan bahwa pengasapan di lingkungan sekolah dilakukan secara serentak oleh tiga puskesmas di Kota Blitar sejak September lalu.

Menurut Irene, kegiatan tersebut merupakan langkah antisipasi menjelang periode penularan DBD. Fogging ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa yang berpotensi menjadi penular penyakit.

Baca Juga: Capaian BIAS Kabupaten Blitar Belum Tembus Target, Dinkes Terus Pacu Vaksinasi Siswa

Dia menegaskan, pelaksanaan fogging di sekolah bukan berarti terdapat temuan kasus DBD baru di lingkungan tersebut. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan nyamuk sekaligus menekan risiko penularan penyakit yang dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa.

Meski demikian, Irene mengingatkan bahwa fogging bukan satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran DBD. Pengasapan perlu diimbangi dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat dan warga sekolah.

3M Plus Tetap Menjadi Pencegahan Utama

Irene menyebut, gerakan PSN melalui 3M Plus tetap menjadi langkah utama dalam mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Masyarakat diimbau membersihkan, menguras, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air.

Selain itu, lingkungan sekolah perlu dijaga agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Pemeriksaan secara berkala terhadap bak air, wadah terbuka, dan barang-barang yang dapat menampung air menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Tempat penampungan air yang tidak terawat berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk. Karena itu, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan perlu diterapkan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati, menyampaikan bahwa program fogging pra-penularan tersebut difokuskan pada lingkungan sekolah, bukan permukiman umum.

Baca Juga: Kasus ISPA di Jawa Timur Naik, Dinkes Kota Blitar Tingkatkan Kewaspadaan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergantian oleh petugas puskesmas. Hal ini karena tenaga kesehatan juga menjalankan sejumlah program lain, termasuk skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak sekolah.

Kasus DBD Kota Blitar Turun Menjadi Dua Kasus

Di tengah pelaksanaan fogging, Dinkes Kota Blitar mencatat penurunan jumlah kasus DBD. Berdasarkan data yang disampaikan Silvia, sepanjang 2025 terdapat 49 kasus DBD dengan satu korban meninggal dunia.

Baca Juga: Kasus ISPA di Jawa Timur Naik, Dinkes Kota Blitar Tingkatkan Kewaspadaan

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Sananwetan mencatat kasus terbanyak, yakni 24 kasus. Selanjutnya, Kecamatan Sukorejo mencatat 14 kasus, sedangkan Kecamatan Kepanjenkidul sebanyak 11 kasus.

Data tersebut menunjukkan bahwa Sananwetan menjadi wilayah dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Kota Blitar sepanjang 2025. Silvia juga menyebut sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 5–14 tahun, sehingga upaya perlindungan anak usia sekolah tetap menjadi perhatian.

Sementara itu, selama periode Januari hingga Oktober 2026, jumlah kasus DBD di Kota Blitar tercatat turun menjadi dua kasus. Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Namun, kondisi itu tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan upaya pencegahan. Silvia mengingatkan warga agar tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan cuci tangan.

Masyarakat Diminta Tidak Lengah

Silvia menambahkan, barang-barang yang berada di tempat terbuka dan berpotensi menampung air sebaiknya ditutup atau dibalik. Wadah air juga perlu dibersihkan secara rutin karena nyamuk dapat berkembang biak di tempat penampungan air bersih.

Konsistensi menerapkan 3M Plus menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga lingkungan tetap sehat. Upaya tersebut perlu dilakukan bersama oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat agar risiko penularan DBD dapat ditekan.

Dinkes Kota Blitar berharap langkah antisipasi melalui fogging dan pemberantasan sarang nyamuk dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, penurunan kasus DBD dapat dipertahankan sekaligus mengurangi risiko penularan, khususnya di lingkungan yang banyak dihuni anak-anak.

Editor : Regina Gavin Agata
3M Plus Pemberantasan Sarang Nyamuk dbd kota blitar Fogging DBD dinkes kota blitar